Pulanglah, Nak

Bagi seorang ibu, melepaskan anaknya untuk menjalani tahapan hidup adalah sesuatu yang cukup berat. Terlebih jika tahapan hidup itu membuat ibu dan anak berpisah sedemikian jauh.

image

Meski tak jarang ayah menyembunyikan air mata melepaskan anaknya pergi, tapi seorang ibu lebih sering menyembunyikan rasa demi mengalirkan kekuatan pada sang anak bahwa “semua akan baik-baik saja”.


Bagi seorang ibu, setiap fase kehidupan adalah perjuangan melepaskan yang menyakitkan tapi harus tetap dijalankan. Ketika terbiasa dengan kehamilan, kemudian melepas masa hamil ke masa menyusui selepas proses kelahiran. Yang biasanya terasa setiap gerakan di dalam diri sang ibu, ia kemudian membiasakan diri dengan kehadiran si kecil dan menikmati masa menyusui.

2 tahun berlalu, saatnya masa menyusui diakhiri. Bukan hal yang mudah melepas masa indah menyusui. Rasanya seperti ada yang hilang. Itu kenapa beberapa ibu mengatakan “belum bisa ikhlas melepas dia ga nyusu lagi”.

Usai masa menyusui, muncullah kelak masa anak semakin menjaga jaraknya dengan kita. Bukan tak lagi dekat, hanya saja ia semakin mandiri dalam hidupnya. Sebuah pencapaian yang membahagiakan tapi sekaligus menata hati karena tak lagi seperti saat ia bayi.

Ketika fase sekolah tiba, melepas anak ke sekolah sendiri pun menjadi perjuangan yang cukup menyita rasa. Tapi fase ini tetap harus dijalani.

Seorang ibu yang seringkali terlibat langsung dalam setiap fase pertumbuhan anak menjadi satu-satunya yang paling merasakan perubahan dan pelepasan dari fase satu ke fase lainnya. Kadang muncul rasa rindu akan masa lalu.

Kemudian ketika sang anak beranjak dewasa dan memutuskan pergi jauh demi menggapai cita, adalah proses pelepasan lainnya yang harus dialami sang ibu. Tentu ia takkan melarang sang anak pergi karena rasa sayangnya tak hanya membuat ia harus terikat tapi juga melepas.

Tiba saatnya sang anak memperoleh pasangan dan menikah. Jarak seperti semakin menjauh. Rasa rindu semakin menggebu.

Tak lagi didapati ia anak kita, tapi ia adalah suami seseorang dan ayah dari anak-anaknya. Ia telah tumbuh dewasa. Ada rasa bangga, dan semua rasa berpadu berirama.

Jika saya yang baru mengalami beberapa fase saja sudah begitu merindukan ketika anak lelaki saya tumbuh dalam dekapan, apalagi para ibu yang anak lelakinya sudah sampai tahap memiliki keluarga sendiri.

Ada setangkup rindu yang mungkin tak terucap. Hanya doa yang sering mereka sampaikan. Tanpa sepatah kata mencoba memberitahukan bahwa rasa rindu itu ada. Berharap anak lelaki mereka pulang dengan membawa cinta, hanya untuknya.

Maka pulanglah wahai para lelaki, ke pangkuan ibumu sesekali. Sendiri. Kemudian sampaikanlah baktimu, katakanlah bahwa engkau mencintai ibumu. Bahwa engkau masih anaknya, yang akan selalu ada untuk berbakti padanya meski kini engkau adalah seorang suami dan seorang ayah..

Izinkan ibumu menikmati lagi waktu bersamamu, saling melayani layaknya dulu. Meski hanya 1x dalam sewindu. Yakinlah bahwa kebahagiaan yang tercipta akan berkesan selalu.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s