Semoga Menjadi Pelajaran

Sore tadi ketika dapat kabar bahwa suami tidak memungkinkan pulang dari luar kota, yang pertama kali dipikirkan adalah manajemen emosi. Heuheu. Karena jadi bikin campur aduk.

Yang kemudian terpikir adalah bagaimana sahurnya anak-anak. Kalau bicara tentang ditinggal berdua, ini bukanlah pengalaman pertama. Tapi karena ada agenda sahur, justru hal ini yang dikhawatirkan. Bukan tentang makannya apa karena mereka sudah bisa menyiapkan makanan sendiri melainkan apakah mereka bisa bangun sendiri jauh sebelum shubuh untuk masak dll.

Baca lebih lanjut

Pasangan yang Mau Diajak Bertumbuh

Beberapa waktu ke belakang seolah sedang diingatkan kembali tentang dunia pernikahan. Tiba-tiba masuk curhatan single lillah lah, curhatan istri lah, curhatan tentang keluarga lah, dll. Tambah lagi celetukan dan diskusi terkait pernikahan dan pemilihan pasangan.

Ini mah murni opini saya pribadi. Meskipun ya berdasarkan apa-apa yang saya perhatikan dari beragam diskusi, bacaan, pengalaman diri dan sekitar dengan bermacam latar belakang.

Nah.. ada pernyataan menarik yang mengundang kontroversi dari berbagai pihak. Kalimat itu adalah: “carilah pasangan yang mau diajak susah”.

Baca lebih lanjut

Pertolongan Allah itu Unpredictable

Ketika bertekad untuk tetap masak di ramadhan ini (dan dengan idealisme mesti ada menu sayur di dalamnya), Allah takdirkan dapat amanah mendampingi peserta sanlat dan tentu saja tetap ada jadwal KBM di tempat berkhidmat. Sempat coba merencanakan dengan semaksimal mungkin sebelum Ramadhan tiba tapi di hari pertama shaum, rupanya fisik masih penyesuaian. Lemes banget. Alhasil hanya sanggup masak untuk sahur dan buka. Tak sempat ber-food-prep ria untuk yang berikutnya.

Hari pertama sanlat, alhamdulillah kondisi fisik aman tapi akhirnya mengalami kebingungan karena nyatanya food prep belum bisa bener-bener jalan akibat kondisi fisik yang perlu rehat juga setelah agenda itu. Alhamdulillah sempat masak dulu meski hanya satu jenis, dan lauk pendamping akhirnya beli qadarullah.

Baca lebih lanjut

Bukan Kebetulan

Bukan sebuah kebetulan ketika Allah memperjalankan kita pada satu takdir menuju takdir yang lain. Pun dengan beragam keputusan yang kita ambil dan menjadi takdir.

Jika kita perhatikan kembali, semua jalur yang kita lalui sebetulnya sedang mempersiapkan diri untuk menjalankan peran sebagai seorang khalifah dan seorang hamba. Dalam ibadah-ibadah apa saja kita bisa mempersembahkan yang terbaik, dalam peran di bidang apa saja kita disiapkan Allah untuk memerankannya dengan optimal.

Mungkin ada kalanya berat terasa. Akan tetapi apapun jalur yang dipilih, tetap akan ada rasa tidak nyaman. Tetap perlu upaya-upaya yang tak mudah. Bahkan sekadar diam rebahan nggak ngapa-ngapain pun, lama-lama akan lelah juga.

Baca lebih lanjut

Filosofi Rumah Tangga – Sebuah Renungan Sederhana

Sebuah Renungan Sederhana (dan singkat)

Saya belum nemu sih sejarah kenapa pernikahan disebut dengan rumah tangga. Belum mencari lebih jauh juga filosofi asli dll-nya. Belum lagi kalau sudah menggunakan istilah “bahtera”.

Tapi.. jadi merenung aja. Kenapa menggunakan istilah rumah dan tangga. Apakah karena dulu banyak rumah panggung? Wallahu a’lam 😀

Eh tapi rumah tangga tidak selalu berbicara tentang keluarga sih. Kalau di KBBI memang rumah tangga itu identik dengan hal-hal yang berhubungan dengan urusan kehidupan dalam rumah maupun berkenaan dengan keluarga. Akan tetapi, di Wikipedia pengertian rumah tangga sangatlah luas.

Yaahh. Akhirnya mah.. Namanya juga rumah tangga. Di rumah, kita menapaki setiap anak tangga. Tujuannya ke posisi yang lebih tinggi tentu saja. Kan membangun rumah tangga. Kalau ke bawah, istilahnya menuruni anak tangga 😛

Dan menaiki tangga, tentu perlu upaya yang besar untuk naik ke atas atau kadang mengalami pengalaman tidak nyaman. Mungkin tersandung sampai terkena tulang kering yang nyut-nyutannya luar biasa (ini mah pengalaman kaki pernah kejedot tangga mushalla pas SMA dulu), mungkin juga melirik tangga lain yang kayaknya enak jalannya, atau sekadar menikmati tangga dengan duduk-duduk di anak tangganya. Tapi perlu diingat bahwa kita di tangga bukan buat sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan ya. Tetap harus naik lagi ke atas. Jangan terlena dengan indahnya pemandangan yang kita lihat dari anak tangga yang sedang ditapaki. Sadar belum sampai ke atas woy! 😀

Sehingga setiap anggota rumah tangga perlu terus meningkatkan kapasitas diri. Terus naik ke atas. Setiap kita perlu memperhatikan agar senantiasa lebih baik dari hari ke hari. Terus upgrade diri dan semakin dekat pada Allah setiap detik.

Menaiki tangga juga perlu jelas dulu tujuannya kemana. Kita tidak bisa asal naik tangga. Pastikan tangga yang dinaiki ini benar, jangan sampai sudah susah-susah naik eh ternyata salah alamat.

Maka mari kita tentukan rumah tangga ini mau tertuju kemana. Komunikasikan dengan sang imam, atas yang kita tuju itu surga yang mana? Tinggi setiap anak tangga yang akan ditapaki itu ukurannya cukup atau perlu disesuaikan?

Akhirul kalam.. sebagaimana status Whatsapp saya pagi ini:

Namanya juga rumah tangga, kita nikmati proses dalam setiap menapaki anak tangga. Tujuannya ke atas: surga.

Esa Puspita

Wallahu a’lam.