Pasangan yang Mau Diajak Bertumbuh

Beberapa waktu ke belakang seolah sedang diingatkan kembali tentang dunia pernikahan. Tiba-tiba masuk curhatan single lillah lah, curhatan istri lah, curhatan tentang keluarga lah, dll. Tambah lagi celetukan dan diskusi terkait pernikahan dan pemilihan pasangan.

Ini mah murni opini saya pribadi. Meskipun ya berdasarkan apa-apa yang saya perhatikan dari beragam diskusi, bacaan, pengalaman diri dan sekitar dengan bermacam latar belakang.

Nah.. ada pernyataan menarik yang mengundang kontroversi dari berbagai pihak. Kalimat itu adalah: “carilah pasangan yang mau diajak susah”.

Kalimat yang seolah indah tapi jika ditelusuri lagi, nampaknya ada doa dan kalimat yang bisa bermakna lebih baik. Serta ada nasihat Rasulullah yang nampaknya lebih pas untuk direnungkan.

Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari no. 4700)

Dari beragam bahasan tentang hadits itu, intinya sih yang paling bagus agamanya perlu dipilih karena yang beneran paham agama itu siap dengan beragam ilmu dan perbaikan. Mereka yang paham agama insyaallah siap tetap qanaah saat susah dan tawadhu saat mudah dan berlimpah. Tahu ilmunya dan siap mempraktekkannya. Kan “pilih karena agama” bukan “karena hafalan tentang ilmu agama” 😀


Saya pribadi lebih cenderung memberi masukan: “carilah calon pasangan yang bersedia diajak bertumbuh.” Karena dalam perjalanannya, tidak semua pasangan yang siap diajak sulit itu siap diajak bertumbuh. Oke dia bisa mendampingi (atau didampingi) saat sulit. Tapi saat diajak bertumbuh, sulit sekali bergerak dengan alasan: “kan aku dah bilang, aku nyari pasangan yang siap diajak sulit” tanpa kelanjutan. Meskipun tentu hal-hal seperti ini tidak bisa dipukul rata ya.

Rasulullah menyuruh kita melihat agamanya bukan berarti mengesampingkan ketiga faktor lain karena bagaimanapun ada kecenderungan-kecenderungan ke arah sana. Bahkan urusan nazhar pun salah satunya untuk memastikan ketertarikan entah fisik ataupun yang lainnya.


Dulu sempet baca-baca tentang kafaah alias sekufu dalam pernikahan. Ternyata para ulama juga berbeda pendapat tentang indikatornya. Tapi intinya sih, ada kesamaan yang menjadi salah satu faktor kecenderungan kita terhadap calon pasangan dan menentukan langkah selanjutnya dalam proses menuju pernikahan.

Jadi bicara tentang nasihat memang tidak bisa kita berikan pada sembarang orang ya. Karena kadang antara salah kaprah atau kurang lengkap pemahamannya jadi salah langkah deh.

Maka.. bagi para single lillah, saya lebih cenderung ingin menekankan untuk berdoalah yang baik, berprasangka yang baik. Walaupun saat ini kondisi mungkin nampak tidak baik, carilah pasangan dengan syarat yang tetap menggunakan kalimat-kalimat baik.

Suami saya dulu melamar saat beliau di tingkat akhir kuliah dengan pekerjaan yang saya tahu hanya freelance nerima desain dan semacamnya alias susah juga awalnya dan kami menikah saat beliau akan menyelesaikan skripsinya. Tapi saya bersyukur beliau ga pernah bilang “nyari pasangan yang mau diajak susah”. Entah mungkin karena kami berdua punya latar belakang keluarga dengan ekonomi terbatas jadi sama-sama ingin kehidupan yang lebih baik.

Saya hanya ingat beliau pernah mengatakan kepada perantara kami, “saya ingin pasangan yang saling menolong” meskipun lebih cenderung “saya ingin bantu Esa” setelah tahu latar belakang keluarga saya dari perantara kami. Dan itulah yang menjadi doa, untuk kami saling bantu, bertumbuh hingga saat ini. Alhamdulillah.

Pernikahan kami bermula bukan lagi dari nol, tapi dari minus. Sebagai pasangan sesama anak pertama (meskipun perjuangan kami berbeda), punya luka masing-masing, impian yang ingin dikejar, dan beragam hal yang kami sesuaikan sepanjang 12 menuju 13 tahun pernikahan ini adalah hal yang masih terus kami mohonkan pertolongannya kepada Allah.

Kami minus mungkin bukan hanya perkara harta, tapi juga ilmu. Alhamdulillah Allah terus tuntun untuk saling bantu, saling menguatkan, saling menyemangati (meski ada saatnya saling menjatuhkan saat sudah burn-out). Perjuangan di awal pernikahan dengan beragam tantangannya alhamdulillah ditolong Allah untuk dilalui.

Maka sekali lagi, teman-teman yang single, ucapkanlah doa-doa (dan harapan serta kriteria) yang baik dalam mencari pasangan. Agar kita dapat mengharapkan masa depan yang lebih baik..

Sebab ucapan dan prasangka kita akan melangit menjadi doa. Bukankah Allah sesuai prasangka hamba-Nya?

Esa Puspita

Beberapa referensi yang dibaca:

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s