Lintasan Masa Lalu

Sebuah pepatah mengatakan, “monsters don’t sleep under your bed, they sleep inside your head“. Sebuah pepatah terkait masa lalu yang bener banget karena masa lalu seringkali menghantui tanpa disadari.

image

Tak jarang, kita ragu melangkah karena melihat kembali kejadian di masa lalu. Mengerikan dan tak ingin terulang.


Bagi saya pribadi, bayangan masa lalu yang sudah kadung masuk alam bawah sadar menjadi monster paling mengerikan. Datang ikut campur tanpa diminta.

Teman-teman mungkin akan sepakat juga bahwa masa lalu yang buruk begitu menakutkan untuk diingat tapi sulit untuk diabaikan begitu saja. Sedang masa lalu yang indah sering tergerus oleh masa lalu yang buruk. Tanpa diminta..

Tapi bagaimanapun, kita yang sekarang adalah hasil tempaan masa lalu. Entah masa lalu yang baik ataupun masa lalu yang buruk. Maka berdamai dengan diri menjadi pilihan terbaik.

Berterima kasih untuk semua kisah masa lalu mungkin akan sedikit mengobati luka yang terlanjur ada. Karena setiap luka akan berbekas, jangan berharap ia akan hilang tak bersisa.

Semakin kita mencoba melupakan masa lalu yang buruk, semakin kita ingat akan masa lalu itu. Maka untuk melangkah ke masa depan, tugas kita bukan melupakan masa lalu tapi menata agar ia tak sembarangan menghancurkan perasaan.

Berontak terhadap masa lalu hanya akan membuat tenaga kita terkuras tak tentu arah. Maka memaafkan menjadi salah satu cara agar kita menerima masa lalu yang menyakitkan menjadi sebuah kisah yang dapat diambil pelajaran.

Tak mudah memang. Butuh kekuatan besar untuk bisa memaafkan masa lalu, terutama memaafkan diri sendiri.

Tapi bukan hal yang mustahil. Demi kebahagiaan kita di masa kini dan masa mendatang. Agar tak muncul penyesalan di ujung jalan.

“Ah, kamu sih ga ngerasain hancurnya perasaan aku. Gampang aja ngomong kayak gitu”
Faktanya setiap orang akan berkutat dengan masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Setiap orang pasti akan melewati semua masa dengan ujiannya tersendiri.

Bagi kita mungkin itu menyakitkan. Tapi bagi orang lain bisa jadi tidak demikian. Daripada kita mendebat dia supaya bisa merasakan yang kita rasa, kenapa tidak kita balikkan arah bertanya “bagaimana bisa kamu tak merasakan ini sebagai sesuatu yang menyakitkan?” Yang kemudian jika jawabannya sudah kita dapat, mungkin bisa menjadi jalan keluar yang tak kita pikirkan sebelumnya.

Lagi-lagi jawaban sederhana yang sulit sekali dilakukan tanpa tenaga ekstra. Memutar data tentang rasa sakit ke fakta tentang kewajiban menjalani hari dengan bahagia.

Ah.. teori-teori mengatur emosi itu sederhana sekali. Tapi kenapa sulit diterapkan. Sudah sedemikian parahnya kah hingga bayangan masa lalu itu lebih kuat muncul?

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s