Lebah Mencuci

Hari ketujuhbelas. “Mi, Mas ga divideo lagi?” tanya Azam saat mulai mencuci baju-baju yang kena pipis hari ini. Mengingatkan tentang aktivitas yang memang seharusnya ummi lakukan. Baca lebih lanjut

Botol Laut

Hari keenambelas. Hari ini bisa dikatakan khusus jadwal ke sekolah Azam. Sebab selasa ada kelas, Senin biasanya nyuci, Rabu kadang ada jadwal keluar. Lowong hanya Kamis atau Jumat. Maka saya pilih kamis sebagai masa rehat sedangkan Jumat siap berkutat lagi dengan cucian. Hoho.. Baca lebih lanjut

Tidak Bisa Melihat

Hari kelimabelas. Seharian ummi di luar rumah sehingga hampir saja kehilangan momen kemandirian Azam. Danisy Azam dititip ke Mamah. Lebih tepatnya, Mamah diminta datang ke Cimahi agar ga repot minta bapak bolak balik mengingat jarak Bandung-Cimahi dan jadwal kepulangan keduanya yang ga sama.

Baca lebih lanjut

Kue Singkong

Hari keempatbelas. Target membiarkan Azam memenuhi kebutuhannya sendiri seolah jadi mestakung sebagaimana personalitinya. Semesta mendukung.

Mendadak agenda penuh yang membuat saya secara tidak langsung memaksa Azam harus memenuhi kebutuhannya sendiri.

Setelah mangga, bekal, dan cucian baju, kali ini meminta Azam memotong kue sendiri karena berbarengan ummi sedang ada kelas.

“Mi, mamas lapar. Mas mau kuenya boleh?”
“Itu atuh udah ada yang dipotongin” nunjuk kue yang disajikan karena kelas belajar kali ini bagian ummi yang jadi shohibul bait alias tuan rumah 😀
“Ga mau ah. Mau ini aja”
“Ya udah, potong sendiri ya. Pisaunya disana” nunjuk ke deket akuarium.

Ternyata Azam memotong-motong semua brownies singkong yang dia pegang. Ummi baru tahu saat akan menyajikannya untuk abi sore hari.

“Mas, sebelum makan kue, ganti baju dulu ya”
“Mas mau main game. Boleh?”
“Eh, ga ada kesepakatan soal game. Kan ummi tadi bilang, nanti kelasnya di rumah kita. Mas ga minta apa-apa ya”
“Tapi mas laper” mulai deh obrolannya pindah lagi.
“Ya udah, makan aja kuenya. Ambi piring”

Kadang merasa bersalah kayak lebih mentingin tamu daripada anak sendiri. Tapi ini dalam rangka upaya mengajarkan kemandirian pada Azam yang (saya kira) lumayan telat. (lagi-lagi bandingkan dengan kakaknya. Danisy belajar mandiri sejak bayi).

Hujan..

Lama ya ga hujan. Cuaca ga bisa ditebak saat ini. Tapi lebih tak bisa ditebak lagi kapan hujan turun. Rasanya belakangan hujan jarang sekali membasahi bumi.

Melihat hujan besar, anak-anak minta hujan-hujanan. “Boleh, nanti cuci sendiri bajunya ya.”

Meski harus beberapa kali diingatkan, akhirnya mereka berdua berhasil menyelesaikan cucian.

“Aa, seragam Aa kotor kayaknya deh. Sikat pakein sabun biru yang batangan biar ga terlalu kotor. Kucek bersihkan ya”

Baru saat menjemur, ketahuan mereka ga pake deterjen. Cuma pake sabun cuci batangan itu. Weleh weleh. Segitu aja udah alhamdulillah mereka udah mau tanggung jawab dan menerima konsekuensi. Dan bersedia bekerja sama. Biasanya Azam akan mengandalkan Aa sementara Aa pun akan mengambil alih jika ditugaskan barengan.

Kali ini setiap kali Aa mau membantu, ummi larang. “Biar Azam terbiasa mengerjakan apa yang jadi tanggung jawabnya. Kalau semua-mua Aa yang ambil alih ngerjain, kapan Azam belajarnya?”

Alhamdulillah..

#Harike14
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Sporadis

Hari ketigabelas. Ummi sedang begitu harus berdamai dengan situasi. Pelatihan tidak maksimal. Cuci piring setelah beberapa kali ga diingatkan, masih ingat. Kali ini lupa karena keasyikan main. Baca lebih lanjut