Ketika Suami Menikah Lagi (7)

Rasanya tak sabar memberitahu Ina tentang keberhasilan proyek yang kurancang tadi siang. Campur aduk. Lega, bahagia dan harap-harap cemas apakah setting yang kupersiapkan akan berjalan lancar di hari H nanti.

“Na, Alhamdulillah proyeknya gol. Seperti janjiku, akhir pekan kita jalan-jalan. Jumat aku ke Bandung, menginap di rumah ibu kosanku dulu. Sabtu kita jalan ya. Siapkan anak-anak dan pastikan kamu izin sama Bintang.”

“Wah Alhamdulillah. Selamat ya Ri. Iya siap. Aku pasti siapkan anak-anak. Soal izin sama mas Bintang tentu saja. Aku kan ga mau jadi istri durhaka. Hahaha.”

Senangnya mendengar tawamu Na. Serasa menemukan kamu yang dulu, Ina yang selalu ceria. Kata selamat itu mungkin seharusnya bukan kau ucapkan padaku, tapi ditujukan padamu dan keluarga kecilmu. Semoga semakin membaik.

Two-Hearts Baca lebih lanjut

Ketika Suami Menikah Lagi (6)

Ina beberapa kali menelepon sekadar mencurahkan perasaannya. Aku membiarkan ia melakukan itu supaya ia merasa lebih lega daripada harus memendamnya sendiri.

Sebagai sahabatnya, aku tak boleh tetap diam seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar mendengar curahan hati Ina.Two-Hearts

Baca lebih lanjut

Ketika Suami Menikah Lagi (5)

Perempuan itu rupanya teman satu kantor Bintang. Sudah lama Ina mencari tahu tentang perempuan cantik nan pintar itu. Ku akui perempuan itu lebih supel dengan karier cemerlang.

Meski demikian, aku masih tak bisa menerima keputusan Bintang menikahi gadis itu. Gadis yang ternyata adalah teman dekat Bintang ketika kuliah dulu.

Two-Hearts Baca lebih lanjut

Ketika Suami Menikah Lagi (4)

Tangisnya pecah. Tangisan pertama yang kulihat sepanjang aku mengenalnya.

Two-Hearts

Ina yang kukenal selalu kuat, selalu mampu menyembunyikan rasa sakit dan air matanya, kali ini aku melihatnya menangis. Di hadapanku, di sebuah tempat umum. Sebuah pemandangan mengejutkan yang tak pernah ku duga sebelumnya.

“Aku ga bisa, Ri. Aku sakit. Aku mencoba bertahan untuk anak-anak tapi ternyata aku ga bisa.”

“Rasa sakitnya melebihi saat aku ditinggalkan ayah karena perempuan lain yang menjadi istri keduanya. Rasa sakitnya melebihi saat ayahku menelantarkan kami sehingga kami harus terlunta-lunta menyambung hidup.”

“Ingin rasanya aku pergi. Sekian lama aku menahan tangis. Mas Bintang yang kujadikan tumpuan harapan untuk keluarga yang lebih baik ternyata justru melakukan hal menyakitkan seperti ini.”
“Kamu tau, Ri. Kehidupanku seketika hancur Berantakan saat mengizinkannya menikah lagi. Secara kasat mata memang kehidupanku tak berubah. Tapi hatiku..” suaranya tercekat.

Aku tak tahu harus bagaimana. Sahabat yang kusayangi disakiti lelaki yang dulu dengan manisnya berjanji tak akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ayah Ina. Tapi lihat sekarang? Sahabatku begitu terpuruk hingga ia tak mampu lagi menahan tangisnya.

“Ri, bolehkah aku mengajukan perceraian padanya? Aku tak ingin anak-anakku mengalami seperti yang ku alami. Aku tak ingin lingkaran setan itu terus ada dalam kehidupanku. Cukup berhenti padaku saja. Jangan sampai terulang.”

“Aku tak tahu harus cerita pada siapa, Ri. Tak mungkin aku menceritakan perasaanku pada kedua orang tuaku, pun tak mungkin aku menceritakan rasa sakit ini pada adik-adikku. Kau tahu aku tak mungkin menangis dan mengeluh di hadapan mereka. Cuma kamu satu-satunya yang dapat kujadikan tempat bercerita.”

Rasanya ingin menyudahi saja pertemuan hari ini. Aku muak. Aku marah. Kenapa Bintang tega berbuat seperti ini pada sahabatku. Kenapa ia menghancurkan impian sahabatku untuk memiliki keluarga yang bahagia dan sempurna? Aku benci!

Kedua anak Ina yang sedari tadi asyik bermain di arena permainan seperti merasakan keadaan ibunya. Mereka tiba-tiba berhenti bermain lalu mendekati Ina. Tak sempat Ina menghapus air matanya.

“Ibu kenapa menangis? Tante sudah bikin ibu sedih ya?” ujar Faiz si sulung. Usianya baru 4 tahun. Sementara si kecil Faiq yang usianya baru 1,5 tahun mendekat sambil berusaha memeluk ibunya. Kalian masih kecil. Kalian tahu apa.

Ina kemudian mencoba menghapus air matanya. “Tak apa, Nak. Ibu hanya sedikit sedih karena akan berpisah dengan Tante. Tante kan harus kembali ke Jakarta. Padahal ibu masih kangen sekali bertemu tante Riri”.

Sudah kuduga ia akan menyembunyikan penyebab tangisnya. Ina benar, aku harus kembali ke Jakarta. Pekerjaan menantiku. Tapi, apakah Ina akan baik-baik saja?

=lanjut besok ya in sya Allah=

Ketika Suami Menikah Lagi (3)

Two-Hearts

Aku tak tahu harus mulai cerita darimana. Tapi aku rasa aku harus menceritakannya agar hatiku lebih lega

Penggalan SMS dari Ina yang muncul secara tiba-tiba pagi ini. Membuatku terhenti sejenak dari kegiatanku. Ada apa Ina mengirimkan pesan seperti itu?

Ada apa, Na? Kubalas pesannya.

Kita bisa ketemu ga ya, Ri? Aku pengen cerita.. Kalau aku sama anak-anak ke tempatmu gimana?

Hah? Ke Jakarta hanya dengan anak-anak? Aku tak bisa langsung membalas pesannya. Mencoba menimbang sebaiknya bagaimana.

Biar aku saja yang ke tempatmu, Na. Aku khawatir sama anak-anak balasku hati-hati. Baca lebih lanjut