Disket untuk Kehidupan

Kemarin ketika berencana mau ketentuan sama temen-temen Kampoeng Kata-kata Bandung. Penggagas grup ini sendiri adalah kang Jendral yang inSyaAllah gabung juga di pertemuan hari ini.

Ini gegara Rifki sih ngomongin mau bajak film eh malah disambung om Anto pak bahas Flashdisk 128 MB yang itu entah flashdisk jaman kapan ya. Ketahuan nih om Anto angkatan berapa. hehe. Mengingat hari gini flashdisk udah ga ada yang 128MB :D

disket

Obrolan berlanjut ke masalah disket juga deh ujung-ujungnya. Masa om Anto kenal juga sama disket 800kB. Hihi.. Yang pasti garda-gara obrolan itu saya malah bernostalgia ke jaman sekolah dulu.

Baca lebih lanjut

Banyak Anak? Salut!

Belajar dari diskusi “tak sengaja” di sebuah grup jual beli, saya kemudian menjadi takjub kepada beberapa anggotanya yang memiliki anak lebih dari 2 tapi semua (nampak) baik-baik saja. Subhanallah mereka melakukan itu semua justru tanpa adanya ART (khodimat alias asisten rumah tangga).

Tentang ini, mungkin ada juga yang mencibir karena ada yang menggunakan jasa ART. Sebenarnya ga masalah sih ya kalaupun mau menggunakan jasa khodimat karena toh yang mampu mengukur kemampuan diri dan keluarga ya anggota keluarga itu sendiri. Tak usah dipaksakan ingin seperti orang lain jika secara ukuran ternyata tidak sanggup.

Yang saya garis bawahi dari percakapan tak sengaja itu adalah adanya penanaman budi pekerti, tentang akhlak dan penanaman aqidah pada sang buah hati. Terutama pada anak pertama.

Biasa ya ibu-ibu kalau sudah ngumpul di sebuah grup suka ada saja obrolan entah tentang apapun. Meski namanya grup jual beli, biasanya curhat seputar olshop-nya ga terlalu banyak. Yang banyak ditanyakan justru tentang anak dan keluarga.

anakAlhamdulillah ga sampe membuka aib asing-masing. Hanya berbagi kisah hikmah dan inspirasi. Dan itu semua perlu sekali bagi seorang perempuan mengingat memang salah satu cara perempuan “istirahat” dari kesehariannya di rumah adalah dengan ngobrol (terutama ibu rumah tangga, yang seharian di rumah).

Saya mengambil contoh satu orang di antara member. Beliau memiliki 4 orang anak, buka ekspedisi pengiriman dan punya Online Shop juga. Ada yang menarik dari obrolan beliau bahwa beliau sudah jarang “ngurus” anak-anak. Kenapa? Kok bisa?

Baca lebih lanjut

Being A Single Parent

Saya bingung harus nulis apa.. Tapi kalimat yang rasanya tepat adalah “being a single parent”.

Menjadi orang tua tunggal pastilah tak mudah. Siapapun pasti tak ingin menjadi orang tua tunggal.

image

Baca lebih lanjut

Danisy, Azam dan Arsitektur

Setiap pasangan punya cara sendiri untuk menyambut kehadiran sang buah hati. Salah satu yang mungkin dilakukan oleh setiap pasangan adalah penyematan nama sebagai titipan asa orang tua kepada anaknya tercinta.

Saya dan suami selalu menyepakati 1 nama. Masing-masing kami awalnya menyodorkan nama, tapi biasanya berujung dengan mencari nama bersama :D

Baca lebih lanjut

Frog Frenzy

Frog Frenzy, begitu nama yang saya ingat dari sebuah wahana yang dimainkan anak-anak kemarin malam ketika berkunjung ke sebuah supermarket. Wahana ini adalah permainan memukul kodok yang muncul ke permukaan dengan sebuah palu besar yang terbuat dari plastik entah kayu. Pokoknya palu mainan yang inSyaAllah aman untuk anak.

Baca lebih lanjut