Ubi Meleleh

ubi meleleh

ubi meleleh

Resep camilan sederhana lainnya.
Dapet oleh-oleh ubi. Saya ga terlalu suka sih, tapi anak-anak kan belum pernah coba.

Resepnya simpel. Ini berdasarkan yang tadi dipakai ya. Soal takaran bisa dikira-kira saja.

  • -3 ubi rebus (maap harusnya mah dikukus aja ya. Maklum newbie
  • 3 sdm tepung terigu
  • 1/2 sdm tepung maizena (ini bisa dilewati kayaknya ya kalo ga ada)
  • tepung roti
  • minyak untuk menggoreng
  • coklat batangan

Cara buat:

  • – kuliti ubi rebus lalu tumbuk hingga halus merata
  • tambahkan tepung terigu dan maizena. Aduk hingga rata dan kalis (tidak lengket dan dapat dibentuk)
  • bentuk bulat lalu pipihkan
  • tambahkan potongan kecil coklat batangan di tengah adonan lalu bulatkan hingga coklat tertutup dengan baik
  • gulirkan ke tepung roti
  • panaskan minyak
  • goreng hingga ubi kecoklatan

Begitu digigit, coklat batangan di dalamnya lumer. Enak banget. Anak-anak bilang “suka” 😄😍

Catatan: saya menggunakan coklat batangan strawberry dan coklat. Yang bulat-bulat itu coklat rasa strawberry di dalamnya dan yang pipih itu isi coklat. Melted and so yummy

Selamat mencoba.

Mimpi Buruk

Mimpi buruk konon tak perlu diceritakan, atau jika begitu khawatir ceritakan dengan taksir mimpi yang positif. Setidaknya itu yang saya pernah baca. Jika ditanya dalil, maaf saya ga tahu. Hanya pernah baca bahwa ketika ada sahabat mengadu mengenai mimpi buruknya, Rasulullah mentakwilkan mimpi itu dengan takwil positif. Wallahu a’lam.

Terlepas dari adab yang benar mengenai mimpi buruk, saya lebih memilih opsi kedua jika ternyata mimpi itu berasal dari orang lain. Jadi bukan saya yang bermimpi buruk melainkan orang lain yang menceritakan mimpi buruknya.

Entah apa yang sedang ada di pikiran saya saat ini, meski sempat menghibur diri dan suami saat suami pamit tadi sore, tapi saat ini perasaan saya begitu tak karuan. Apa karena mimpi itu?

Siang ini suami memperlihatkan sebuah pesan singkat di ponselnya. Adiknya bermimpi buruk tentang beliau tapi dalam mimpi itu ada kejadian positifnya juga. Suami meminta maaf dan doa pada saya mengenai hal itu. Maaf atas kesalahannya dan doa semoga hanya mimpi atau kalaupun jadi nyata, semoga kebaikan dalam mimpi itu terjadi.

Sore ini ketika beliau pamit untuk menyelesaikan pekerjaan di luar rumah, dengan nada bercanda beliau meminta doa pada saya. Padahal doa selalu saya panjatkan ketika beliau melangkahkan kaki keluar rumah.”Doakan Aa ya,” ujarnya. “Iya, hati-hati ya. Doa apa emang?” saat itu saya tidak terlalu berpikir ke arah sana, tapi beliau menjawab “ya, SMS dari Nur tadi.”

Deg.

“Sini dulu deh, A.” Saya meminta beliau kembali masuk rumah dan mendekat. Ketika tadi diperlihatkan SMS itu saya menanggapinya biasa saja memang. Cukup berdoa. Tapi mungkin suami kepikiran jika seandai jadi kenyataan.

“Semoga itu pertanda kalau Aa akan keluar dari riba. Keluar dari kesulitan dunia dan mendapatkan sambutan yang baik.” Ujar saya sembarangan mentakwil mimpi itu. Entah kenapa kok yang terpikir riba ya. Padahal kami sudah sebisanya menjauh dari riba. Mungkin masih ada unsur riba dalam kehidupan kami. Astagfirullah, ampuni kami ya Allah..

Sementara takwil tentang kesulitan dunia beserta sambutan yang baik pada dirinya saya harap sekaligus menjadi doa. Untuk kesuksesan dan jalan keluar dari permasalahan yang beliau hadapi. Untuk jalan karier yang ia impikan.

Seketika suamipun melaju kendaraannya menuju tempat yang ia beritahukan pada saya sebelumnya. Dalam hati saya hanya bergumam, “fi amanillah”. Semoga Allah senantiasa menjagamu, memberikan kesehatan dan keselamatan sebagaimana selalu kudoakan seperti itu.

Pikiran saya kemudian menerawang. Jika benar mimpi itu jadi nyata dalam takwil yang tepat sama, maka bagaimana dengan semua amanah yang sedang dipegang suami? Bagaimana dengan semua transaksi yang belum selesai antara beliau dan kliennya? Bagaimana kabar tentang beliau akan sampai pada saya?

Saya lirik meja kerjanya, laptopnya dibawa. Semua perlengkapan kerjanya tak ada satupun yang ditinggalkan. Huft. Insyaallah beliau akan baik-baik saja, ya kan Ya Allah?

Ah, pelajaran yang saya dapat di kelas #MTM kelas #BYOB dan kelas #GetMarried yang selalu diawali dengan membahas pemahaman tentang takdir membuat saya kembali merenung. Kenapa saya khawatir pada hal yang belum terjadi? Kenapa saya berburuk sangka pada Allah yang Maha Berkehendak? Kalaupun misalnya benar mimpi itu jadi kenyataan, maka itu sudah takdir dari Allah. Sudah ketentuan yang tidak bisa ditolak. Ikhtiar kami hanya doa dan berhati-hati. Tapi yang namanya kecelakaan kadang bukan karena kita tidak hati-hati tapi orang lain yang ceroboh, kan? Ya sudahlah. Maksimalkan saja doa pada Allah Sang Maha Penjaga.

Rabbi, jagalah suamiku senantiasa dalam lindunganmu, keselamatan dan kesehatan, kekuatan dan kesabaran. Jagalah ia selalu di jalan-Mu, setiap saat, dimanapun ia berada.

Dua Rumah, Satu Jua

Sebenarnya jika dikatakan pindahan ke esapuspita.com ya ngga juga. Sayang sekali jika harus stop menulis disini. Banyak kenangan. 7 tahun bersama. Jadi saya tidak memutuskan meninggalkan blog ini. Setidaknya belum untuk saat ini.

Tapi berhubung dapet rumah baru jadi konsentrasi menulisnya terpecah. Ibarat kata, blog ini apartemen. Jadi blog ini hanya satu ruangan di antara ruangan lain yg berada di sebuah bangunan bernama WordPress. Sementara rumah kedua tulisan saya adalah rumah single alias rumah hunian tersendiri. Ada saatnya saya main di apartemen, ada kalanya saya asyik belajar di rumah sendiri. Ya meskipun masih ngontrak (bayar domain dan hosting tetap tahunan kan? Hehe).

Alhamdulillah rumah baru tulisan saya launch awal Mei lalu. Rumah itu saya dapatkan sebagai hadiah dari seorang teman di grup Kampoeng Kata-kata (K3) atas keikutsertaan saya dalam lomba #15HariMenulis sekitar April lalu. Om Anto, begitu kami biasa menyapa. Masih muda, hanya saja biasanya kami memanggil teman-teman lelaki dengan sebutan Om dan teman perempuan dulu disebut tante juga :D

Tidak hanya saya yang mendapatkan hadiah keren itu. Tapi juga sekitar 3 orang lainnya. Ada mba Eva, mba Ria dan mba Fian CelotehAir. Senang sekali bisa bergabung dengan orang-orang hebat di K3.

Jadi jika blog ini terkadang ga update, teman-teman bisa mampir ke rumah Esa Puspita yang baru. Insyaallah tetap saya penulisnya. Xixixi

Begitu aja sih. Tulisan ini sekadar pengumuman yang sudah lama ingin saya sampaikan tapi baru bisa disampaikan sekarang :D

Akhir kata.. Selamat menikmati libur Idul Fitri 1436H. Taqabbalallahu minna wa minkum.

Di tengah suasana mudik lebaran
Puring, Kebumen 20 Juli 2015.

Ketika Suami Menikah Lagi (7)

Rasanya tak sabar memberitahu Ina tentang keberhasilan proyek yang kurancang tadi siang. Campur aduk. Lega, bahagia dan harap-harap cemas apakah setting yang kupersiapkan akan berjalan lancar di hari H nanti.

“Na, Alhamdulillah proyeknya gol. Seperti janjiku, akhir pekan kita jalan-jalan. Jumat aku ke Bandung, menginap di rumah ibu kosanku dulu. Sabtu kita jalan ya. Siapkan anak-anak dan pastikan kamu izin sama Bintang.”

“Wah Alhamdulillah. Selamat ya Ri. Iya siap. Aku pasti siapkan anak-anak. Soal izin sama mas Bintang tentu saja. Aku kan ga mau jadi istri durhaka. Hahaha.”

Senangnya mendengar tawamu Na. Serasa menemukan kamu yang dulu, Ina yang selalu ceria. Kata selamat itu mungkin seharusnya bukan kau ucapkan padaku, tapi ditujukan padamu dan keluarga kecilmu. Semoga semakin membaik.

Two-Hearts Baca lebih lanjut

Ketika Suami Menikah Lagi (6)

Ina beberapa kali menelepon sekadar mencurahkan perasaannya. Aku membiarkan ia melakukan itu supaya ia merasa lebih lega daripada harus memendamnya sendiri.

Sebagai sahabatnya, aku tak boleh tetap diam seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar mendengar curahan hati Ina.Two-Hearts

Baca lebih lanjut