Sepasang Buku

Hai hai.. InSyaAllah blog ini akan update tulisan seminggu sekali ya. Tulisan hariannya dipindah ke web baru saya dapet hadiah dari Mas Anto via Kampoeng Kata-kata. Tentang hadiah dari tantangan #15HariMenulis ini rupanya belum saya tulis ya :D Nanti sy tulis inSyaAllah tapi ga sekarang. Maaf ya semua..

Tentang sepasang buku, izinkan saya bercerita mengenai sepasang buku yang dihadiahkan teman suami -mas Aji dan mba Maya- ketika kami menikah 5,5 tahun lalu. Kenapa saya mengatakan sepasang? Karena bukunya memang sepasang. Suami dan Istri. Di dalamnya disertai tulisan doa oleh mas Aji di buku suami dan oleh mba Maya di buku istri. Semoga Allah memberkahi keduanya ^_^

Judul sepasang buku ini adalah Be a Great Wife -agar dicintai suami- dan Be a Great Husband -agar dicintai istri- ditulis oleh ‘Isham bin Muhammad asy-Syarif dan diterbitkan oleh Embun Publishin. Menarik karena ketika banyak bahasan suami istri masa kini menumpu pada pembahasan di sisi istri, maka sepasang buku ini memberikan gambaran sebaliknya. Diantara kedua buku, buku tentang suami-lah yang lebih tebal.

sepasang buku

Hal menarik lainnya dari sepasang buku ini adalah, bahasan tentang dasar mendidik anak justru ada di buku suami. Sementara di buku istri lebih pada silabus program untuk anak. Sinergis sekali. Ciri khas keislamannya begitu nampak.

Buku ini memang pantas dihadiahkan sepasang. Agar suami dan istri memiliki keilmuan yang setara dan pemahaman yang saling mendukung. Karena suami dan istri sudah menjadi sebuah kesatuan untuk berbagai aktifitas terutama dalam membangun peradaban yang dimulai dari keluarga kecil di rumah: suami istri dan anak-anak.

Ada setidaknya 17 karakteristik suami yang dibagi ke dalam 17 bab dengan pembahasan mendetil di setiap sub-babnya. Sementara di buku istri, pembahasan mengenai karakter istri dibuat dalam 1 bab yang dibagi ke dalam 20 sub-bab, sementara 2 bab lainnya diberi judul “Inilah suami saya!” di bab 2 sebagai pengingat 17 karakteristik suami dan “Para istri pengadu” di bab 3 yang dibuat seperti tanya jawab.

Saya sendiri belum selesai membacanya sehingga tidak dapat mengatakan buku ini saya rekomendasikan secara pribadi karena belum tuntas membacanya (setelah sekian lama, hanya tersimpan di rak dan sempat tertimbun di dalam tumpukan dus). Tapi sejauh yang saya baca, inSyaAllah ilmunya bermanfaat terutama bagi pemahaman ke-istri-an dalam kacamata Islam. Sementara suami, saya belum menanyakan apakah beliau sudah membaca buku tersebut atau belum.

Ingin menuntaskan buku ini dan menuliskan review singkatnya. Setidaknya buku bagian istri dulu untuk dipahami kemudian diamalkan. Bismillah..

Da Aku Mah Apa Atuh

Pertama kali baca tulisan “da aku mah apa atuh” saya langsung menciptakan imajinasi tentang makna dari tulisan itu. Sebuah kepasrahan atau lebih tepatnya sebuah tindakan menyerah terhadap pandangan orang lain. Malu. Tak ada nilainya.

Bagi orang sunda akan mudah mengenali arti tulisan tersebut. Arti yg negatif di satu sisi tp bisa juga positif di sisi lain (meski agak sulit untuk mengatakan pernyataan ini sebagai pernyataan positif).

Useless. Powerless.. pokoknya serba “less” aja. Serba tiada makna.

Padahal sejatinya manusia diciptakan dengan makna dan makanat yang indah. Karena Allah menciptakan manusia dengan sebuah tujuan mulia, bukan untuk disia-siakan.

Plaaakkk!!! Saya tertampar ketika menuliskan ini. Saya sendiri sering berada di titik hopeless macam itu berharap seseorang datang dan meyakinkan saya bahwa “kamu tuh hebat lho. Kamu sebenernya bisa sukses. Bla bla bla..”

Manusia yang baik adalah yang hari-harinya produktif. Lebih baik dari hari sebelumnya. Dan saya masih jauh dari posisi seperti itu.

Da aku mah apa atuh. Haha..

Tapi dari pernyataan itu kita bisa mulai belajar untuk mencari jawabannya. Bukannya pernyataan “da aku mah apa atuh” itu masih koma? Belum titik. Masih ada lanjutannyan. Dan belakangan saya baru tahu bahwa pernyataan itu diambil dari sebuah lagu dangdut yang isi liriknya ternyataaa *ngeri kalo kata saya mah, apalagi pas didengerin anak-anak.. hadeh..*

Surah Adz-Dzariyat, ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Pemaknaan ibadah bukan semata shalat, tapi seluruh aspek pengabdian kita pada Allah. Mengabdi sesuai yang diperintahkan. Termasuk menjadi sebaik-baik manusia.

Maka dalam perjalanan mencari jawaban atas pernyataan yang belum lengkap tersebut, mungkin kita perlu dengan lantang mengatakan “da aku mah manusia”.

Dan dalam pencarian makna sebaik-baik manusia, kita perlu mengenali diri kita, potensi kita. Bagaimana cara kita efektif belajar, bagaimana cara efektif kita bekerja, bagaimana masa depan yang akan kita rancang.

Kemudian mencatatkan kembali, seperti apa langkah yang akan diambil. Baru kemudian berusaha, berazam dan bertawakkal.

Pernah satu hari saya membaca sebuah meme, kurang lebih isinya “da aku mah apa atuh. Cuma butiran debu”. Oke kalo memang begitu. Pernah kelilipan? Debu bisa membuat penglihatan seseorang terganggu. Tapi debu juga bisa jadi mulanya bagian dari pasir, pasir yang ketika dicampur air bisa menjadi bagian dari menegakkan sebuah bangunan. See?

Jadi ketika minder sama orang lain, mungkin kita harus berpikir “kenapa harus minder? Toh kan sy menutup aurat dengan baik. Meski sy tak sebaik mereka, tapi saya ingin lebih baik lagi terutama di hadapan Allah. Aamiin”

image

*sebuah catatan tentang diri, semoga menjadi cambuk agar tak lagi sembarang menyebut diri tak berguna.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Gerimis dan Hujan

Hujan gerimis.. Meski ia nampak kecil tapi ketika kita terus berada bersamanya, ia akan membasahi kita sedikit demi sedikit hingga akhirnya kita pun kuyup karenanya.

Hujan menghantarkan udara yang sejuk ketika ia datang. Panas yang menyengat seketika berubah menjadi hangat bahkan segar. Meski tak jarang pula kita menggigil karena dinginnya udara ketika gerimis hadir saat sebelumnya suhu tidaklah hangat.

hujan Baca lebih lanjut

Menyesali Masa Lalu

“Coba dulu aku begini ya.. Coba dulu aku begitu ya..” Pernahkah berpikir seperti ini? Mungkin setiap orang pernah yang berpikir seperti itu, hanya saja tidak semua orang akan sama respon berikutnya terhadap pernyataan tersebut.

Pernyataan seperti itu biasanya muncul sebagai sebuah ekspresi terhadap tindakan atau kejadian di masa lalu. Seringnya, pernyataan tersebut muncul karena merasa kecewa terhadap tindakan kita di masa lalu, atau kejadian di masa lalu.

pastquote

Tapi kemudian akan ada 3 jenis respons berbeda yang muncul sebagai kelanjutan pernyataan tersebut. Baca lebih lanjut

Menyusui dan Menyapih, Awal dan Akhir

Proses menyusui adalah sebuah kegiatan menarik bagi kehidupan seorang ibu (dan tentu juga bagi anak). Masa yang harus dilalui dan pada akhirnya harus diakhiri. Dan karena proses menyusui dimulai dengan cinta, maka kelak harus diakhiri dengan cara cinta pula.

Dalam bahasan sapih saat ini terkenal sebuah istilah bernama “WWL” alias Weaning With Love (menyapih dengan cinta). Tidak ada yang aneh dengan proses WWL ini, kuncinya ada di komunikasi dengan anak. Agar ia siap menyapih sendiri. Tidak ada acara membohongi anak dengan mengoles apa gituh yang bikin anak merasakan nenennya pahit atau ditakut-takuti dengan diwarnai, dan sebagainya.

lovebreast Baca lebih lanjut