Penyebab Gagalnya Pendidikan

Di-copy-paste dari status facebook Ustadz Harry Santosa dengan pengeditan cara menulis agar lebih nyaman dibaca via blog.

Sistem Pendidikan kita menurut cucu pendiri Gontor, Prof. Dr. Fahmi Zarkasy, telah gagal melahirkan Peradaban. Penyebabnya adalah tidak berbasiskan pada Adab.

Menurut Beliau, hanya dengan berbasis Adab-lah, sebuah pendidikan mampu melahirkan per-Adab-an atau secara personal mampu melahirkan manusia yang adil dan beradab.

Alpanya Adab dalam sistem pendidikan, menurut beliau, setidaknya nampak pada 3 hal, yaitu kezhaliman (miskonsepsi), kebodohan (malfungsi) dan kegilaan (misorientasi).

Kita akan bahas ketiganya, kemudian melihat dalam perspektif konsep dan praktek pendidikan berbasis fitrah. Penjelasannya sebagai berikut:

Kezhaliman atau Miskonsepsi.

Miskonsepsi adalah karena salah meletakkan atau menerapkan konsep. Konsep yang digunakan sama sekali tidak relevan dengan peradaban.

Dalam pandangan pendidikan berbasis fitrah, salah Konsep ini terkait dengan salah memahami lansekap peradaban, yang meliputi 3 unsur peradaban.

Prof. Dr. Malik Bennabi, menyebutkan bahwa ada 3 unsur peradaban yaitu potensi (fitrah) peradaban, pendidikan peradaban dan peran peradaban.

Bennabi melihat bahwa potensi peradaban itu ada 4 dimensi yaitu

  1. Dimensi manusia (fitrah alGharizah dalam diri manusia) sebagai aktor peradaban,
  2. Dimensi tempat atau tanah (fitrah bumi) dimana manusia ditakdirkan lahir,
  3. Dimensi waktu (fitrah kehidupan dan zaman) di saat manusia ditakdirkan hidup dan
  4. Dimensi sistem hidup (Kitabullah atau fitrah almunazalah) yang memandu semua potensi tadi.

Keempat potensi peradaban inilah sesungguhnya yang harus diintegrasikan dan ditransformasikan oleh sistem pendidikan peradaban (tarbiyah hadhoriyah) sehingga berujung pada peran peradaban (daurul hadhoriyah).

Sistem pendidikan modern justru biadab atau tidak beradab karena mencerabut manusia dari akar fitrah dirinya, fitrah alamnya, fitrah zamannya dan akar nilai nilai Kitabullah. Walhasil kita saksikan outcomenya adalah manusia yang tak memiliki peran peradaban sehingga tak mampu menebar rahmat dan manfaat bagi dirinya maupun semesta.

Ia, manusia yang menjalani sistem pendidikan itu, gagal menjadi manusia yang adil dan beradab karena gagal menebar rahmat dan manfaat, karena gagal untuk memiliki peran peradaban atas karunia potensi fitrah peradabannya.

Sistem Pendidikan sejatinya tidak berangkat dari konsepsi bahwa manusia itu dilahirkan kosongan tanpa potensi sehingga muncul mindset harus sebanyak banyaknya diisi, dengan menambah jam mengajar dan jam belajar yang tak relevan dengan potensi anak, potensi alam dimana mereka tinggal dan potensi zaman disaat mereka hidup lalu tanpa dipandu dengan sistem nilai atau Adab.

Kebodohan atau Malfungsi

Malfungsi adalah karena buta jalan sehingga tak tahu cara menemukan jalan menuju peran peradaban, lalu gagallah tegaknya peradaban.

Kegagalan memperoleh Cara menemukan jalan sukses atau disebut How to Find Your Why sesungguhnya terjadi karena sibuk pada upaya menemukan cara sukses atau How to Find Your How.

Menemukan jalan sukses jauh lebih penting daripada menemukan cara sukses.

Jika tahu jalan yang benar namun salah cara, akan tetap dapat sampai ke tujuan. Namun tahu cara yang benar, namun salah jalan, maka sampai kapanpun tak pernah akan sampai ke tujuan.

Sistem Persekolahan modern yang diadopsi oleh negara, gagal memfungsikan fitrah manusia untuk menemukan jalan sukses, karena sejarah sistem persekolahan modern bukan untuk find your why, namun hanyalah alat mesin kolonial untuk mencetak kuli administratur dan enjneuur dalam rangka membantu menjalankan mesin kolonial tersebut.

Itulah mengapa di negeri dimana sistem persekolahan modern dilahirkan, ada yang menyebut sistem persekolahan modern adalah pacuan yang tak kemana mana (race to no where), atau ada juga yang menyebut hanya proses learning for learning bukan learning for being.

Atau ada juga yang menyebut sebagai cara sukses mencetak human thinking dan human doing, namun gagal melahirkan human being.

Fitrah manusia gagal difungsikan menjadi potensi karena penyeragaman dan cara-cara fabrikasi sehingga kemudian gagal dihantarkan menuju jalan suksesnya atau alasan kehadirannya di dunia, yaitu peran spesifik peradabannya. Karenanya gagal menjadi peradaban.

Sistem Pendidikan sejatinya tidak salah memfungsikan manusia bahwa manusia itu dilahirkan dan disiapkan bukan untuk mengejar pekerjaan dan mengejar upah, sehingga muncul mindset bahwa bersekolah adalah untuk menjadi pekerja atau mencari uang lalu manusia harus dikompetisikan dengan standar fungsi kepentingan negara yang tidak sesuai fitrah manusia.

Kegilaan atau Misorientasi

Dari kezhaliman (miskonsepsi) dan kebodohan (malfungsi) di atas maka muaranya adalah kegilaan atau misorientasi. Orang gila jelas tak mampu membedakan mana nyata dan mana ilusi, mana kesejatian dan mana kepalsuan atau angan angan.

Maka lahirlah masyarakat ilusi, yang semua aktifitasnya tak punya orientasi peradaban yang jelas. Narasi-narasi besar peradaban gagal dikonstruksi dalam masyarakat yang penuh ilusi karena mereka bergerak hanya karena orientasi pendek dan sesaat. Mereka bergerak tanpa maksud yang jelas (unpurposefull) dan tanpa makna (unmindfulness).

Bagai penderita schizofrenia namun tak sadar mengidapnya, mereka terus asik dengan khayalannya, mengalami bipolar parah, kadang tertawa bersenang senang tanpa makna, kadang mengalami kesedihan yang tak berujung pangkal.

Kesimpulan

Mari kita bangun masyarakat Indonesia yang adil dan beradab, dengan pendidikan berbasis adab. Namun mulailah itu semua dengan lebih dahulu menumbuhkan semua aspek fitrah (tarbiyah), baik fitrah personal maupun fitrah komunal sebagai titik tumpunya sehingga kemudian menjadi jalan menuju peran peradaban.

Adab-lah atau nilai-nilai Kitabullah kemudian yang memandu jalan itu sehingga menjadi peran peradaban yang sempurna, indah dan berbahagia. Atau kita mengenalnya dengan manusia yang adil dan beradab.

Beradab pada Tuhannya, beradab pada masyarakatnya, beradab pada alam dan kearifannya, beradab pada keluarga dan keturunannya dstnya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Mendidik Fitrah Seksualitas – Dari Status Ustadz Harry Santosa

Mendidik Fitrah Seksualitas

(di-copy-paste dari Status FB Ustadz Harry Santosa)

#fitrahseksualitas

Seksualitas adalah bagaimana seseorang bersikap, berfikir, bertindak sesuai dengan gendernya.

Fitrah seksualitas keperempuanan adalah bagaimana seseorang perempuan itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang perempuan. Fitrah seksualitas kelelakian adalah bagaimana seseorang lelaki itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang lelaki.

Secara fitrah seksualitas seseorang hanya dilahirkan sebagai lelaki atau sebagai perempuan, tidak ada jenis kelamin lainnya. Jika ada orang yang mengatakan bahwa homo atau lesbian atau lainnya adalah bawaan lahir, itu sesungguhnya ia telah menyimpang fitrahnya.

Penyimpangan fitrah seksualitas sangat beragam, kasusnya tidak hanya terjadi di kalangan manusia liberal namun juga manusia relijius. Karena setiap aspek fitrah adalah keniscyaan bagi manusia yang perlu mendapat saluran dan mendapat perhatian untuk dididik.

Mereka yang berlebihan dalam menyalurkan dorongan seksualitasnya dengan mengumbar syahwatnya maupun berkekurangan atau berlebihan dalam membatasi dorongan seksualitasnya dengan pola hidup tidak menikah seperti menjadi rahib atau pendeta juga mengalami penyimpangan fitrah seksualitasnya.

Begitupula anak lelaki yang suplai “feminitas” dari ibu berlebihan sementara suplai maskulinitas dari ayah berkurangan, akan mengalami penyimpangan fitrah seksualitasnya yaitu menjadi “melambai” atau cenderung “homo” atau setidakmya kurang kejantanannya

Anak perempuan yang berkekurangan suplai “feminitas”dari ibu, sementara berkelebihan dalam suplai “maskulinitas” dari ayah, akan mengalami penyimpangan fitrah seksualitas yaitu menjadi tomboy atau cenderung lesbi atau setidaknya kurang kelembutan seorang perempuan.

Setidaknya, kurangnya suplai ayah dan suplai ibu secara seimbang sesuai gendernya di masa anak sejak usia 0-14 tahun, akan berdampak buruk pada fitrah seksualitasnya ketika dewasa.

Dalam penelusuran Siroh Nabi SAW, ternyata memang sosok ayah dan ibu tidak boleh hilang sepanjang masa anak, sejak lahir sampai aqilbaligh di usia 15 tahun.

Lalu bagaimana mendidik fitrah seksualitas?

Inti mendidik fitrah seksualitas adalah terbangunnya attachment (kelekatan) serta suplai ke-ayahan dan suplai keibuan.

Usia 0-2 tahun – merawat kelekatan (attachment) awal

Anak lelaki atau anak perempuan didekatkan kepada ibunya karena ada masa menyusui. Ini tahap membangun kelekatan dan cinta.

Usia 3-6 tahun – menguatkan konsep diri berupa identitas gender

Anak lelaki dan anak perempuan di dekatkan kepada ayah dan ibunya secara bersama. Usia 3 tahun, anak harus dengan jelas mengatakan identitas gendernya. Misalnya anak perempuan harus berkata “bunda, aku perempuan”, sebaliknya juga anak lelaki.

Jika sampai usia 3 tahun masih “bingung” identitas gendernya, ada kemungkinan sosok ayah atau sosok ibu tidak hadir. Inilah tahap penguatan konsep identitas gender pada diri anak

Pada tahap ini praktek “toileting”, dapat dijadikan juga sarana menumbuhkan fitrah seksualitas berupa penguatan konsep diri atau identitas gendernya

Usia 7-10 tahun – menumbuhkan dan menyadarkan potensi gendernya

Ini tahap menumbuhkan identitas menjadi potensi. Dari konsepsi identitas gender menjadi potensi gender. Dari keyakinan konsep diri sebagai lelaki dan sebagai perempuan, menjadi aktualisasi potensi diri sebagai lelaki atau potensi diri sebagai perempuan pada sosialnya.

Karenanya di tahap ini, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, agar mendapat suplai “kelelakian” atau maskulintas, melalui interaksi aktifitas dengan peran peran sosial kelelakian, misalnya diajak ke masjid, diajak naik gunung, diajak olahraga yang macho, dll.

Para ayah sebaiknya mulai berusaha menjadi idola anak lelakinya, dengan beragam kegiatan maskulin bersama, sampai anak lelakinya berkata aku ingin menjadi seperti “ayah”.

Lisan dan telinga ayah harus nampak sakti bagi anak lelakinya. Ayah harus menjadi penutur hebat bagi anak lelakinya dengan narasi narasi besar sejarah dan peradaban serta peran keluarganya dalam menyelesaikan masalah ummat atau menghidupkan potensi ummat dalam pentas peradaban.

Ayah juga yang harus menjelaskan tentang “mimpi basah” dan fiqh kelelakian, seperti mandi wajib, peran lelaki dalam masyarakat, konsep tanggungjawab aqilbaligh, pokok aqidah dstnya ketika anak lelakinya menjelang usia 10 tahun

Anak lelaki yang tidak dekat dengan ayahnya atau kekurangan suplai maskulinitas akan mengalami permasalah peran kelelakian ketika dewasa.

Sejalan dengan di atas, pada tahap ini, anak perempuan lebih didekatkan kepada ibunya, agar mendapat suplai “keibuan” atau suplai feminitas, melalui interaksi aktifitas dengan peran peran sejati sosial keperempuanan, misalnya merawat keluarga, memasak, menjahit, menata rumah, menata keuangan dstnya.

Para Bunda, disarankan berhenti “catering” dan “menjahit sendiri”, tunjukan pada anak perempuan bahwa tangan dan kaki bunda “sakti”. Jadikan “mukena” pertamanya adalah jahitan tangan ibunya sendiri.

Sederhana bukan?

Para Bunda sebaiknya mulai berusaha menjadi idola bagi anak perempuannya, sampai ia berkata. “Aku ingin seperti bunda, keren banget”.

Bunda juga yang harus menjelaskan tentang “haidh” dan fiqh perempuan, seperti mandi wajib, peran wanita dalam masyarakat, konsep tanggungjawab aqilbaligh, pokok aqidah dstnya ketika anak perempuannya menjelang usia 10 tahun

Anak perempuan yang tidak dekat dengan Ibunya atau kekurangan suplai “feminitas” pada tahap ini, diragukan akan menjadi perempuan sejati atau ibu yang baik kelak.

Usia 11-14 Tahun – Mengokohkan Fitrah Seksualitas

Setelah fitrah seksualitas kelelakian dari anak lelaki dianggap tuntas bersama ayahnya, kini saatnya anak lelaki lebih didekatkan kepada ibunya, agar dapat memahami perempuan dari cara pandang seorang perempuan atau ibunya.

Anak lelaki harus memahami “bahasa cinta” perempuan lebih dalam, karena kelak dia akan menjadi suami dari seorang perempuan yang juga menjadi ibu bagi anak anaknya.

Anak lelaki yang tidak lekat dengan ibunya pada tahap ini, berpotensi untuk menjadi “playboy”, dan kelak menjadi suami yang berpotensi kasar, kurang empati dstnya

Begitupula sebaliknya, setelah fitrah seksualitas keperempuanan dari anak perempuan dianggap tuntas bersama ibunya, kini saatnya anak perempuan lebih didekatkan kepada ayahnya, agar dapat memahami lelaki dari cara pandang seorang lelaki.

Anak perempuan harus memahami “bahasa seorang lelaki” secara mendalam, karena kelak dia akan menjadi istri dari seorang lelaki yang juga menjadi ayah dan imam bagi keluarganya.

Anak perempuan yang tidak dekat dengan ayahnya di tahap ini, kelak menurut riset berpeluang 6 kali menyerahkan tubuhnya kepada lelaki yang dianggap sosok ayahnya.

Anak perempuan yang dekat dengan ayahnya, secara alamiah memiliki mekanisme bertahan untuk mampu membedakan mata lelaki baik dan mana lelaki buruk dalam kehidupan sosialnya.

Catatan: Kasus anak yang dipisahkan dari ayah Ibunya terlalu cepat sebelum aqilbaligh (usia 15 tahun), baik karena peperangan, bencana, perceraian maupun karena dikirim ke boarding school, menurut banyak riset akan mengalami penyimpangan seksualitas. Kasus LGBT juga banyak terjadi di Pondok Pesantren dengan korban anak anak yang belum aqilbaligh.

Usia > 15 tahun

Ini masa dimana fitrah seksualitas kelelakian matang menjadi fitrah peran keayahan sejati, dan fitrah seksualitas keperempuanan matang menjadi peran keibuan sejati.

Wujudnya adalah kesiapan untuk memikul beban rumahtangga melalui pernikahan, membangun keluarga, menjalani peran dalam keluarga yang beradab pada pasangan dan keturunannya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

10 Manfaat Utama Madu dalam Kehidupan

Berbicara mengenai manfaat utama madu dalam kehidupan kita, saya jadi teringat saat 3 hari ini menemani anak pertama saya tiba-tiba suhunya naik. Disusul saya yang juga ikutan drop. Dan hal yang biasa kami lakukan selain mengukur suhu tubuh adalah memanfaatkan madu guna menurunkan suhu tubuh si kecil. Sempat khawatir saat anak kedua kami tidak terlalu suka madu dan sekaligus tak bersedia meminum paracetamol. Dibandingkan kakaknya yang meski sama-sama tidak dibiasakan minum obat, Azam lebih pemilih.
Syukurnya karena sering melihat sang kakak rutin minum madu, akhirnya dia bersedia mencicipi dan jatuh cinta. Jika dulu ia enggan menyentuh madu, setelah sekali cicip itu malah ketagihan. Sehari bisa berkali-kali minta minum madu. Jadi stok madu di rumah semakin cepat habis.

Seiring kebiasaan selalu menyiapkan stok madu di rumah, akhirnya malah bertemu dengan berbagai jenis madu yang ada di pasaran. Jika selama ini ada istilah “semanis madu” sepertinya untuk saat ini tak berlaku lagi mengingat ada juga madu pahit. Kan tidak mungkin mengubah istilah “hidup sepahit madu” 😀

Selain madu “manis”, juga sekarang sedang booming madu “pahit”. Rupanya tidak serta merta “asal” berbeda rasa, melainkan karena memang perbedaan rasa pada setiap madu yang dihasilkan tergantung dari sumber yang dijadikan asupan oleh si lebah. Itu kenapa meski produk dan merk sama, rasa terkadang berbeda.

Beberapa jenis madu yang beredar di pasaran kita dikenal dengan nama yang seringkali berasal dari asal tanaman yang diambil oleh lebah sebagai produsen makanan manis ini. Ada madu kelengkeng, madu karet, madu kapuk, madu hutan, madu ternak, madu mete, madu rambutan, madu kaliandra, madu durian, madu rambutan, dan sebagainya.

Manfaat Madu

Setiap jenis madu dapat memiliki khasiat tambahan yang berbeda karena kandungan di dalamnya menyesuaikan pula dengan sumber makanan yang didapat lebah dalam proses pembuatan cairan kental nan manis lezat ini. Namun secara umum, madu memiliki kandungan gula yang dominan dan dilengkapi dengan vitamin serta mineral. Ditambah antioksidan yang dapat membantu menangkal radikal bebas dan menjaga kesehatan kulit.

Berdasarkan kandungan umum yang terdapat pada madu tersebut, manfaat yang dapat kita rasakan diantaranya:

  1. membantu mengatasi asma dan mencegah gejala alergi
    madu memiliki kandungan yang menjadikannya sebagai anti-imflamasi yang secara natural dapat membantu menangani secara efektif bersin yang diakibatkan alergi dan sesak nafas karena asma.
  2. Menyehatkan
    Kandungan vitamin dan mineral dalam madu membantu menjaga kesehatan seseorang. Pun karena madu merupakan anti-bakteri yang baik dalam melindungi tubuh agar tidak mengalami infeksi. Pada luka luar, madu dapat dimanfaatkan untuk menangani luka bakar maupun luka bekas gigitan seranggga dan luka serupa lainnya.
  3. Membantu menurunkan berat badan
    Perpaduan asam amino yang merupakan zat yang dibutuhkan oleh tubuh. Asam amino sendiri bertugas menjadi pengontrol berat badan. Para ibu pasti senang membaca poin ini 😛
  4. Untuk Saluran Cerna yang sehat
    Minum madu hutan sebelum tidur, secara alami menjaga sistem perncernaan dapat berfuungsi dengan baik.
  5. Sebagai sumber tambahan energi
    Kandungan karbohidrat dalam madu membantu anda mengembalikan seketika tenaga saat lelah melanda. Campurkan saja madu pada segelas teh hangat, tak perlu tambahan gula. Glukosa pada madu juga dapat memberikan peningkatan kinerja tubuh karena dorongan energinya.
  6. obat batuk dan obat untuk radang terutama tenggorokan
    Batuk kering tentu mengganggu. Rasa gatal yang diakibatkannya membuat hari-hari tak nyaman. Campuran teh hangat, madu dan lemon adalah obat mujarab.
  7. sistem kekebalan tubuh meningkat
    Asupan gizi yang baik pada tubuh membantu meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Dan madu menjadi salah satu asupan tambahan yang harus masuk ke daftar.
  8. mencegah insomnia
    Campuran madu, jahe, kayu manis dan teh hangat mampu menjadi minuman yang menenangkan sehingga anda akan terbantu saat susah tidur melanda.
  9. kecantikan wajah
    Bagi anda yang memiliki kulit wajah sensitif, madu dapat dijadikan masker andalan. Bagi anda yang memiliki kulit normal pun, madu dapat menjadi salah satu “alat tempur” kecantikan yang murah berkhasiat.
  10. menurunkan resiko kanker
    antioksidan yang sempat disinggung di awal merupakan salah satu alasan kenapa madu memiliki manfaat menurunkan resiko kanker.

Selain manfaat madu yang telah disebutkan di atas, madu juga berkhasiat dalam meningkatkan jumlah dan kualitas sperma, baik bagi kesehatan reproduksi (baik pada lelaki maupun perempuan), mencegah dan membantu mengatasi selulit, pereda nyeri saat perut kosong, menurunkan resiko serangan jantung, baik bagi lambung dan pereda stress.

Bagi anda yang memiliki tekanan darah tinggi atau rendah, madu membantu menyeimbangkan tekanan darah anda, mengobati rheumatik, meningkatkan kualitas hormon, dan memperkuat fungsi ginjal.

Hati-hati dengan madu yang beredar saat ini. Pastikan anda membeli dari penjual madu terpercaya untuk memastikan madu yang dibeli adalah asli dan kualitas oke. Sebab karena banyaknya manfaat madu, tidak sedikit oknum nakal yang mencari keuntungan tinggi dengan cara menipu. 

Foto Instagram Esa

#MDanisyFI bilang ini robot.

Melatih motorik halus cukup berbekal kepercayaan dan kesabaran: masak.

Dari ngulek bumbu, bikin adonan tepung lanjut masukkan ke wajan.
Nampak sepele tapi ternyata untuk anak kecil jadi hal yang menarik. Dia bisa ngulek bumbu sampai halus, bikin adonan supaya merata, dan yang paling menantang: masukkan adonan ke wajan penggorengan.

Ibu terbantu, anak senang 😊

Danisy bangga banget makan tempe tepung buatannya sendiri. Dan sarapan pun cukup dengan tempe (padahal biasanya ga terlalu suka tempe). Bi, tempe buatan Aa enak lho

Tiba giliran mbah nelpon, ga tanggung-tanggung mbahnya diminta ke Bandung untuk ngerasain masakannya. Wihiii.. from Instagram: http://ift.tt/2aB5omp Follow Instagram @esapg

Foto Instagram Esa

Jika diberi kesempatan maka anak akan memiliki keberanian untuk mencoba dan belajar.

Tanpa diajari dia akan tahu bagaimana membuat mainan ini berputar karena melihat orang lain melakukannya. Belajar secara tak langsung.

#CatatanBersamaAnak #CatatanEsa #LimesFamily from Instagram: http://ift.tt/2amwgXE Follow Instagram @esapg