Semoga Menjadi Pelajaran

Sore tadi ketika dapat kabar bahwa suami tidak memungkinkan pulang dari luar kota, yang pertama kali dipikirkan adalah manajemen emosi. Heuheu. Karena jadi bikin campur aduk.

Yang kemudian terpikir adalah bagaimana sahurnya anak-anak. Kalau bicara tentang ditinggal berdua, ini bukanlah pengalaman pertama. Tapi karena ada agenda sahur, justru hal ini yang dikhawatirkan. Bukan tentang makannya apa karena mereka sudah bisa menyiapkan makanan sendiri melainkan apakah mereka bisa bangun sendiri jauh sebelum shubuh untuk masak dll.

Baca lebih lanjut

Pertolongan Allah itu Unpredictable

Ketika bertekad untuk tetap masak di ramadhan ini (dan dengan idealisme mesti ada menu sayur di dalamnya), Allah takdirkan dapat amanah mendampingi peserta sanlat dan tentu saja tetap ada jadwal KBM di tempat berkhidmat. Sempat coba merencanakan dengan semaksimal mungkin sebelum Ramadhan tiba tapi di hari pertama shaum, rupanya fisik masih penyesuaian. Lemes banget. Alhasil hanya sanggup masak untuk sahur dan buka. Tak sempat ber-food-prep ria untuk yang berikutnya.

Hari pertama sanlat, alhamdulillah kondisi fisik aman tapi akhirnya mengalami kebingungan karena nyatanya food prep belum bisa bener-bener jalan akibat kondisi fisik yang perlu rehat juga setelah agenda itu. Alhamdulillah sempat masak dulu meski hanya satu jenis, dan lauk pendamping akhirnya beli qadarullah.

Baca lebih lanjut

Menyusui dan Menyapih, Awal dan Akhir

Proses menyusui adalah sebuah kegiatan menarik bagi kehidupan seorang ibu (dan tentu juga bagi anak). Masa yang harus dilalui dan pada akhirnya harus diakhiri. Dan karena proses menyusui dimulai dengan cinta, maka kelak harus diakhiri dengan cara cinta pula.

Dalam bahasan sapih saat ini terkenal sebuah istilah bernama “WWL” alias Weaning With Love (menyapih dengan cinta). Tidak ada yang aneh dengan proses WWL ini, kuncinya ada di komunikasi dengan anak. Agar ia siap menyapih sendiri. Tidak ada acara membohongi anak dengan mengoles apa gituh yang bikin anak merasakan nenennya pahit atau ditakut-takuti dengan diwarnai, dan sebagainya.

lovebreast Baca lebih lanjut

Access Perdana bersama Anak

Ada banyak cerita menarik di balik file tutorial Microsoft Access yang saya buat kemarin. Sederhana sekali baik programnya maupun tutorialnya.

Tutorial tersebut berisi penjelasan gambar. Sekadar mengantisipasi siapa tau ada yang merasa tidak cukup jika hanya berbekal gambar 😀

Tutorial di grup FB sendiri belum dimulai. Saya baru infokan link download-nya saja (yang ini).

Salah satu hal menarik adalah keterlibatan anak-anak. Mereka membantu dengan caranya tersendiri.

Ada yang bantu pencet-pencet tombol. Maklum baru kali ini lihat umminya kerja pake laptop.

Ada sesi request nonton video dulu. Ada sesi laptopnya jatuh karena ada yang penasaran angkat meja.

Suami akhirnya turun tangan setelah denger kegaduhan semakin menjadi. Anak-anak bersama abinya ngungsi ke kamar, main disana.

Tak lama, yang kecil lari keluar menuju tempat saya sedang “bekerja”. No no.. tapi kata “no” ummi tak digubris 😀
Disusul sulung yang mengejar sang adik.
“Jangan kesini plis” umminya memelas dan mereka cuek. Tetep aja lari saling mengejar di sekitaran saya beraktifitas.
“Setelah selesai kerjaannya, ummi join deh main sama kalian”
Si sulung terdiam lalu mengacungkan jempol “asyik. Oke ummi. Hayu Zam ke kamar lagi” katanya. Dan si kecil pun turut langkah kakaknya.

Bergegas menyelesaikan tutorialnya, agar dapat segera diperoleh teman-teman yang sudah join grup. Jika sudah diunduh dan diaplikasikan, nanti tinggal diskusikan permasalahannya dimana. Atau jika ada yang akan ditanyakan.

Ukuran file-nya kecil kok. Hanya sekitar 8 halaman saja. Dan InSyaAllah mudah untuk disesuaikan karena memang mudah sekali prakteknya.

Yang mau join grup untuk belajar Access bareng, silahkan langsung klik disini (klik). Grupnya sengaja dibuat tertutup untuk menjaga privasi.

Note: sy bukan ahli di bidang ini. Hanya ingin berbagi ttg apa yg sudah berhasil sy buat. Kalau berdasarkan ilmu programming, masih jauh dr kaidah-kaidah yg seharusnya. Harap maklum.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Stop Stop

“Stop stop. Sudah. Aku sudah tahu.”
Baiklah kalau begitu. Tadinya cuma mau cerita.

image

Apa sih yang dirasakan ketika mendapatkan kalimat seperti itu ketika kita sedang berbicara dengan seseorang trus tiba-tiba disuruh berhenti padahal ceritanya belum selesai. Padahal niat kita hanya menjelaskan saja..

Sedih? Kesel? Biasa aja?

Baca lebih lanjut