Menyusui dan Menyapih, Awal dan Akhir

Proses menyusui adalah sebuah kegiatan menarik bagi kehidupan seorang ibu (dan tentu juga bagi anak). Masa yang harus dilalui dan pada akhirnya harus diakhiri. Dan karena proses menyusui dimulai dengan cinta, maka kelak harus diakhiri dengan cara cinta pula.

Dalam bahasan sapih saat ini terkenal sebuah istilah bernama “WWL” alias Weaning With Love (menyapih dengan cinta). Tidak ada yang aneh dengan proses WWL ini, kuncinya ada di komunikasi dengan anak. Agar ia siap menyapih sendiri. Tidak ada acara membohongi anak dengan mengoles apa gituh yang bikin anak merasakan nenennya pahit atau ditakut-takuti dengan diwarnai, dan sebagainya.

lovebreastProses menyusui disebutkan dalam alQuran ketika bertutur tentang ibu, ayah dan anak. Bagi saya ini seperti membicarakan kesatuan lengkap sebuah keluarga: ayah, ibu dan anak. Bisa dibuka surah Al-Baqarah, ayat 233:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Keren ya alQuran ini. Panduannya lengkap banget. Ibu diminta menyusui anaknya, ayah bagian memberikan kenyamanan pada ibu (yang ini nantinya ngaruh ke mood ibu dalam mendidik dan membesarkan anak, plus ngaruh ke ASI juga). Dan kelonggaran tentang menyusui pun disebutkan sepaket dalam ayat ini. MaSyaAllah..

Kembali ke bahasan tentang menyusui. Pengalaman menyusui 2 anak lelaki, menjadi cerita tersendiri. Meski keduanya sama-sama lahir dari rahim yang sama, orang tua yang sama, tapi Allah menciptakan keduanya dengan sifat yang tidak sama.

Ketika anak pertama dulu, tantangannya bermula sedari selesai lahiran. Danisy ga ngalamin yang namanya IMD (inisiasi menyusui dini) karena ketidaktahuan saya tentang juklak IMD. Jadi meski saya mencoba mencari RS yang support IMD dan ASI plus bisa rooming-in (satu ruangan dengan bayi), pada kenyataannya ada kondisi yang tidak sesuai. Mungkin karena kondisi Danisy saat itu juga dianggap gawat sehingga begitu lahir, dia langsung diangkut entah ke mana. Ketika balik lagi ke saya, sudah lengkap dengan baju dan berbalut bedong. Dan dalam keadaan tidur. Hehe..

Selama seminggu pertama setelah lahir, Danisy susah sekali dibangunkan untuk menyusu. Ketika kontrol ternyata Danisy mengalami hyperbilirubine, sebuah keadaan dimana heparnya belum bisa berfungsi dengan baik dalam memecah bilirubin dan bisa dibilang “keracunan” makanya lemes dan susah nyusu. Umumnya masyarakat menyebut dengan istilah “kuning”.

Bilirubine Total Danisy saat itu 19,8 dari ambang batas normal 10 dengan batas toleransi 13. Berpotensi merusak otak (saya baru tau tentang resiko ini setelah Danisy sembuh dan googling. Saat Danisy akan dirawat saya ga tau soal potensi merusak otak ini, hanya saja setelah konsul dengan temen yang bidan, dia cuma bilang, bahaya kalau ga diterapi).

4 menjelang 5 hari Danisy dirawat dengan phototherapy (disinar menggunakan ultraviolet). Teman-teman yang membaca status saya tentang Danisy, termasuk teman bidan tempat saya sering bertanya, memberikan masukan bahwa obat mujarab selain terapi adalah dengan ASI.

Saya yang memang sedari hamil Danisy ingin ASI eksklusif tentu saja setuju dengan masukan-masukan itu. Makanya saya sering mengeluarkan Danisy dari tempat terapi. Menurut dokter, jika respons anak baik, bilirubin totalnya bisa turun ke angka normal dalam 4 hari (4 poin per hari turunnya). Sayangnya sempat ada kejadian ga enak dimana oknum perawat sana datang ke ruangan para bayi disinar lalu menegur agar anak ga sering dikeluarkan, kasih sufor aja katanya. Beuh.. (dan salah satu orang tua bayi beneran nurutin loh. Sudah dikasih masukan tapi dia lebih menuruti kata si perawat aneh tadi). Padahal dokternya sudah bilang, ASI aja. Mana hasil perah ibu itu selalu banyak jika dibanding hasil perah saya.

Alhamdulillah sudah pernah baca tentang ASI Perah. Meski awal Danisy dirawat dapetnya dikit karena sayanya yang masih sering nangis padahal anaknya anteng. Setelah dinasehati harus kuat dan rileks supaya produksi ASI banyak, Alhamdulillah hari kedua sudah mulai banyak hasil perahnya. Saya yang semula keukeuh memberikan ASIP dengan sendok akhirnya memilih botol untuk lebih memudahkan.

Dari kejadian itu semakin mahir pumping untuk ASI perah. Pengalaman ini juga berguna sekali ketika Danisy usia 1 bulan sementara saya harus urusin kerjaan ke luar kota, karena stok ASIP ga memungkinkan jadi Danisy dibawa sambil minta mamah nemenin supaya ketika rapat nanti Danisy dititip dengan ASIP dan setelah selesai bisa disusui langsung. Pun ketika kembali kuliah saat Danisy usia 3 bulan.

Danisy berhenti sendiri menyusu di usia 27 bulan, ketika usia kandungan saya 7 bulan (kehamilan anak kedua). Saya mengajak Danisy ngobrol tentang ini sedari usia 18 bulan tapi ga intens. Barulah setelah hamil anak kedua, saya mulai gencar sounding pada Danisy. Kalimat yang selalu dikatakan “Aa sudah besar. Kalau Aa haus, minum air putih aja dari gelas. Kalau lapar, makan ya. Pas usia Aa 2 tahun, udah ga nenen sama ummi karena kan sudah besar.” Tidak sedikitpun menyinggung “ASI untuk adek” karena khawatir merasa adik bayinya merebut kegiatan yang konon membentuk bonding ibu dan anak.

Keberhasilan sapih adalah keberhasilan ibu, ayah dan anak. Kenapa ayah dilibatkan? Yep, karena dukungan suami itu penting baik dalam proses menyusui maupun proses sapih. Caranya? Khusus untuk sapih, dukungannya berupa mengingatkan ibu apakah sudah siap sapih (dan menyiapkan diri untuk proses sapih), menemani anak lebih intens, mengalihkan perhatian anak agar lupa pada keinginannya menyusu (yang jika sudah besar sebenarnya lebih pada kegiatan mencari kenyamanan).

Alhamdulillah suami mendukung selama menyusui dan sapih. Menjadi tameng ketika banyak yang menanyakan tentang keputusan kami memberikan ASI eksklusif. Saya menjelaskan ke keluarga saya, dan suami menjelaskan ke keluarganya. Termasuk ketika saya masih menyusui Danisy saat saya sedang hamil karena ingin menyempurnakan penyusuan hingga 2 tahun. Kami jelaskan ke keluarga kami masing-masing bahwa selama tidak ada keluhan terhadap kanndungan, semua baik-baik saja baik bagi saya, Danisy maupun janin. Ini kemudian membuka cakrawala ilmu baru bagi keluarga kami. Tentang ASI, ASI Perah dan Menyusui saat hamil (NWP/nursing while pregnant).

Sementara pengalaman menyusui Azam hampir tidak mengalami kendala berarti karena Azam tidak mengalami kuning (kalaupun mengalami, saya sudah menyiapkan perlengkapan tempurnya) dan Alhamdulillah Azam mengalami IMD karena saya mencari tahu tentang juklak IMD plus mencari tempat lahiran yang support tentang IMD ini, Alhamdulillah sama Allah dipertemukan dengan bidan yang mendukung dan tau juklak IMD. Begitu lahir, potong ari-ari lalu bayinya diletakkan ke perut saya untuk IMD sementara ibu bidan menjahit perineum yang robek. Takjub melihat bagaimana ia meraih puting untuk menyusu pertama kalinya. 1 jam pertama yang menakjubkan.

Azam kuat banget nyusu, berat badannya naik banyak. Alhamdulillah. Tantangannya justru di sapih. Di usianya yang hari ini tepat 2 tahun, Azam masih nyusu. Dulu ketika Danisy seusia ini juga masih nyusu tapi sudah lumayan berkurang.

Tadi ketika bangun sebelum shubuh, biasanya minta nenen, tapi kali ini tidak. Dia minta minum. Alhamdulillah, semoga sounding-nya berhasil.

loveSaya menunggu pagi ketika ia bangun setelah tadi tidur lagi. Ternyata tetep minta nyusu 😀 sepertinya saya, suami, Danisy dan Azam belum sepenuhnya siap nih tentang sapih kali ini. Mari mencoba lagi ^_^

*Note: karena tulisan ini juga saya jadi kaget dan merasa salut ketika iseng share potongan ayat dari ponsel ke laptop, dari aplikasi iQuran via SHAREit ternyata bisa. File masuk ke laptop dalam format .txt lengkap dengan arabic-nya. Sayangnya bagian arabic kacau pas di-paste ke tulisan.

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s