Aliran Rasa Telur Esa

Alhamdulillah ternyata semalam adalah materi pertama level Ulat di kelas Bunda Cekatan. Sudah 4 pekan belajar, mencoba menemukan ritme yang paling pas untuk tetap bisa mengikuti kelas di sela aktivitas yang sejak semester lalu bertambah, di ranah publik.

Bagi amatiran di dunia persekolahan macam saya, berbagai agenda keguruan itu butuh perjuangan untuk menyelesaikannya. Ditambah perjuangan ngejar live session pembelajaran. Bisa sih dengerin nanti karena toh video maupun MP3 akan dibagikan. Tapi rasanya beda aja.

Meskipun di saat mengikuti live ini belum sepenuhnya mengerti, bahkan di sesi tanya jawab pun baru 1x mengajukan pertanyaan, tapi mendengar ulang di lain waktu setelah ikut live sebelumnya, itu beda feel nya.

Lagipula, saya sedang belajar untuk betul-betul menerapkan adab dalam menuntut ilmu, diantaranya komitmen terkait waktu pembelajaran. Jika live jam 20, maka layaknya kelas tatap muka, saya mesti hadir di jam segitu. Menghargai diri, waktu, guru dan semua perangkat di dalamnya.

Sempat terpikir untuk berhenti saja. Tak lanjut dulu mengikuti batch ini. Tapi setelah dipertimbangkan, ini bisa jadi adalah salah satu penggemblengan yang akan bermanfaat bagi saya khususnya, keluarga dan sekitar pada umumnya.

Bahagia rasanya berhasil menaklukkan tantangan 1 bulan ke belakang. Mendengar kembali materi dan mengerjakan jurnal di sela kesibukan membuat soal ujian dan mengisi rapor. Bahkan jika hari Selasa ada rapat di sekolah, maka saya akan jadi cinderella justru di hari Senin-nya. Sampai pernah status wa terkait jurnal Buncek dikomentari oleh kepala sekolah 😂 karena khawatir ga keburu replay dan mengerjakan di hari Selasa akibat kelelahan ataupun ada tugas dari pihak sekolah.

Jika beberapa teman mengaku mesti menidurkan anaknya terlebih dahulu, saya memilih melibatkan mereka. Dan nyatanya, mereka jadi supporter terbaik. Mengingatkan saat Ummi belum lapor sama mereka kalo jurnal sudah dikumpulkan, membangunkan anak bayi sudah ga tahan untuk tidur, lalu Ummi ketiduran saat kelon, bahkan menemani sampai Ummi setor jurnal. Iya, si sulung turut begadang di jurnal terakhir kelas telur kemarin.

Hal yang paling membekas dan semakin menguatkan apa yang selama ini coba diterapkan adalah: jangan tergesa meminta suami atau anak terlibat. Kita dulu yang mesti bahagia menjalankannya. Meskipun saat setoran jurnal emak nampak serius, tapi suami dan anak-anak nampaknya mulai melihat hal ini sebagai sesuatu yang menyenangkan. Ya karena saya memutuskan untuk mengikuti saran dari bu Septi dan pak Dodik: berbahagia mengikuti prosesnya.

Secara jurnal, entah sudah benar atau tidak. Tapi selalu mengupayakan yang terbaik. Dan alhamdulillah semakin menguatkan langkah yang sedang diayun.

Barakallahu fiykum tim Buncek IIP. Jazakumullah khairan, akang suami beserta 3 bocah hebat 😇
#bundacekatan
#kelastelurtelur
#institutibuprofesional
#aliranrasatahaptelurtelur

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s