SMS Doa

Minggu, 8 November 2009

 

Ya Allah berkahilah saudaraku ini dengan rahmatMu. Iringi tiap langkahnya dengan rihaMu. Lindungi dengan cahayaMu. Masukkan ia ke dalam golongan hambaMu yang berhak mendapat kedudukan terpuji dengan rahmat dan kasih sayangMu. Mudahkan ibadahnya. Limpahi keluarganya dengan cinta dan kasih sayang. Amin.

Ya Allah berkahilah saudaraku ini dengan rahmatMu. Iringi tiap langkahnya dengan rihaMu. Lindungi dengan cahayaMu. Masukkan ia ke dalam golongan hambaMu yang berhak mendapat kedudukan terpuji dengan rahmat dan kasih sayangMu. Mudahkan ibadahnya. Limpahi keluarganya dengan cinta dan kasih sayang. Amin.

Ya Rahman, Ajarkan kami untuk tidak pernah berputus asa dariMu. Ajari kami untuk selalu berharap yang terbaik dariMu. Ajari kami untuk berani bercita-cita dan merencakan hidup yang indah bersama orang-orang yang mencintaiMu..

Jadikan aku wanita yang TULI, BISU, BUTA, LUMPUH dari hal-hal yang Engkau haramkan..

Ya Allah, jagalah saudaraku di kala penjagaanku tak sampai kepadanya. Sayangi ia di kala rasa sayangku tak mampuh merangkulnya dalam dekapan yang nyata. Muliakan ia di kala penghargaanku tak terangkum dalam kata yang sahaja.. Karena Engkau punya segala yang tak kupunya, semoga ia selalu menjadi saudaraku di jalanMu hingga akhir kelak. Amin.

 

Bahasan cinta emang ga akan pernah ada habisnya. Cinta memang berefek luar biasa.. Menjadikan seseorang benar-benar keluar dari kebiasaan dirinya. Dan begitulah cinta kemudian memberikan arti luar biasa dalam kehidupan seseorang.

Jika saya berbicara cinta dengan para remaja, adik-adik mentor misalnya.. maka itu adalah bahasan yang akan sangat menyenangkan dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam.

Lihatlah dunia berubah karena cinta. Lihatlah ribuan kata telah terangkai indah hanya karena cinta. Lihatlah betapa banyak lembaran kertas menjadi saksi kisah para pecinta. Dan lihatlah dunia ini pun bersinar hanya karena cinta, cinta Allah. Maka lihat pula Islam telah menyebar hanya karena cinta, cinta kepada Allah.

Banyak hal tak terduga terjadi karena cinta. Dan begitulah cinta memberi arti luar biasa ketika kita mampu menyikapinya dengan cara yang tak pula biasa. Memahami dan memilah rasa. Mendewasakan diri dan jiwa untuk cinta.

Dan begitulah cinta memberi arti luar biasa. Allah memang selalu punya skenario yang di luar dugaan tapi indah. Ketika cinta berlabuh pada sebuah dermaga yang sama untuk kemudian kembali berlayar bersama menuju keridhaanNya.. ada rasa yang membuncah luar biasa. Inikah yang dinamakan cinta? Cinta yang indah..

Ketika niat suci itu berhimpun menjadi satu. Meski tak pernah ada prasangka ke arah sana, tapi ketika kabar itu disampaikan ada rasa yang baru saja muncul, rasa  yang sangat asing. Ketika sa harus menjawabnya, betapa seolah perasaan itu semakin terasa. Begitukah cinta merubah seseorang? Begitukan ketika cinta yang kita pahami adalah sebuah kata kerja? Subhanallah. Indah ya. Pantas banyak sekali orang yang mengatakan cinta itu indah.

Apa ini karena sa ga pernah jatuh cinta? Bukan. Bukan seperti itu. Sa pernah jatuh cinta. Berulang kali. Tapi kali ini memang terasa lain.. Lain sekali. Indah. Bener-bener kerasa indah. Iya lah. Tak pernah ada sama sekali pikiran akan kejadian ini. Bermimpi saja mungkin bisa dibilang hampir ga pernah..

Begitulah Alah memiliki cara yang indah untuk mengajarkan cinta kepada hambaNya..

Cara Ngemil yang Aneh

Kamis, 5 November 2009

Hari ini ceritanya dapet roti cane.. beuh, gimana gituh rasanya. Nah, pas ditawarin kopi.. mikirnya ntar enak kan klo makan roti canenya sama kopi, kayak iklan good day itu, yg good day bikin ga enaknya kue berkurang.. akhirnya dicoba lah cara itu. Tapi tau ga? Makin eneg aja.. hahaha..

ceritanya mau dibawa pulang roti cane itu, tapi karena pengen ngemil akhirnya dibuka jg.. eh.. ternyata hasilnya tetep sama, sa ga terlalu suka.. gimana ya?

ya, liat aja, ada yang mau ngabisin ga d kntor.. klo ga ada berarti dibawa ke rumah. Btw, kayaknya roti gini enaknya pke saus. heuheu.. jd ntar sedikit hilang enegnya sama saus, kyk pizza gt deh. hee.. [ga jg deng, cm pikiran aja] enaknya sih beli martabak.. tp.. kayaknya butuh makanan ringan deh.. hee.. tp males jg klo harus beli-beli ke warung, soalnya.. ya sudahlah,, kenyang nih ngemil roti kyk gini,, ada yg mau ngirim makanan ringan? heu..

Catatan Cinta

Kamis, 5 November 2009

Dapet dari email.. Ga ada judul khusus.. Catatan cinta aja kali ya..

Bagi saya, kisah ini memberikan banyak inspirasi kebaikan. Berkali
membacanya, tidak serta merta membuat bosan. Berikut saya posting di
milis ini, mungkin ada di antara sahabat yang belum baca. Semoga ada
kebaikan yang bisa dipetik.
Kisah ini ditulis oleh Tasaro GK, penulis novel best seller “Galaksi
Kinanthi”, ketua FLP Jawa Barat saat ini.

Di mana lagi aku temui perempuan semacammu? Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, keimananmu pun seolah bersandar
kepadaku. Tapi, di mana lagi aku temui perempuan seikhlasmu?
Wajahmu tak cantik melulu, masakanmu pun tidak lezat selalu.
Tapi, katakan kepadaku, di mana lagi aku jumpai perempuan seperkasamu?
Kau bahkan tidak biasa berbicara mewakili dirimu sendiri, dan acapkali
menyampaikan isi hatimu dalam bahasa yang tak berkata-kata.

Demi Tuhan, tapi aku benar-benar tidak tahu, ke mana lagi aku cari
perempuan seinspiratif dirimu?
Ingatkah lima tahun lalu aku hanya memberimu selingkar cincin 3 gram
yang engkau pilih sendirian? Tidak ada yang spektakuler pada awal
penyatuan kita dulu. Hanya itu. Karena aku memang tidak punya apa-apa.
Ah, bagaimana bisa aku menemukan perempuan lain sepertimu?

Aku tidak akan melupakan amplop-amplop lusuhmu, menyimpan lembaran ribuan yang kausiapkan untuk belanja satu bulan. Dua ribu per hari.

Sudah kauhitung dengan cermat. Berapa rupiah untuk minyak tanah, tempe,
cabe, dan sawi. Ingatkah, Sayang? Dulu kita begitu akrab dengan racikan
menu itu. Setiap hari. Sekarang aku mulai merasa, itulah masa paling
indah sepanjang pernikahan kita.

Lepas maghrib aku pulang, berkeringat sebadan, dan kaumenyambutku dengan
tenang. Segelas air putih, makan malam: tempe, sambal, dan lalap sawi.
Kita bahagia. Sangat bahagia…..

Aku bercerita, seharian ada apa di tempat kerja. Kau memijiti punggungku
dengan jemarimu yang lemah tapi digdaya. Kau lalu bercerita tentang
tingkah anak-anak tetangga… Kala itu kita begitu menginginkan
hadirnya buah cinta yang namanya pun telah kusiapkan sejak
bertahun-tahun sebelumnya.
Kita tidak pernah berhenti berharap, kan, Honey?
Dua kali engkau menahan tangismu di ruang dokter saat kandunganmu mesti
digugurkan. Aku menyiapkan dadaku untuk kepalamu, lalu membisikkan
kata-kata sebisaku, “tidak apa-apa. Nanti kita coba lagi. Tidak
apa-apa.”

Di atas angkot, sepulang dari dokter, kita sama-sama menangis, tanpa
isak, dan menatap arah yang berlawanan. Tapi, masih saja kukatakan
kepadamu, “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Kita masih
muda.” Engkau tahu betapa lukanya aku. Namun, aku sangat tahu,
lukamu berkali lipat lebih menganga dibanding yang kupunya. Engkau
selalu bisa segera tersenyum setelah merasakan sakit yang mengaduk
perutmu, saat calon bayi kita dikeluarkan. Kaumemintaku menguburkannya
di depan rumah kita yang sepetak. “Yang dalam, Kang. Biar nggak
digali anjing.”
Jadi, ke mana aku bisa mencari perempuan sekuat dirimu?

Kaupasti tak pernah tahu, ketika suatu petang, sewaktu aku masih di
tempat kerja, hampir merembes air mataku ketika kauberitahu. “Kang,
Mimi ke Ujung Berung, jual cincin.” Cincin yang mana lagi? Engkau
sedang membicarakan cincin kawinmu, Sayang. Yang 3 gram itu. Aku
membayangkan bagaimana kau beradu tawar menawar dengan pembeli emas
pinggir jalan. Bukankah seharusnya aku masih mampu memberimu uang untuk
makan kita beberapa hari ke depan? Tidak harus engkau yang ke luar
rumah, melawan gemetar badanmu, bertemu dengan orang-orang asing.
Terutama … untuk menjual cincinmu? Cincin yang seharusnya menjadi
monumen cinta kita. Tapi kausanggup melakukannya. Dan, ketika kupulang,
dengan keringat sebadan, engkau menyambutku dengan tenang. Malam itu,
tidak cuma tempe, cabe, dan lalap sawi yang kita makan. Kaupulang
membawa uang.

Duh, Gusti, jadi bagaimana aku sanggup berpikir untuk mencari perempuan
lain seperti dirinya?
Ketika kondisi kita membaik, bukankah engkau tidak pernah meminta
macam-macam, Cinta? Engkau tetap sesederhana dulu. Kaubelanja dengan
penuh perhitungan. Kauminta perhatianku sedikit saja. Kau kerjakan semua
yang seharusnya dikerjakan beberapa orang. Kaucintai aku sampai ke
lapisan tulang. Sampai membran tertipis pada hatimu.

Ingatkah, Sayang? Aku pernah menghadiahimu baju, yang setelah itu kautak
mau lagi membeli pakaian selama bertahun-tahun kemudian. Baju itu
seharga kambing, katamu. Kautak mau buang-buang uang. Bukankah telah
kubebaskan kau mengelola uang kita? Kautetap seperti dulu. Membuat
prioritas-prioritas yang kadang membuatku kesal. Kau lebih suka mengisi
celengan ayam jagomu daripada membeli sedikit kebutuhanmu sendiri.

Dunia, kupikir aku tak akan pernah menemui lagi perempuan seperti dia.
Sepekan lalu, Sayang, sementara di rahimmu anak kita telah sempurna,
kaumasih memikirkan aku. Menanyai bagaimana puasaku, bukaku, sahurku?
Siapa yang mencuci baju-bajuku, menyetrika pakaianku. Bukankah sudah
kupersilakan engkau menikmati kehamilanmu dan menyiapkan diri untuk
perjuanganmu melahirkan anak kita?

“Kang, maaf, ya, dah bikin khawatir, gak boleh libur juga gak papa.
Tadi tiba-tiba gak enak perasaan. Tau nih, mungkin krn bentar lagi.”
Bunyi smsmu saat kudalam perjalanan menuju Jakarta. Panggilan tugas.
Dan, engkau sangat tahu, bagiku pekerjaan bukan neraka, tetapi komitmen.
Seberat apa pun, sepepat apa pun, pekerjaan adalah sebuah proses
menyelesaikan apa yang pernah aku mulai. Tidak boleh mengeluh, tidak
boleh menjadikannya kambing hitam. Membaca lagi SMSmu membuatku semakin
tebal bertanya, ke mana lagi kucari seorang pecinta semacammu.
Kaumencintaiku dengan memberiku sayap. Sayap yang mampu membawaku
terbang bebas, namun selalu memberiku alamat pulang kepadamu. Selalu.

Lalu SMS mu itu kemudian menjadi firasat. Sebab, segera menyusul
teleponmu, pecah ketubanmu. Aku harus segera menemuimu. Secepat-cepatnya
meninggalkan Bandung menuju Cirebon untuk mendampingimu. “Terus kamu
kenapa masih di sini? Pulang saja,” kata atasanku ketika itu. Engkau
tahu, Sayang, aku masih berada di dalam meeting ketika teleponmu
mengabarkan semakin mendekatnya detik-detik lahirnya “tentara
kecil” kita. Ketika itu aku masih berpikir, boleh kuselesaikan
meeting itu dulu, agar tidak ada beban yang belum terselesaikan. Tapi,
tidak. Atasanku bilang, tidak. “Pulang saja,” katanya. Baru
kubetul-betul sadar, memang aku segera harus pulang. Menemuimu.
Menemanimu. Lalu, kusalami mereka yang ada di ruang rapat itu satu-satu.
Tidak ada yang tidak memberikan dorongan, kekuatan, dukungan.

Lima jam kemudian aku ada di sisihmu. Seranjang sempit rumah sakit
dengan infuse di pergelangan tangan kirimu. Kaumulai merasakan mulas,
semakin lama semakin menggila. Semalaman engkau tidak tidur. Begitu juga
aku. Berpikir untuk memejamkan mata pun tak bisa. Aku tatap baik-baik
ekspresi sakitmu, detik per detik. Semalaman, hingga lepas subuh, ketika
engkau bilang tak tahan lagi. Lalu, aku berlari ke ruang perawat.
“Istri saya akan melahirkan,” kataku yakin.

Bergerak cepat waktu kemudian. Engkau dibawa ke ruang persalinan, dan
aku menolak untuk meninggalkanmu. “Dulu ada suami yang ngotot
menemani istrinya melahirkan, lihat darah, tahu-tahu jatuh pingsan,”
kata dokter yang membantu persalinanmu. Aku tersenyum, yang pasti
laki-laki itu bukan aku. Sebab aku merasa berada di luar ruang
persalinan itu akan jauh lebih menyiksa. Aku ingin tetap di sisihmu.
Mengalirkan energi lewat genggaman tanganku, juga tatapan mataku.

Terjadilah. Satu jam. Engkau mengerahkan semua tenaga yang engkau tabung
selama bertahun-tahun. Keringatmu seperti guyuran air. Membuat mengilap
seluruh kulitmu. Terutama wajahmu. Menjerit kadangkala. Tanganmu
mencengkeram genggamanku dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan
sebelumnya. Kekuatan yang lahir oleh kesakitan. Engkau sangat kesakitan,
sementara “tentara kecil” kita tak pula mau beranjak.

“Banyak kasus bayi sungsang masih bisa lahir normal, kaki duluan.
Tapi anak ini kakinya melintang,” kata dokter. Aku berusaha tenang.
Sebab kegaduhan hatiku tidak bisa membantu apa-apa. Kusaksikan lagi
wajah berpeluhmu, Sayang. Kurekam baik-baik, seperti fungsi kamera
terbaik di dunia. Kusimpan lalu di benakku yang paling tersembunyi.
Sejak itu kuniatkan, rekaman itu akan kuputar jika suatu ketika
kuberniat mencurangimu, menyakitimu, melukaimu, mengecewakanmu. Aku akan
mengingat wajah itu. Wajah yang hampir kehilangan jiwa hanya karena
ingin membuatku bahagia.

“Sudah tidak kuat, Kang. Nggak ada tenaga,” bisikmu persis di
telingaku. Karena sengaja kulekatkan telingaku ke bibirmu. Aku tahu, ini
urusan nyawa. Lalu kumerekam bisikanmu itu. Aku berjanji pada hati,
rekaman suaramu itu akan kuputar setiap lahir niatku untuk
meminggirkanmu, mengecilkan cintamu, menafikkan betapa engkau permata
bagi hidupku.

Aku mengangguk kepada dokter ketika ia meminta kesanggupanku agar engkau
dioperasi. Tidak ada jalan lain. Aku membisikimu lagi, persis di
telingamu, “Mimi kuat ya. Siap, ya. Ingat, ini yang kita tunggu
selama 5 tahun. Hayu semangat!”
Engkau mengangguk dengan binar mata yang hampir tak bercahaya. Aku tahu,
ini urusan nyawa. Tapi mana boleh aku memukuli dinding, menangis
sekencang angin, lalu mendongak ke Tuhan, “Kenapa saya, Tuhan!
Kenapa kami?” Sebab, Tuhan akan menjawab, “Kenapa bukan kamu?
Kenapa bukan kalian?”

Aku mencoba tersenyum lagi. Mengangguk lagi kepadamu. “Semua akan
baik-baik saja.” Maka menunggumu di depan ruang operasi adalah saat
di mana doa menjadi berjejal dan bernilai terkhusyuk sepanjang hidup.
Seandainya aku boleh mendampingi operasimu…. Tapi tidak boleh. Aku
menunggumu sembari berkomat-kamit sebisaku. Aku sendirian. Berusaha
tersenyum, tetapi sendirian. Tidak … tidak terlalu sendirian. Ada
seseorang mengirimiku pesan pendek dan mengatakan kepadaku, “Aku ada
di situ, menemanimu.” Kalimat senada kukatakan kepadanya suatu kali,
ketika dia mengalami kondisi yang memberatkan. “Apa kepala bebalmu
tidak merasa? Aku ada di situ! Menemanimu!”

Lalu, tangis itu! Rasanya seperti ada yang mencabut nyawaku dengan cara
terindah sedunia. Tangis itu! Tentara kecil kita. Menjadi gila rasanya
ketika menunggu namaku disebut. Berlari ke lorong rumah sakit ketika
tubuh mungil itu disorongkan kepadaku. “Ini anak Bapak…”

Tahukah engkau, Sayang. Ini bayi yang baru keluar dari rahimmu, dan aku
harus menggendongnya. Bukankah dia terlau rapuh untuk tangan-tangan
berdosaku? Dokter memberiku dukungan. Dia tersenyum dengan cara yang
sangat senior. “Selamat, ya. Bayinya laki-laki.”

Sendirian, berusaha tenang. Lalu kuterima bayi dalam bedongan itu. Ya,
Allah….bagaimana membahasakan sebuah perasaan yang tidak terjemahkan
oleh semua kata yang ada di dunia??? Makhluk itu terpejam tenang semacam
malaikat; tak berdosa. Sembari menahan sesak di dadaku, tak ingin
menyakitinya, lalu kudengungkan azan sebisaku. Sebisaku. Sebab, terakhir
kukumandangkan azan, belasan tahun lalu, di sebuah surau di pelosok
Gunung Kidul. Azan yang tertukar redaksinya dengan Iqomat.

Mendanau mataku. Begini rasanya menjadi bapak? Rasanya seperti tertimpa
surga. Aku tak pedul lagi seperti apa itu surga. Rasanya sudah tidak
perlu apa-apa lagi untuk bahagia. Momentum itu berumur sekitar lima
menit. Tentara kecil kita diminta oleh perawat untuk dibersihkan.
Ingatanku kembali kepadamu. Bagaimana denganmu, Sayang? Kukirimkan kabar
tentang tentara kecil kita kepada seseorang yang semalaman menemani kita
bergadang dari kejauhan. Dia seorang sahabat, guru, inspirator, pencari,
dan saudara kembarku. “He is so cute,” kata SMS ku kepadanya.
Sesuatu yang membuat laki-laki di seberang lautan itu menangis dan
mengutuk dirinya untuk menyayangi bayi kita seperti dia merindukan
dirinya sendiri. Sebuah kutukan penuh cinta.

Setengah jam kemudian, berkumpul di ruangan itu. Kamar perawatan kelas
dua yang kita jadikan kapal pecah oleh barang-barang kita. Engkau, aku,
dan tentara kecil kita. Seorang lagi; keponakan yang sangat membantuku
di saat-saat sulit itu. Seorang mahasiswi yang tentu juga tidak tahu
banyak bagaimana mengurusi bayi. Tapi dia sungguh memberiku tangannya
dan ketelatenannya untuk mengurusi bayi kita.

Engkau butuh 24 jam untuk mulai berbicara normal, setelah sebelumnya
seperti mumi. Seluruh tubuhmu diam, kecuali gerakan mata dan sedikit
getaran di bibir. Aku memandangimu, merekam wajahmu, lalu berjanji pada
hati, 50 tahun lagi, engkau tidak akan tergantikan oleh siapa pun di
dunia ini.

Lima hari, Sayang. Lima hari empat malam kita menikmati bulan madu kita
sebenar-benarnya. Aku begitu banyak berimprovisasi setiap hari.
Mengurusi bayi tidak pernah ilmunya kupelajari. Namun, apa yang harus
kulakukan jika memang telah tak ada pilihan? Aku menikmati itu. Berusaha
mengurusmu dengan baik, juga menenangkan tentara kecil kita supaya
tangisnya tak meledak-ledak.

“Terima kasih, Kang,” katamu setelah kubantu mengurusi kebutuhan
kamar mandimu. Lima tahun ini apa keperluanku yang tidak engkau urus,
Sayang? Mengapa hanya untuk pekerjaan kecil yang memang tak sanggup
engkau lakukan sendiri, engkau berterima kasih dengan cara paling tulus
sedunia? Lalu ke mana kata “terima kasih” yang seharusnya
kukatakan kepadamu sepanjang lima tahun ini? Tahukah engkau, kata
“terima kasih” mu itu membuat wajahmu semelekat maghnet paling
kuat di kepalaku.

Mengurusimu dan bayi kita. Lima hari itu, aku menemukan banyak gaya
menangisnya yang kuhafal di luar kepala, agar aku tahu apa pesan yang
ingin dia sampaikan. Gaya kucing kehilangan induk ketika ia buang
kotoran. Gaya derit pintu ketika dia merasa kesepian, gaya tangis bayi
klasik (seperti di film-film atau sandiwara radio) jika dia merasa tidak
nyaman, dan paling istimewa gaya mercon banting; setiap dia kelaparan.
Tidak ada tandingnya di rumah sakit bersalin yang punya seribu nyamuk
namun tidak satu pun cermin itu. Dari ujung lorong pun aku bisa tahu itu
tangisannya meski di lantai yang sama ada bayi-bayi lain menangis pada
waktu bersamaan.

Ah, indahnya. Tak pernah bosan kutatapi wajah itu lalu kucari jejak
diriku di sana. Terlalu banyak jejakku di sana. Awalnya kupikir 50:50
cukup adil. Agar engkau juga merasa mewariskan dirimu kepadanya. Tapi
memang terlalu banyak diriku pada diri bayi itu. Hidung, dagu, rahang,
jidat, tangis ngototnya, bahkan detail cuping telinga yang kupikir tidak
ada duanya di dunia. Ada bisik bangga, “Ini anakku… anak
laki-lakiku. ” Tapi tenang saja, istriku, kulitnya seterang dan
sebening kulitmu. Rambutnya pun tak seikal rambutku. Kuharap, hatinya
kelak semembentang hatimu.

Kupanggil dia Sena yang berarti tentara. Penggalan dari nama
sempurnanya: Senandika Himada. Sebuah nama yang sejarahnya tidak
serta-merta. Panjang dan penuh keajaiban. Senandika bermakna berbicara
dengan diri sendiri; kontemplasi, muhasabbah, berkhalwat dengan Allah.
Sedangkan Himada memiliki makna yang sama dengan Hamida atau Muhammad:
YANG TERPUJI… dan itulah doa kita untuknya bukan, Sayang? Kita ingin
dia menjadi pribadi yang terpuji dunia akhirat. Kaya nomor sekian,
pintar pun demikian, terkenal apalagi. Yang penting adalah terpuji…
mulia…dan ini bukan akhir kita, bukan, Honey? Ini menjadi awal yang
indah. Awalku jatuh cinta (lagi) kepadamu.

(persembahan buat setiap perempuan, dan ibu yang hatinya semembentang
samudra)

Dari 14 September ke 23 Oktober

Jumat, 23 Oktober 2009

Ouw.. sebulan lebih sa ga update blog. Biasanya hampir tiap hari. Maklum.. masih menjadikan kekurangan sebagai alasan. Ga ada laptop lah, ga ada akses internet gratis lah, de-es-be. Hehe.. jadi malu.

Sebulan harusnya banyak ide yang muncul. Sempet bikin tulisan di offline [ga dipublish], tapi pas dibaca lagi jadi males mem-publish-kannya.

Besok katanya ada boikot FB bagi para muslim untuk protes ke pemilik fesbuk biar blokir salah satu rup fb.

Trus trus, aku teh lagi dapet tugas bikin web [jadi inget tugas web belum selese-selese]. Nah, dari tugas ini sa belajar banyak termasuk bikin blog. Ternyata cukup sederhana untuk bikin WYSIWYG rich-text-editor. Kenapa? Karena sekarang di internet [kemaren waktu nyari buat tugas bikin web itu] sudah banyak sekali WYSIWYG rich-text-editor yang gratisan dan secara fitur bagus kok. buat yang ga tau WYSIWYG rich-text-editor tuh pa, itu loh.. tempat temen-temen klo ngedit atau bikin tulisan di WP kan klo mau miring atau bold, tinggal teken tombol dsb. Ya, editor tulisan di WP. Semacam itu. Dan tanpa susah-susah ngoding kita udah bisa bikin WYSIWYG rich-text-editor kayak di blog deh.

Sekarang semua serba mudah serba ada dan bahkan gratis. Ada plus minusnya sih, tapi memang memudahkan kita untuk bekerja. Cuma tetep aja harus kerja keras untuk belajar dan memahami sesuatu. Ga selamanya kita suka makan mie instan aja atau bubur instan dan semua yang instan-instan kan? Tapi juga kadang kita ingin variasikan mie instan kita dst. Itulah manusia dan itulah kehidupan, selalu berubah. Meski ada yang instan, kita tetep belajar masak kan? Meski ada yang instan, kita tetep pengen belajar biar paham kan? karena hakikatnya tidak hanya membuat sesuatu tapi berharap suatu saat kita bisa menciptakan sesuatu :)

Well.. sebulan adalah waktu yang cukup untuk jadi evaluasi kualitas tulisan kita. Semoga nanti bisa diperbaiki lagi :)

Ga Ada Ide

Jumat, 23 Oktober 2009

Udah lama ga blogging kok biasanya selalu ada ide buat ditulis, ini ga ada ide sama sekali.. cuma keinginan untuk menulis aja.. updating blog gituh. Hehe..

Plis help me. Postingan makin ga bermanfaat.. postingan aku di notes fb juga as aneh. Hmm.. ada yang harus diperbaiki. Termasuk asupan informasi untuk kemudian dikeluarkan kembali dalam bentuk tulisan diri.

Ah, bete juga ya ga bisa internetan. Tapi alhamdulillah ga bikin bete sedemikian.

Tapi jadi kepikiran, klo lagi ga ada ide gimana ya cara nyari idenya? Biar kita bisa berbagi banyak.. Belakangan lagi ga bisa fokus. Hehe..

Ada ide dari curhatan temen, tapi rasanya sudah terlalu sering berbicara tentang cinta.. orang kadang suka jadi antipati atau bahkan berpikir itu pengalaman sa.. kadang bete juga. Hee..

Trus ada juga curhatan tentang merasa jadi orang yang hanya jadi benalu.

Btw, di depan kantor sekarang ada sebuah pengobatan alternatif gituh. Sa ga tau sih sebenernya itu kayak gimana pengobatannya, tapi ramenya kayak perusahaan MLM yang juga ada di kompleks yang sama dengan kantor sa dan pengobatan alternatif itu. Rame banget. Sampe keluar juga. Mana suara dari sound system-nya kedengeran sampe kantor [iya lah depan kantor banget]. belum tau nih klo shalat di kantor gimana rasanya sekarang. Secara udah lama ga ke kantor. Ke kantor bener-bener klo ada janjian sama obos atau temen kantor.. Well, ngomong-ngomong tentang dateng ke kantor.. ternyata ga enak juga ya. Gaji dapet tapi kerjaan ga terlalu signifikan. Bukan ga bersyukur, tapi lebih ke ga enak aja perasaan karena serasa makan “gaji buta”. Halal tak ya? Halal sih kayaknya, cuma pantes dapet gaji ga ya? Hiks.. jadi serba salah..

Ah, sudahlah.. Mau belajar nulis lagi, belajar baca lagi. Biar dapet lebih banyak ilmu :)

Penghasilan dan Gaya Hidup

Senin, 14 September 2009

Hmm.. tulisan ini sebenernya pertanyaan juga sih, tentang gaya hidup setiap orang.

Ketika pendapatan bertambah, gaya hidup berubah. Bener ga sih? Nah, ini tergantung temen-temen deh mau jawab apa. Tapi yang sa rasain dan sa perhatiin, ketika pendapatan bertambah, gaya hidup pun berubah. Taro aja mahasiswa yang biasa-biasa aja ketika berpenghasilan lumayan gede, dari mulai hape, pakean ampe makan pun berubah gaya. Makan awalnya selalu liat harga mana termurah yg penting makan. Atau kalo pengen enak, ya berkorban dikit. Tapi begitu udah berpenghasilan cukup, dia bisa nikmatin makanan yg lebih enak di tempat yg sedikit lbh elit lah klo boleh dibilang gituh. Bukan ga liatin harga, tapi udah ga terlalu khawatir ga ada duit buat pulang. Kendaraan udah punya, buat sekadar biaya parkir ada, makan pun ada.. nothing to worry about.

Selain penghasilan, lingkungan pun berpengaruh. Klo temen-temen kita biasa makan di tempat-tempat elit, kita bakal kebawa. Klo pas ga punya duit kita bisa bilang ngga, pas berpenghasilan cukup kita bisa dengan gampang bilang iya. Atau kita berusaha keras biar akhirnya kita “satu level” dengan mereka dan kembali menikmati gaya hidup para elit. Nobody knows d reason. Hanya pribadi masing-masing yang bisa menjawab itu.

Ada lagi. Biaya hidup juga nambah dengan sendirinya dengan bertambahnya penghasilan. Mungkinkah itu karena gaya hidup berubah? Bisa iya bisa juga tidak. Tergantung penyikapan dan realita.

Kenapa tergantung penyikapan dan realita. Penyikapan kembali pada sikap sabar dan syukur. Realita kembali pada kenyataan yang setiap saat memang biaya hidup pun bertambah. Kalo dulu sekadar ngebiayain diri sendiri, sekarang ngebiayain keluarga yang biaya keluarga pun terus berubah seiring perjalanan waktu. Believe it or not, itu terjadi. Biaya pendidikan, sanda pangan papan semua berubah dan bisa tergolong lebih tinggi dibanding sebelumnya. Coba deh perhatiin.

Hmm.. jadi kunci agar tidak terjerumus adalah rasa syukur. Karena pendapatan bertambah klo ga dibarengi syukur dan sabar bisa-bisa kebablasan. Syukur atas apa yang kita dapat, sabar dalam menghadapi cobaan berupa kelapangan dan kekayaan. Dan banyak orang terjerumus dalam ujian yang enak.

Sabar dalam memenuhi keinginan kita karena berlimpahnya harta. Sabar untuk memilah mana yang penting dan mana yang ingin. Penuhi dulu yang penting baru klo emang tega yang ingin. Nah jangan lupa juga buat saving untuk persediaan ke depannya.

Ya, apapun.. yang namanya kesabaran dan rasa syukur itu harus selalu ada kapanpun dimanapun dalam keadaan apapun. Penghasilan boleh mempengaruhi gaya hidup, atau mungkin seperti kata aa, gaya hidup mempengaruhi penghasilan. Whatever. Akan selalu ada pengaruh dan perubahan yang kita lalui yang mesti kita hadapi. Maka kita harus pandai-pandai menyikapi.