Aisha Azkiya

Beranda Pikiran dan Rasa ^-^

Tes Sidik Jari

Semula saya ga terlalu tertarik dengan tes sidik jari ketika suami tiba-tiba ngajakin saya menjalani tes itu. Meskipun dulu saya sempet pengen tes sidik jari untuk Danisy.

Jujur, yang pertama kali saya pikirkan, wih duit darimana tes sidik jari berdua dan buat apa. Karena uangnya abis saya pake nalangin belanjaan. Hehehe
Lagipula udah gede gini kok, buat apa coba tes begituan. Itu jawaban saya ketika suami bilang “de, nanti siang kita ke tubagus ya. Tes sidik jari”.

Tapi pikiran saya berubah seketika usai tes dilakukan (ya pada akhirnya ikut tes juga karena suami yang nyuruh dan lagian doi jawab, udah ga usah dipikirin yang penting ikut).

Baca pos ini lebih lanjut

Pisang Goreng Kriuk

Saya seneng eksperimen tapi jarang punya kesempatan. Nah, pagi ini lagi seneng banget karena pada akhirnya berhasil bikin pisang goreng kriuk-kriuk alias crispy. Meski belum cantik bener tapi sudah mulai kelihatan kriuknya :D

image

Caranya sih sama aja kayak bikin pisang goreng biasa. Cuma ditambah tepung kering.
-Siapkan adonan pisang: tepung terigu tambah gula putih lalu tambahkan air, aduk rata
-Siapkan tepung kering (bisa ditambahkan gula agar lebih manis nanti kriuknya
-Panaskan minyak di wajan, setelah panas, kecilkan api
-Masukkan pisang ke adonan,
-Dari adonan, masukkan ke tepung kering, balutkan tepung tanpa ditekan-tekan, cukup dibalurkan berulang kali sampai rata dan terlihat bergelambir
-Goreng pisang di dalam minyak panas, setelah nampak kuning kecoklatan, balik. Angkat dan tiriskan setelah seluruh bagian nampak kecoklatan dan matang

^_^

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-
via WordPress for Android

Ingatlah Orang Tua

Di usia menjelang 30an, mungkin banyak orang sedang dalam puncak passion dan pencapaian. Di usia ini sebagian besar orang menetapkan target kematangan finansial dan spiritual sehingga akan kita dapati orang-orang sukses di usia ini entah secara finansial maupun spiritual.

Baca pos ini lebih lanjut

Cerita ASI Danisy

Nyusuin? Ah biasa. Semua ibu juga bisa.

Iya sih. Memang ga ada yang istimewa dari proses menyusui melainkan ini adalah kegiatan alami dan naluriah seorang ibu. Alhamdulillah saya termasuk ibu yang menikmati kegiatan alamiah ini bersama kedua anak saya dan juga suami tentu saja. Karena tanpa dukungan suami, rasanya kegiatan menyenangkan itu takkan berjalan dengan lebih mudah.

Baca pos ini lebih lanjut

Saya Memang Brokenhome, Trus Kenapa?

Bercerita tentang anak brokenhome rasanya sama saja seperti bercerita tentang hal lain dalam kehidupan kita. Sayangnya, sebagai anak dari keluarga yang tidak lengkap, seringkali tidak banyak pilihan yang dapat dijalani.

Brokenhome bukan sekadar sebutan untuk anak yang kedua orang tuanya berpisah, tapi juga bagi anak-anak yang tumbuh tak seimbang terutama dari segi psikologis. Tak seimbang antara kehadiran peran ayah dan ibu.

Banyak muncul anak brokenhome terkadang bukan hanya karena orang tua itu sendiri, tapi juga lingkungan dan adat sekitar yang seringkali menjebak sebuah keluarga tanpa disadari. Misal, beredar luasnya penanaman pikiran bahwa ayah hanya mencari nafkah dan ibu mengurus rumah dan segala tetek bengeknya dan tentu saja melayani suami tanpa kenal lelah. Sementara kemudian para suami menuntut ini itu termasuk anak yang sempurna. Tak jarang untuk urusan rumah dan anak, istri alias perempuan yang disalahkan. Lalu anak pun tumbuh menjadi sosok yang mengenal ayah sebagai mesin ATM dan ibu sebagai pembantu. Miris.
Saya tidak sedang menggugat persamaan derajat karena pada dasarnya lelaki dan perempuan itu memang berbeda. Hanya saja ada paham-paham yang perlu diluruskan agar meminimalkan munculnya anak brokenhome.

Kembali ke urusan brokenhome, sayangnya masyarakat juga bukannya membantu anak seperti mereka untuk bangkit malah mencemooh. Bukannya mencari solusi malah menghakimi.

Memang, perilaku buruk tetap saja tidak bisa ditolerir. Akan tetapi dengan sikap orang sekitar yang mampu membantu sang anak bangkit, maka tentu akan lebih baik.

“Saya anak brokenhome, trus kenapa?” Mungkin begitu pernyataan yang ingin sekali diucapkan anak-anak yang masa tumbuh kembangnya “abnormal” tak seperti teman-temannya yang lain. Tak lengkap ayah atau ibunya, tak maksimal kebahagiannya, dan malah sering digelayuti perasaan takut dan depresi.

Ketika anak brokenhome berbaur di masyarakat, bisa jadi ia minder. Ketika ia menjalin hubungan, bisa jadi ada rasa takut gagal. Ketika ia menikah, bisa jadi ia trauma atau malah tak bisa diterima.

Bagi anak brokenhome, meski ia terbiasa tumbuh untuk menerima kenyataan dan mencoba menciptakan suasana nyaman sendiri, tapi tak jarang dalam hatinya ia ingin kehidupan yang lebih baik, mencita-citakan pencapaian terbaik yang bisa menjadi pemicu kecewa atau stress jika tak tercapai.

Menghadapi anak brokenhome memang butuh perjuangan. Tapi yakinlah sebenarnya mereka juga ingin berubah, akan tetapi tidak semudah itu bagi mereka untuk membalikkan keadaan dan perasaan. Kondisi buruk selama bertahun-tahun (bahkan hingga belasan atau puluhan tahun) tidak akan berubah hanya dalam waktu sehari dua hari. Tak usah menghakimi masa lalunya karena ia tak pernah merencanakan itu. Tak usah ungkit kenangan buruknya untuk meminta ia berubah, karena ia sendiri tersakiti dengan semua kejadian buruk itu. Tak ada satupun orang yang ingin tumbuh abnormal, tapi terkadang ia tak bisa memilih takdir.

Jika engkau tak mampu membahagiakannya, maka jangan menyakitinya. Jika engkau tak mampu menemaninya, maka jangan engkau mengolok kesendiriannya. Jika engkau tak tahan dengan sikapnya dan menginginkan perubahan, maka sesungguhnya iapun merasakan hal yang sama: muak dan ingin berubah.

Ia memang produk masa lalu. Semua orang pasti produk masa lalu. Jika engkau tak mampu berempati dengan masa lalunya, maka jangan biarkan dirimu bersikap seolah jadi orang paling baik dan dia orang paling sial di dunia ini. Jika engkau bersikap demikian, percayalah ia takkan berubah melainkan semakin jengah dan marah.

Yang ia butuhkan adalah teman. Yang ia butuhkan adalah pengakuan bahwa ia juga manusia yang pantas dan layak disebut manusia sebagaimana orang lain.

Maka jika engkau tak mampu memujinya, janganlah menghinanya. Jika engkau tak mampu menerimanya, maka janganlah mengancam kesendiriannya..

Makan Cukup

Entah saya bener atau nggak, tapi sedari anak pertama saya selalu bilang “makan yang cukup ya. Kalau dah cukup, bilang ke ummi”, biasanya sy dengar orang bilang “makan yang kenyang”.

Bagi saya anak cukup makan, ga harus kenyang. Lagipula sering saya dengar bahwa ada hadits yang bilang Rasulullah itu berhenti makan sebelum kenyang, maka saya mencoba menanamkan itu pada anak. Soalnya jujur ya, udah segede gini ngerem makan sebelum kenyang itu sulit apalagi untuk bumil or busui kayak saya (hyaaa alesan. Hihihi). Kalau ga kenyang tuh ya rasanya ada yang kurang :D

Jadi saya kudu sabar nih kalo pas anak berhenti makan, makanannya belum habis. Sambil terus nasihatin “jangan sisakan makanan, mubadzir” (jyaa gayanya, padahal mah ngomel juga. Hehehe).

Saya kemudian belajar menakar kebutuhan makan anak jadi jarang banget makanan bersisa. Memastikan anak memang dalam keadaan lapar. Ga ada susu atau teh manis sebelum makan, ga ada jajan atau nyusu saat menjelang jam makan. Biar maksimal makannya :D

2 anak pendekatannya berbeda. Si sulung Danisy cenderung jarang ngemil sementara Azam harus ngunyah hampir sepanjang hari. Azam ini meski udah makan kalau masuk waktu ngemil (alias di luar jam makan) mesti nyari cemilan. Kok tau? Tau karena dia bakal minta nyusu dan selesainya lama atau nyusu berulang kali kayak kelaparan, itu pertanda dia laper karena pengen ngemil.

Jadi makan cukup buat Danisy dan Azam itu beda :D
Danisy mah cukup sesuai jam makan dan porsinya, kalau Azam cenderung ditambah ngemil.

Ya.. yang penting asupan makanan oke ya anak2. Semoga tumbuh menjadi muslim yang sehat dan kuat. Aamiin.

Fase Demi Fase

Danisy sudah 4 tahun sekarang. Saat membicarakan ini, seorang sahabat berkomentar “wah ga kerasa ya udah 4 tahun aja. Rasanya baru kemarin jenguk waktu di RS”. Mm.. iya bener. Rasanya waktu berlari begitu cepat. Satu per satu fase perkembangan pun dilalui.

Ternyata membiarkan anak tumbuh itu butuh keridhaan ya. Ketika dulu ia saya ajak PP Jakarta Bandung demi menyelesaikan pekerjaan (karena masih belum tega ninggalin dia sendiri dan dititipkan ke mama), lalu mulai memaksa diri untuk melepasnya, mengizinkan ia bersama mama dan hanya menyediakan ASI Perah sebisa mungkin dengan target lulus S3 ASI (menyusui hingga 2 tahun).

Menantikan saat MPASI dimulai. Baca sana sini. Alhamdulillah ketika MPASI pertama, pas tanggal merah jadi hari pertama MPASI saya dan suami bisa menemani.

Lanjut di usia 1 tahun sudah mulai mengurangi aktifitas menyusui dan belajar tatur (buang air di jamban). Tak hanya butuh keridhaan tapi juga ketelatenan. Dan di usia ini pula saya memutuskan berhenti dari semua aktifitas di luar rumah dan fokus ke Danisy, apalagi saat itu ia sakit.

Menjelang sapih, rasanya tak tega mengakhiri masa indah menyusui. Tapi harus. Sounding sudah dilakukan jauh-jauh hari. Tantangan beratnya adalah saat saya dinyatakan hamil ketika usianya 22 bulan. Sedikit lagi saja ke sukses S3 ASI.. Seperti ada insting yang membuatnya menjadi manja dan makin nempel. Hingga pada akhirnya alhamdulillah biidznillah, Danisy memutuskan berhenti menyusu di usia 27 bulan, ketika kehamilan saya menginjak usia kandungan 7 bulan. MaSyaAllah.

Fase berikutnya pun dilalui. Fase melepasnya dan membiarkan ia tumbuh dengan “bebas” benar-benar membutuhkan kekuatan yang tak sedikit. Ketika misalnya memutuskan membiarkan ia belajar makan sendiri sedari awal ia memulai MPASI (yang disebut metode BLW), hingga membiarkan ia bereksplorasi sesuka hati (tentu semua dengan pengawasan), rasanya tak mudah. Mencoba memberikan pemahaman dan menyamakan cara didik kami dengan keluarga besar jadi tantangan tersendiri dalam tumbuh kembangnya.

Fase demi fase terus dilewati. Fase tersulit adalah fase melepas. Dimulai fase menyapih, fase ia bermain di luar, hingga fase terbaru: membiarkan ia sekolah sendiri. Kelak akan tiba masanya ia pergi untuk menggapai cita-citanya, pergi untuk berkarya di tempat yang mungkin tak kita duga sebelumnya dengan pencapaian yang luar biasa, atau ketika kemudian ia memutuskan untuk menikah lalu pergi dari sisi kita dan membangun kehidupan baru bersama keluarga kecilnya. Ah, betapa menjadi orang tua itu harus memiliki gudang sabar dan ikhlas yang luas. Bahwa melepas anak memasuki fase demi fase itu benar-benar butuh hati yang ridha sehingga ia dapat melesat menjadi insan mandiri.

Semoga tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi ummat dan memiliki aqidah yang lurus dan keimanan yang kuat. Semoga tumbuh menjadi muslim yang senantiasa mencintai Allah dan Allah mencintaimu, nak.

Tumbuhlah.. Terbanglah..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.522 pengikut lainnya.