Aisha Azkiya

Beranda Pikiran dan Rasa ^-^

Bernostalgia dengan Sejuta Arif

Dulu, hampir setiap kali denger lagu Sejuta Arif dari EdCoustic ini sy nangis. Bayangin anak-anak pengamen di luar saya, terkadang memikirkan adik lelaki saya yang diam-diam mengamen untuk kebutuhan sekolahnya (memang semenjak resign dan menikah saya mengurangi jatah pemberian ke mamah), dan terkadang memikirkan diri sendiri yang dulu sempat menunda mimpi. Tapi itu masa lalu. Alhamdulillaah semua sudah jauh lebih baik. Meski ijazah yang adik lelaki saya pegang hanya ijazah SMK saja, tapi ia dipercaya oleh atasannya dan dapet kerja sampingan dari orang pajak.. Allah memberikan ganti posisi saya. Jika dulu semua gaji saya sodorkan ke mamah untuk keperluan kami sekeluarga, maka sekarang digantikan adik saya itu. Kami sama-sama menikmati memberikan hasil keringat kami pada kedua orang tua kami. Dari gaji saya yang hanya 300.000 per bulan (karena kerja part time. Itupun dikurangi biaya kuliah) sampai di gaji terakhir sebelum menikah yang nominalnya tidak pernah saya bayangkan sebelumnya bagi seorang dengan ijazah SMA. Maka sekarang, tugas itu beralih ke pundak adik lelaki saya. Hampir dalam setiap diskusi kami (diskusi keluarga dimana semua anggota keluarga berkumpul, jauh dari sebelum sy menikah), saya selalu menitipkan kedua orang tua pada kedua adik saya. Bahwa hidup harus “prihatin” karena kita berasal dari keluarga menengah ke bawah, kita dah sama-sama merasakan sakitnya dihina orang, dikucilkan keluarga hanya karena kita miskin. Maka kuatkanlah untuk menjaga bapak dan mamah. Jangan sampai mereka kalian sakiti. Kuatkanlah tekad untuk hidup yang lebih baik. Perlihatkanlah akhlak yang baik pada siapapun meski mereka menyakiti kita sedemikian rupa. Jaga mamah sama bapak. Cukuplah mereka dihina karena kemiskinan. Buktikanlah bahwa mereka sudah mendidik kita dengan baik. Bahwa Allah tidak pernah melihat seseorang hanya dari kekayaannya. Bahwa kalian yang berasal dari keluarga miskin tapi kalian bisa kuliah dan bisa sukses. Buktikan pada mereka yang pernah menghina dan mengucilkan kita bahwa kita tetap bisa berkarya dengan segala keterbatasan kita. Kemudian satu per satu adik saya bangkit di poin unggulnya tersendiri..

Setelah bertahun-tahun lamanya, saya kembali mendengarkan lagu ini.. Dan lagi air mata menetes.. mengenang masa lalu..

Kata-katamu tak sempat lama kan lampu merah
Cepat kau menepi menghitung kepingan rupiah
Arif tak peduli walau panas hujan menerpa
Untuk sebuah kehidupan

Anak kecil berlarian dibelantara kota
Bernyanyi dengan alat musik sangat sederhana
Arif tak peduli masa kecilnya tlah terampas
Bahkan cita-citamu hampa

Reff :
Sepuluh seratus bahkan seribu
Seratus ribu bahkan sejuta Arif menunggumu
Uluran tanganmu
Demi generasi jauh disana

Pernahkah kau pikir andai kau Arif sebenarnya
Berjuang menepis keangkuhan manusia kota
Arif tak peduli hatinya terbentur prahara
Bahkan cita-citamu hampa

Lagu/lirik : Deden Supriadi

Ah, betapa berjuang untuk sebuah mimpi itu seringkali terasa berat ketika kita menapaki tangga impian itu. Namun ketika kita sampai di tujuan, setiap lelah dan peluh di kala menapaki tanjakan tangga impian menjadi ingatan manis yang mungkin sesekali membuat kita menangis haru nan takjub telah dimampukan Allah melewatinya dan sekaligus bahagia tak terkira.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Salahkah Aku Jika Tak Diharapkan?

Pernahkah anda ada di posisi anak yang tak diharapkan atau tak diduga kehadirannya? Atau justru di posisi orang tua yang tidak sedang mempersiapkan kehamilan tapi saat si sulung belum genap berusia 2 tahun, justru ketahuan hamil lagi?

Lalu apakah anak yang seperti itu salah? Sehingga kesalahan kecil pun menjadi besar dan terlontar kalimat “kamu sih anak yang ga diharapkan. Jangan bikin marah. Coba kalau kamu ga ada, ibu ga akan repot. Cuma ngurus kakak kamu yang udah gede aja yang udah mulai bisa ngurus sendiri dan bisa dikasih tau. Gara-gara kamu tuh ayah marah. Ngapain sih ganggu ayah. Lihat dia jadi lemparin barang kesayangannya karena marah barangnya jatuh gara-gara kamu. Ke ibu lagi marah-marahnya”

Kasihan ya anak seperti itu. Padahal namanya juga anak 1 tahun. Tau apa mereka. Cuma bisa mengungkapkan keinginan lewat tangisan dan dengan sekuat tenaga berusaha meminta bantuan dengan apa yang ia bisa.. ah.. bagaimana seharusnya sikap si ayah dan si ibu terhadap si anak “yang tidak diinginkan” ini ya? Kasihan jika terus begitu.

Pasti ada rasa sesal di hati ibu dan ayah karena telah berbuat kasar pada sang anak entah dalam bentuk bahasa ataupun tindakan. Padahal dia tidak minta dilahirkan, dia juga tidak minta ada di antara keluarga kecil itu. Lalu salahnya dimana? Apa hanya karena ia hadir di waktu yang “tidak tepat”?

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Adik-adikku Sudah Tumbuh Besar

Waktu terus berputar. Seringkali jika terkait diri, kita tidak sadar waktu yang kita lalui sudah semakin banyak. Kita akan sadar akan berputarnya waktu di kala melihat orang lain. Dan hari ini saya sedang mellow. Cuma gegara tadi siang tiba-tiba ditelpon adik saya yang laki-laki. Hahaha.. Padahal sering ketemu. Sering ngobrol. Tapi gatau kenapa siang ini pas dia nelpon kok rasanya terharu banget. Dan padahalnya lagi, dia nelpon tuh cuma buat ngasih tau, service BB di temennya harga sekian. Nanti biar dia yang urus dan tungguin katanya.

Denger suara dia di telpon, eh ini anak udah gede aja ya. Dulu mah masih diasuh, sekolah bareng (sy kelas 5 dia kelas 1). Tuh bocah ngintil aja. Jadi bahan gemes temen-temen, dibawa ngaji juga kalau pas jamnya ngaji bada maghrib. Karena waktu itu mamah udah punya anak lagi, si bungsu. Adik yang laki sm yg perempuan cm selisih 2 tahun 5 bulan-an. Jadi tugas saya ngasuh dia sekembalinya dia ke keluarga (dulu pernah dititip di nenek agak lama).

Waktu sudah berputar begitu lama. Mereka sudah tumbuh besar. Semoga dibarengi dengan tumbuh semakin dewasa.

Hari ini mampir juga di newsfeed FB status adik kelas saya di SMA. Sedang menantikan kelahiran anak pertama. Padahal ketika jadi binaan sy dulu, masih kelas 2. Terakhir ketemu pas ke rumah beli sabuk hamil. Sudah terlihat lebih dewasa. MaSyaAllah..

Belum lagi adik-adik yang dulu jadi murid mengaji ketika saya masih ngajar di mesjid, yang kecil-kecil itu sekarang udah pada tinggi besar. Apalagi yang laki-laki, dah melebihi saya aja. Kadang pangling kalau bukan mereka yang duluan menyapa.

Lagi nulis, lirik anak-anak yang lagi pada tidur. Ah.. mereka juga sudah tumbuh besar..

Semoga Allah menjadikan usia ini manfaat dan memiliki bekal yang cukup untuk kehidupan di masa mendatang, kehidupan setelah kematian.. aamiin

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Sayur Bayam Sosis

Pembiasaan anak makan buah dan sayur harus dimulai sejak kecil supaya setelah besar ga ada yang namanya phobia buah atau sayur. Tapi saya lebih sering ketemu sama mereka yang phobia sayur sepertinya :D

Sempat terlibat diskusi dengan beberapa teman. Tentang bagaimana anak mau sayur. Salah satunya adalah pembiasaan makan seimbang sejak dini. Sayangnya saya ternyata ga setelaten itu. Hiks.. tapi gapapa yang penting masih ada sayur yang bisa masuk ke tubuh anak-anak :D

Salah satu menu favorit Danisy dan Azam adalah Sayur Bayam Bening. Tambahan sosis untuk daya tarik ke Danisy. Kalau Azam kan belum banyak request. Sebenarnya resep ini diterapkan saat jaman Danisy dulu. Awalnya Danisy suka sayuran tapi belakangan Danisy jadi ogah makan sayur. Sepertinya karena berbagai kejadian sehingga saya jarang masak di rumah alhasil Danisy jadi terbiasa makan yang simpel: omelet atau telur dadar. Merasa bersalah sekali jadinya.

Cara masak bayam ini sederhana kok. Ibu tinggal siapkan bayam yang sudah disiangi, duo bawang, tomat, sosis dan bakso, garam, merica dan gula putih.
Pertama didihkan air. Sementara itu cuci bayam dan tomat agar bersih.
Setelah air mendidih, masukkan duo bawang dan tomat yang sudah dipotong-potong kemudian tunggu sebentar baru masukkan sosis/bakso. Biarkan sekitar 2-3 menit supaya sosis/bakso sudah lebih empuk baru masukkan garam, merica dan gula putih secukupnya. Gula putih hanya untuk penambah rasa ya Bu jadi rasa sayurnya nanti tetep “asin”. Merica jangan banyak-banyak supaya ga pedes. Cukup sedikit aja sebagai penambah rasa dan bisa membantu saat anak batuk pilek.
Jika dirasa sudah menyebar bumbunya, baru masukkan bayam. Biarkan mendidih hingu ayam cukup layu. Selesai deh. Tinggal matikan apinya. Oiya pake api sedang aja ya biar teksturnya lebih dapet dan kandungan gizinya ga terlalu banyak menguap.

Siapa tau mau coba resep sederhana ini. Tapi rasanya enak kok. Duo jagoan saya suka ^_^

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

WM vs FTM

Begitulah status seorang teman yang hadir di newsfeed Facebook saya kemarin. Seperti menegur saya juga sih. Kurang lebih statusnya begini “WM vs FTM. Memuakkan”. Saya hanya berkata dalam hati “sepertinya teman saya ini sedang membaca atau mengalami pergolakan atau perdebatan tentang WM (Working Mom/Ibu yang Bekerja) dengan FTM (Full Time Mom/Ibu yang full di rumah atau sering kita sebut IRT). Ah, saya rasa wajar dia bilang “memuakkan”. Perdebatan soal WM dan FTM nampak tak ada habisnya seperti halnya pembahasan Sufor dan ASI. Sebenarnya sederhana saja. Kuncinya toleransi dan empati. Mencoba membayangkan jika seandainya kita ada di posisi orang lain, bagaimana perasaan kita.

Terkadang kita terlalu fokus pada diri sendiri sehingga menyepelekan orang lain. Misal, terlalu menggaungkan jadi IRT supaya bisa fokus pada anak-anak. Benarkah demikian? Benarkah WM ga bisa fokus pada anak-anak mereka? Saya rasa tidak. Saya memiliki teman-teman yang beragam. Ada yang WM ada juga yang FTM. Lalu apakah perhatian dan didikan mereka berpengaruh besar dan akhirnya timpang antara anak-anak dari seorang WM dan seorang FTM? Jawabannya TIDAK. Jika kami terlibat diskusi tentang tumbuh kembang anak, urusan rumah dan lain sebagainya, baik ibu WM dan ibu FTM bisa loh “jawab” dan keduanya luar biasa hebat dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan karena berbaur dengan kedua macam “profesi” inilah saya semakin paham bahwa WM dan FTM semuanya bisa fokus pada anak dari segala hal tapi dengan prioritas dan cara yang tentu saja tidak sama. Jangankan WM dan FTM, sesama WM ataupun sesama FTM pasti cara mereka membesarkan dan mendidik anak-anak serta mengurus keluarganya juga pasti akan berbeda karena setiap keluarga memiliki kehidupan tersendiri dengan tantangan yang juga akan berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Kuncinya ada pada pasangan suami istri yang menjalani itu semua agar bisa bersepakat tentang anak dan rumah tentu saja. Anak-anak akan mudah sekali beradaptasi jika mereka dibiasakan sejak dini dan tentu saja kompak antara suami dan istri sehingga kondisi rumah tetap terkondisikan.

Macam-macam teman mengajarkan saya untuk bertoleransi dengan tidak menganggap sepele orang lain dan tidak minder pada orang lain (ini saya masih belajar sih. Hehe). Ada teman saya yang dia WM dan suaminya kerja di rumah (catat, suaminya di rumah kerjanya). Tahukah anda apa reaksi tetangga? Ada yang paham dan ada.yang tidak sedang menganggap sang suami bekerja melainkan tukar posisi. Suami di rumah dan istri bekerja. Bayangkan jika ini terjadi tanpa kesepakatan suami istri, lama-lama bisa cekcok juga karena termakan omongan orang.
Teman saya yang lain, suami istri bekerja. Tapi masih bisa fokus pada anak-anak dan rumah tangga. Anak-anak tetap merasakan kehadiran orang tua mereka dan mengerti bahwa orang tua mereka harus bekerja. Bahkan seringkali sang anak yang mengingatkan pada kedua orang tuanya tentang pekerjaan mereka.

Ada banyak hal yang tidak dapat kita mengerti secara mendalam karena itu kehidupan pribadi orang lain yang kita hanya tahu luarnya saja. Saya sendiri sering mengaku FTM tapi saya menyadari bahwa saya tetap harus jadi WM, ya WM yang bekerja di rumah. Beberapa teman saya juga ada yang resign karena pergolakan batin. Semua keputusan kan tergantung si ibu dan tentu saja sang ayah berperan juga dalam pengambilan keputusan dengan berbagai pertimbangan. Mau jadi WM atau FTM, tugas pertama dan utama kita adalah menjadi istri dan ibu. Jika tugas itu dapat diselesaikan dengan baik, tidak masalah jika ibu kemudian mengambil tugas lain di luar itu. Jika dirasa repot, ya jadi FTM pun adalah kemuliaan, jangan minder dan jangan mencari-cari kekurangan orang lain karena kita tidak tau persis kehidupan mereka.Bayangkan jika tak ada satupun WM di dunia ini? Bagaimana jika kita butuh tenaga medis perempuan baik itu dokter, perawat atau bagian lab? Bagaimana jika kita butuh petugas pemerintahan perempuan? Sesekali kita butuh pelayan toko perempuan. Suatu saat kita akan butuh pada WM tanpa disadari atau tanpa diduga sebelumnya. Maka catatlah hal-hal seperti itu saat kita akan menuliskan atau membicarakan keburukan seorang WM.

Saya sendiri pernah jadi WM, FTM dan harus menjalankan masa kuliah setelah memiliki anak sehingga saya tau rasanya saat harus meninggalkan anak untuk bekerja, saat harus bawa anak untuk menjalankan tugas ke luar kota karena berbagai pertimbangan, menikmati masa meninggalkan anak untuk kuliah, menikmati bekerja di rumah dengan berbagai tantangannya bersama anak, dan menikmati masa jadi FTM tanpa pekerjaan sama sekali. Bagaimana rasanya? Ya seru seru aja sih. Jadi bisa berempati terhadap orang lain. Dan inilah saya sekarang, seorang ibu yang juga mengelola online shop dan masih terus belajar mengatur waktu dan jadwal. Membagi agenda kapan beresin rumah, urusin anak-anak, ngurusin olshop dan tentu juga urusin suami. Masih banyak keteter mungkin ya.. Dan biidznillah, saya ga akan bisa jalan tanpa dukungan suami, orang tua dan keluarga, dan tentu saja kedua anak lelaki saya tercinta. Anak-anak hebat yang selalu mengerti dan tidak menuntut banyak. Anak-anak yang selalu bisa kompak mendukung gerak saya dan suami :)

Maka hentikanlah perdebatan WM dan FTM karena sesungguhnya perdebatan semacam itu menyakiti harga diri seorang perempuan sebagai istri dan ibu. Karena semua perempuan akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk diri dan keluarganya.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Menyusui, Hal yang Menyenangkan dan Akan Dirindukan

Semua ibu sepertinya akan sepakat bahwa masa menyusui adalah masa yang menyenangkan dengan segala tantangannya. Kenapa saya menambahkan kata “tantangan”? Karena setiap ibu menyusui pasti memiliki ujian tersendiri karena seringkali meski “hanya” menyusui pun pelaksanaannya tidaklah mudah. Ada yang lecet, ada masa digigit, ada yang bengkak PDnya, ada saat ASI seret, dan kondisi lain yang akan berbeda antara satu ibu dan lainnya. Belum lagi jika ibu menyusui yang juga beraktifitas di luar rumah semisal bekerja, sekolah atau lainnya, tantangan menyusui ditambah dengan tantangan berburu stok ASI Perah beserta berbagai ornamen yang mengikuti :D

Tapi meski banyak tantangan, semua ibu pasti akan setuju juga bahwa masa menyusui ini kelak akan dirindukan. Entah mengingat masa perjuangannya ataupun hal seru lainnya seperti saat bertatapan mata dengan si kecil di kala menyusui, saat tangan mungilnya memegang tangan kita dengan lembut ketika menyusu dan hal indah lainnya. Begitu indah, romantis dan menyenangkan. Ibu setuju?

Saya sendiri pernah merindukan suasana menyusui. Ketika itu usia sulung saya 22 bulan, menuju sapih, dan saya ketahuan hamil lagi. Tapi masa menyusui di kala hamil terasa lebih romantis. Saat kakak menyusu dan adik di perut nendang-nendang itu rasanya tak tergantikan. Sulung saya berhenti menyusu dengan sendirinya di usia 27 bulan. Masa menyusui si sulung bukan tanpa tantangan. Di masa awal ia lahir, sulit sekali menyusuinya karena ia sulit dibangunkan yang ternyata itu karena ia tengah mengalami hyperbilirubine atau sering dikenal dengan istilah kuning. Usia 6 hari ia dirawat untuk terapi sinar. Saya cukup sedih ketika itu.. Tantangan baru pun muncul. Dari hasil tanya-tanya, terapi terbaik untuk anak hyperbilirubine ya cuma ASI+phototherapy. Karena sedih, ASI drop. Hasil perah pertama kali hanya 10ml. Teman-teman dan keluarga begitu mendukung sehingga saya mulai bangkit dan ga boleh sedih dan nangis-nangis lagi biar produksi ASI bisa melimpah lagi. Perlahan tapi pasti, hasil perah bertambah banyak. Meski demikian ternyata ga mudah juga ya jika nakes yang menangani tidak pro-ASI karena ada (oknum) perawat yang melakukan “visit” dan menegur kami para ibu agar tidak terlalu sering mengeluarkan bayi dari box terapi agar maksimal. Kalau mau nyusuin, pake sufor aja. Begitu kurang lebih kalimat yang dilontarkan dengan nada agak marah karena ketika itu seorang ibu yang sekamar dengan kami tengah mengeluarkan bayinya untuk disusui. Akhirnya ibu itu beneran kasih sufor padahal hasil perah ASInya sedari awal selalu lebih banyak dari saya. Alasannya ya selain karena (dianggap) kurang memenuhi kebutuhan sang bayi, juga karena dimarahi nakes itu. Nah loh.. Padahal saya sudah berulang kali bilang kalau ASInya pasti mencukupi, yang dibilang nakes-nya cuekin aja untuk urusan sufor.
Sayangnya kemudian keluarga itu memaksa pulang di hari ke-3, saat itu Bilirubine Total (BT) sang anak masih tinggi. BT Danisy 19,8, BT anak itu 19,3. Beda sedikit padahal. Saya sangat menyayangkan sikap nakes-nya yang selain salah memberi informasi, juga karena bersikap kasar terhadap pasien. Padahal kami membayar full bukan menggunakan surat miskin. Ah tapi sudahlah. Mungkin perawat itu sedang lelah.. Dan setiap orang tua memiliki pertimbangan masing-masing.

Alhamdulillaah di hari ke-5 kami sudah bisa pulang, BT si sulung saat itu sudah turun jadi 9,8. Alhamdulillaah..

Saat si sulung lahir, saya sedang berencana melanjutkan lagi kuliah yang tertunda selama kehamilan. Di usia 1 bulan sudah dibawa PP Bandung Jakarta untuk urusan kerjaan juga jadi sudah semakin terbiasa dengan ASI Perah. Alhamdulillaah bisa beres ASI Eksklusif, dan penuh hingga 27 bulan.

Sementara masa menyusui anak kedua hampir ga ada tantangan berarti karena saya sudah full di rumah dan tidak lagi mengalami anak harus dirawat. Lahiran anak kedua saya merasakan takjubnya IMD. Bayi yang baru lahir, diletakkan di perut dan dia perlahan seperti menendang untuk berpijak dan akhirnya sampai di payudara untuk menyusu. Hal yang tidak saya alami saat anak pertama karena saat itu semua terasa heboh ditambah sepertinya saat lahir ada tanda kegawatdaruratan pada bayi mungil itu jadi langsung dilarikan menjauh dari saya. Pas ketemu lagi, usah pake baju :D
Kalau anak kedua hampir bisa dikatakan saya sangat atau bahkan cenderung terlalu santai. Tapi alhamdulillaah masih ASI sampe sekarang usianya 16 bulan, lulus ASI Eksklusif dan masih akan saya susui hingga 2 tahun nanti insyaallah..

Jadi yuk semangat menyusui. Karena menyusui itu normal. Sepaket dengan bayi dan kelahiran ^_^

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Pertanyaan dan Pernyataan yang Terlontar

Bagi semua orang tua yang memiliki anak, pasti melalui fase ini. Fase dimana sang anak sudah semakin mahir berbicara dengan rasa ingin tahu yang besar. Dan dalam fase ini akan banyak sekali pernyataan dan pertanyaan yang terlontar. Polos tapi seringkali membuat kita orang tuanya tertegun mencari jawaban yang semoga cocok dalam menambahkan informasi pada sang anak. Salah jawab sedikit saja bisa berakibat lumayan fatal karena jawaban dari satu pertanyaan akan mendatangkan pertanyaan berikutnya. Atau respon dari satu pernyataan akan menghadirkan pernyataan berikutnya. Sebenarnya tidak sulit tapi juga tidak gampang. Kita harus membaca lebih dulu atau mengetahui lebih banyak.

Pertanyaan dan pernyataan seringkali terlontar tanpa kita duga. Saat membaca buku, saat bermain bersama, bahkan saat menunggu dan memperhatikan sekitar. Semua bisa datang kapan saja dan kita sebagai orang tua harus siap menjawabnya, merespon setiap kalimat yang keluar agar menjadi tambahan respon yang masuk sehingga menambah informasi yang terkumpul pada diri sang anak.

Saya dan suami seringkali merasa kaget, kadang bingung kadang serba salah karena pertanyaan dan pernyataan yang terlontar dari sulung kami. Polos tapi terkadang sangat dalam dan bahkan di luar perkiraan. Jika sudah begitu, saya pribadi suka merasa jadi seperti orang bodoh, menyadari bahwa ilmu dan pengetahuan saya masih jauh dari yang namanya mumpuni. Hiks.. Tapi dengan begitu jadi penyemangat untuk tahu lebih banyak, belajar lebih giat. Jadi tidak hanya anak yang butuh pasokan informasi, tapi kita juga orang tuanya harus memberdayakan diri dengan terus belajar baik ilmu tentang pendidikan anak maupun ilmu yang melengkapinya yang bisa saja meliputi banyak hal: ilmu pengetahuan umum, tauhid, pemahaman agama dsb. Harus luas banget nih pengetahuannya setidaknya saat anak bertanya, kita bisa bareng-bareng belajar mencari jawaban atas pertanyaannya. Jika saya mentok menjawab pertanyaan anak saya, saya akan balik bertanya pendapat ataupun jawaban menurut versinya. Jika ternyata dia tak punya bayangan sama sekali, biasanya dia akan bilang “Aa juga gatau mi” nah itu saatnya googling bareng. Alhamdulillaah ada teknologi yang bisa membantu mempermudah pencarian informasi. Jika sedang di rumah dan ada di sebuah buku, maka kami membuka buku bersama dan membacanya bersama-sama. Jadi seru-seruan bareng. Sementara anak kedua saya ikut menikmati juga suasana seperti itu dan bersuara seperti ingin ikut terlibat. Karena saya masih belum sepenuhnya paham bahasa bayi, paling saya ajak dia gabung dan ikut mendengarkan isi buku bareng kakaknya.

Betapa dunia anak-anak itu menyenangkan ya ^_^

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.372 pengikut lainnya.