Aisha Azkiya

Beranda Pikiran dan Rasa ^-^

Pelajaran Malam

Setiap kali melakukan perjalanan di malam hari, rasanya selalu ada pelajaran seru yang dilewati. Bukan berarti perjalanan siang tak berarti, hanya saja saya seringkali melakukan perjalanan di malam hari, sedangkan siang hari dihabiskan di kegiatan “indoor”.

Jika dulu malam hari dilalui sepulang kerja atau kuliah, maka belakangan dilalui usai pulang dari rumah mama atau kegiatan bersama suami dan anak-anak. Sensasinya berbeda tentu saja, seperti halnya latar belakang peristiwa yang dilalui seharian.

Dulu ketika masih bekerja, pulang malam dilakukan saat harus lembur atau ada pekerjaan yang sedang semangat dilakukan. Menyusuri jalanan temaram dan sudah mulai sepi untuk sampai di jalur yang dilalui angkot yang akan saya naiki. Sepanjang berjalan kaki, rasanya seperti sedang membiarkan diri berbicara sendiri saja. Mengajak diri sendiri bercerita bahkan sesekali menangis melepas beban yang menumpuk. Di perjalanan saya masih bisa bertemu dengan supir angkot yang mungkin sudah lelah tapi masih harus “narik” untuk menafkahi diri dan keluarga. Saya mungkin tak selelah beliau.
Sesekali masih ada pengamen yang bertandang ke angkot yang saya naiki, ah.. entah mereka punya tempat pulang atau tidak.

Ketika melewati malam usai kuliah, sering saya melihat seorang bapak paruh baya memikul dagangannya berupa sapu dan beberapa alat rumah tangga. Yang membuat saya takjub adalah bapak itu pincang. Beliau berjalan dengan dibantu tongkat. Malam begini dengan pendapatan yang mungkin tak seberapa. Saya melihat beliau di beberapa tempat berbeda tapi masih satu jalur. Jika saya berjalan kaki sejauh itu sudah pasti sangat lelah. Apalagi bapak itu pincang. Sayangnya saya hanya mampu melihat dari kejauhan.

Malam hari saat sebagian besar orang di rumah berkumpul bersama keluarga, di luar sana masih banyak yang mencoba mengais rejeki meski sedikit, mencoba menyambung hidup meski tertatih. Meski demikian ada pula yang sedang mencoba menawarkan diri pada lelaki yang jelas bukan pasangan sah. Na’udzubillah..

Melewati malam hari yang sunyi, tak jarang saya melihat para tunawisma menggelar dus atau barang serupa sebagai alas untuk mereka tidur, beristirahat dari hiruk pikuk seharian. Bercampur baur entah masih keluarga atau hanya karena merasa senasib sepenanggungan.

Tapi dari mereka kita belajar tentang arti sabar, tawakkal dan perjuangan. Mensyukuri bahwa kita masih jauh lebih beruntung dengan semua yang kita miliki. Saat kita masih punya rumah untuk pulang meski dikejar bayar.. kontrakan. Saat kita punya keluarga yang akan menyambut kepulangan kita dengan sukacita. Saat kita masih bisa menaiki kendaraan sedang yang lain harus berpikir berkali-kali untuk memutuskan berkendara.

Bagaimanapun kita lebih beruntung dengan semua permasalahan yang ada dalam kehidupan kita. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan Engkau dustakan :)

Hari Pertama Danisy Tidur Sendiri

29 Oktober malam. Hari pertama Danisy memulai tidur sendiri di kamar terpisah. Sebelumnya masih satu kamar dengan saya, suami, dan adiknya, Azam (18 bln). Meski tidur satu kamar tapi semenjak ada Azam, Danisy selalu tidur di ujung kasur, sebelahnya Azam, lalu saya baru kemudian suami. Ga satu selimut karena anak-anak ga suka berselimut. Hehehe

Beberapa waktu lalu (meski telat taunya) dari sebuah seminar saya dapet ilmu bahwa ketika anak berusia 4 tahun, maka anak sudah memasuki fase mulai mengenal sex. Seperti misalnya menikmati sensasi nahan pipis. Maka di usia ini, anak sudah harus semakin dipahamkan lagi mengenai hal mendasar. Saya, sampai ikut seminar kemarin, masih mandiin Danisy dan membersihkan kemaluannya (tentu saja saya memegang tititnya untuk dibersihkan). Rupanya saya salah. Anak usia 4 tahun itu sudah mulai bisa merasakan perbedaan sentuhan bahkan oleh ibunya sendiri. Alhamdulillah besoknya langsung bisa diterapkan saat mandi.

Alhamdulillah Allah kasih ilham untuk mulai mengajarkan Danisy cebok sendiri ketika buang air, beberapa saat sebelum saya mengikuti seminar. Kalau soal cebok pas pipis sih udah lama dia cebok sendiri meski masih cuma sekadar dibanjur air. Nah, untuk cebok sendiri pas buang air besar baru belakangan ini. Alhamdulillah dianya mau (dan seneng banget), cuma untuk urusan banjurin airnya tetep sama saya atau abinya. Jadi sekarang sudah hampir segala ditangani abinya. Gampang banget ngarahinnya: Aa mandi sendiri ya, kan laki-laki, udah 4 tahun, dah besar. Kalau ummi perempuan. Dia pun melanjutkan “abi kan laki-laki jadi nanti aa mandi sama abi aja ya” nah itu sih bukan maksud ummi ngajarin begitu ya tapi otomatis sendiri jadi ya alhamdulillah. Hehehe. Abinya udah dikasih tau soal yang didapat dari seminar jadi ketika hari pertama Danisy ga dimandikan sm saya, abinya yang turun tangan. Sebenarnya sudah sejak lama Danisy suka mandi sendiri tapi masih sering dimandiin.
Kadang muncul pertanyaan juga “mi, kan dede juga laki-laki sama kayak Aa” jawaban sederhana yang saya lemparkan “dede masih kecil. Nanti kalau udah besar kayak aa, sama ummi suruh mandi cebok pake baju sendiri”. Meski dia menerima jawaban itu tapi sekarang untuk urusan mandikan anak-anak akhirnya sering jadi bagian abinya.
Anak 4 tahun masih kongkrit pikirannya, belum mengerti kata nanti yang abstrak makanya kudu pintar nyari jawaban yang lebih konkrit dibandingkan sekadar “nanti”.

Mama sendiri sudah saya beritahukan soal ini dan alhamdulillah support. Sebenarnya dengan begini kita sebagai orang dewasa terbantu banget karena anak sudah bisa lebih mandiri.

Kembali ke acara tidur sendiri. Pembicaraan soal tidur sendiri sebenarnya sudah diwacanakan sejak lama, cuma emang saya nya belum siap, kamarnya belum support dan berefek ke Danisy nya juga yang sudah setuju sebenarnya. Maka ketika kemarin akhirnya memutuskan “siap”, saya cuma bilang “aa tidur sendiri di kamar belakang ya” Danisy yang sudah terkantuk mengangguk. Begitu saya rebahkan di kasur dia cuma minta guling dan ditemani ummi sampai tertidur, “kalau aa udah bobo, ummi pindah lagi ke kamar belakang ya” dan iapun mengangguk lalu tak lama ia tertidur pulas. Menjelang shubuh saya kecup keningnya dan berkata “ummi bangga sama aa” ia buka mata sejenak, tersenyum lalu kembali terlelap.

Ah, sudah besar ya. Sudah banyak fase “pelepasan” yang kita alami untuk memasuki fase tumbuh kembang berikutnya..

Barakallah fik ya bunayya..

Oseng Sapi Pedas

Hari ini baru nyoba masak daging. Ngolah daging sapi yg didapat waktu kurban. Hehe..
Maklum, pas Idul Adha eneg sm daging dan kami sekeluarga jarang di luar rumah. Ga saya olah krn saya pikir bakalan ribet dan butuh waktu lama. Eh hari ini malah masaknya sebentar banget. Alasannya? Karena saking jarang di rumah ga ngeh kalau bumbu yg ada tinggal duo bawang.

Nah oseng sapi pedas ini sederhana banget. Saya ga pinter masak jd ya maaf kalau resepnya minim :D

Bahan:
-duo bawang: bawang merah dan bawang putih
-saus sambal
-kecap
-terasi
-gula putih
-garam
-daging sapi dipotong dadu atau sesuai selera
-minyak goreng
-air

Cara masak:
-panaskan minyak di wajan
-iris duo bawang
-masukkan duo bawang ke minyak panas
-masukkan terasi dengan cara ditaburkan
-masukkan daging sapi
-tambahkan garam, aduk
-tambahkan gula putih, aduk
-tambahkan saus sambal, aduk
-tambahkan kecap manis, aduk
-tambahkan sedikit air
-biarkan mendidih hingga daging empuk
Saat dibiarkan, air akan berkurang sehingga kuahnya tetap kental. Maklum cuma pake bahan yg ada di rumah :P

Segitu aja. Sederhana dan ga lama masaknya. Tapi rasanya lumayan enak. Sambil nunggu suami pulang, semoga beliau suka.

Oh iya, bagi yg ga suka pedas, sausnya bisa diganti saus tomat. Bisa juga ditambahkan saus tiram atau saus teriyaki.

Selamat mencoba ^_^

Aisha Azkiya
-Tulisan Mencatatkan Kenangan-

Aisha Azkiya
-Tulisan Mencatatkan Kenangan-

Hore dapet award…

Esa:

Hei.. lama tak mampir dan nangis baca ini..

Originally posted on Behind every cloud is another cloud.:

Hibernasi Mode: [masih] Off

hehe… parah nih, padahal baru kemaren mendeklarasikan diri untuk hibernasi sampai batas waktu yang belom ditentukan. Tapi udah ON nge-blog lagi. Sambil nunggu upload tugas yang lama kelarnya, ya sudah daripada bengong yah, mendingan nge-blog. Sebenernya ga ada topik yg mau diriku tulis, tapi barusan nge-cek comment dari Kang Dede ternyata blog saya kebagian Award dari beliau…

View original 530 more words

Mainan Tradisional Merangsang Kecerdasan Anak

Pagi ini, saat membaca buku 105 Permainan untuk Meningkatkan Kecerdasan dan Kreativitas Buah Hati terbitan TransMedia dan ditulis oleh Christine Lerin, saya tiba di bagian permainan “Kitik-kitik”, permainan untuk anak usia 1-2 thn. Di poin ketiga tentang cara bermain, disebutkan “supaya lebih seru lakukan permainan ini dengan berpura-pura menjadi binatang yang merayap”. Nilai lebih yang dapat diperoleh dari permainan ini adalah merangsang kepekaan motorik halus anak dan mengetahui proses merayap.

Membaca poin ini saya kemudian teringat permainan tradisional yg sering saya dan anak-anak mainkan. Saya gatau nama permainannya apa tapi lagunya (yg saya hafal) begini: “rauk rauk si julang kamana lumpatna, ka dieu”. Cara bermainnya sendiri cm mengangkat tangan di atas badan anak (anaknya sendiri biasanya sambil rebahan) sambil menggerakkan jari jemari lalu ketika sampe di “si julang kamana lumpatna” biasanya diam sebentar untuk pura-pura mencari bagian tubuh anak mana yang akan dikitik-kitik sehingga jadi kejutan. Azam dan Danisy seneng banget sama permainan ini.

Rupanya permainan tradisional yang beredar selama ini memiliki manfaat yang di keilmuan modern itu oke untuk merangsang motorik anak ^_^

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Saya Lelah tapi Tidak Ingin Marah

Pernah ga sih merasa bete, kesel dan marah? Apalagi ketika lelah melanda, rasanya perasaan seperti itu mudah sekali hinggap..

Di tengah kelelahan saya beberapa waktu ke belakang, diguyur kejutan kemudahan dr Allah melalui tangan suami. Meski lelah itu tetap ada, tapi senyum masih bisa terkembang.

Lain halnya dengan kejadian beberapa saat yang lalu yang menjadikan saya begitu kesal. Rasanya ingin marah. Saya sedang lelah, tapi sebisa mungkin saya sedang belajar untuk tidak mudah marah. Sulit. Tapi harus belajar.

Saya yang sedang merasa begitu lelah tiba-tiba menyesalkan keikutsertaan saya dalam sebuah percakapan yang saya yakin tidak disengaja dan mungkin tidak dimaksudkan untuk hal yang negatif.

Saya yang sedang lelah hanya sedikit kesal, kenapa kekesalannya masih saja ada setelah sekian lama terjadi dan saya pun sudah meminta maaf atas kelalaian saya yang benar-benar tidak saya sengaja.

Saya yang sedang lelah pun merasa kesal akan sikap lalai orang lain yang melibatkan saya. Bertambah jengkel karena kejadian itu.

Saya lelah, tapi tak ingin marah. Maka saya hanya memohon maaf lagi jika ternyata masih ada hati yang tak ikhlas menerima kesalahan saya.

Saya lelah tapi tak ingin marah. Maka saya coba diam daripada mengeluarkan kata-kata yang saya tahu akan menyakiti orang lain.

Saya lelah tapi tak ingin marah. Maka saya pilih mundur sejenak untuk menata hati yang terluka. Semata agar bisa melanjutkan perjalanan tanpa pikiran negatif atau perasaan sakit.

Menerima rasa sakit itu tidaklah mudah. Menerima kebodohan diri juga perlu perjuangan. Maka meski lelah saya tak boleh marah apalagi jika orang yang tak bersalah turut jadi korban dari rasa lelah yang melanda.

Maka belajar untuk diam saat ingin berbicara, menahan amarah saat lelah menyerang, menahan kesal saat amarah mencekam adalah sebuah perjuangan berat yang harus ditaklukkan.

Saya tidak boleh hanya mengeluhkan keadaan. Jika memungkinkan untuk hijrah dan mengakhiri jalan, maka akhiri dan hijrah-lah. Jika tidak, maka belajarlah menerima kenyataan dan menata perasaan agar tak lagi bermusuhan dengan keadaan.

Bismillah..

Aisha Azkiya
-Tulisan Mencatatkan Kenangan-

Bajigur

Setelah sekian lama, rasanya baru kali ini ketemu lg sm penjual bajigur. Sepertinya makin langka ya penjual bajigur keliling. Padahal ini termasuk minuman khas tatar sunda.

Bajigur sendiri sekarang sudah jadi sesuatu yang mahal. Perhatikan saja banyak yang memproduksi bajigur instan untuk dijual secara luas. Dan banyak juga tempat makan atau tempat tertentu yang menyediakan bajigur dengan harga yang tentu saja sudah tidak murah. Padahal soal rasa, sama saja dengan para penjual keliling (di beberapa tempat, menurut sy pribadi).

Pernah berbincang dengan seorang penjual bajigur. Beliau sendiri sudah bertahun-tahun berjualan bajigur (beserta pelengkapnya dong ya kalau bajigur mah. Semua serba dikukus. Mulai dari kacang kedelai, kacang tanah, ubi, pisang dll). Beliau sudah nemu ritme jualan yang “rame”. Tapi jika sedang sepi, ya jualannya nyisa (kalau soal ini, semua penjual pasti pernah mengalaminya. Sayapun mengalaminya). Masalahnya untuk para pedagang makanan seperti tukang bajigur, jualannya kalau ga habis ya bisa basi. Apalagi bajigur kan ada santan dan sering dikocek-kocek :D
Resiko seperti ini membuat makanan seringkali dijual lebih mahal supaya modal tetep ketutup. Tapi, harga bajigur yang barusan saya beli cuma 2.500 itu bisa segelas gede deh kayaknya soalnya banyak banget.. Ditambah plastik tebel, sedotan dan keresek. Jadi murah banget ya. Semoga si bapak jualannya laris. Sudah sepuh.

Ada sedikit yang berbeda dr bajigur yang saya beli hari ini. Bajigurnya ditambahkan “cangkaleng”. Bahasa Indo-nya apa ya.. Kolang-kaling. Gatau deh gimana rasanya. Saya belum nyobain soalnya tulisan ini sy buat di perjalanan pulang dari BSM k rumah mamah :D

Update akan sy tulis setelah saya nyoba ya..

Dan hasilnya..

Enaaaakkkk.. Ga kalah sama bajigur yg ga pake cangkaleng. Ya Allah asli enak bgt ini bajigurnya..

Aisha Azkiya
-Tulisan Mencatatkan Kenangan-

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.476 pengikut lainnya.