Izinkan Aku Bertutur
Sabtu, 4 Juli, 2009
‘Izinkan Aku Bertutur’
Oleh : Neno Warisman
Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”
Suamiku menjawab: “Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.” Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.
Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatam kan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: “Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya, Yah.” Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”
Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.
Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.
Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.
Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.
Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.
Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”
Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”
Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.
Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.
Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.
Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.
Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”
Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.
Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”
Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?
Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.
Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.
Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”
Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.
Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.
Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!
Amin, Alhamdulillah
Proses Pendewasaan
Rabu, 1 Juli, 2009
Hmm.. masa 17 tahun emang udah sekitar 4 tahunan sy tinggalkan. Tapi masa pencarian jati diri dan pendewasaan diri itu masih terus berjalan hingga saat ini. Banyak ilmu yang terkuak ketika kita belajar semakin dewasa menyikapi segala sesuatu. Belakangan ini bahasan tulisan difokuskan pada satu bahasan tiada akhir, cinta. Bukan karena sa sedang jatuh cinta, bukan. Bukan pula karena sa sedang patah hati. Tapi karena belakangan ini sedang diajarkan tentang cinta. Cinta yang sa sendiri terkadang merasa, “kemana sa selama ini, baru paham hal-hal seperti ini”.
Dimulai dengan menyelami samudera rasa, memilah dan memilih rasa dan mendalami diri sendiri. Ya. Di usia 21 ini sa belajar banyak mengambil pelajaran kehidupan. Didewasakan masalah dan didewasakan CINTA. Belajar menyikapi cinta dengan pandangan berbeda. Memandang cinta dari sudut berbeda. Belajar melihat dari berbagai sudut pandang.
Pada dasarnya ketika kita mencintai seseorang, maka kita hanya perlu memikirkan bagaimana kita memberika kebahagiaan pada orang yang kita cintai. Bukan berarti kita egois. Ga gitu jg. Tapi tarohlah ketika kita mencintai seseorang, maka pilahlah.. apakah rasa cinta itu rasa yang harus memiliki atau hanya perasaan simpati. Bukan bermaksud membedakan agar seperti ini dan seperti itu, melainkan kita harus bisa mengukur kedalaman cinta kita. Ukur pula keraguan kita. Ukurlah diri kita. Ketika kita mencintai seseorang, bukankah yang kita inginkan dia bahagia.
Jika menurut Allah kebahagiaan orang yang kita cintai adalah dengan hidup bersama kita, maka itu adalah karunia. Namun jika ternyata kebahagiaan itu muncul dengan ia tak bersama kita, maka itulah cinta. Terkadang ia diuji dengan tidak memiliki. Disanalah diperlukan kedewasaan bersikap. Dalam pernikahan misalnya, jika dipikir lagi kenapa sih kita menikah? Toh urusan kita tetap urusan masing-masing. Kita dengan Allah, pasangan kita dengan Allah. Ga ada yang spesial. Memenuhi nafsu biologis, mungkin.. memberikan ketenangan.. mungkin. Tapi taukah landasan terkuat yg bisa menyatukan cinta kita? Sy menikah karena Allah menyuruh sy. Sy mencintai pasangan sy karena itulah salah satu penyebab turunnya kasih sayang Allah. Sy mencintai anak-anak agar cinta Allah hadir dalam kehidupan. Akhirnya semua hanya karena Allah, Allah dan Allah saja.
Lantas apakah kita egois? Tentu tidak. Setidaknya itu menurut saya. Ketika hanya Allah saja landasan kita, maka kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan Allah saja tujuan kita. Kita akan senantiasa memberikan yang terbaik. Memenuhi perintah Allah untuk mencintai dan memperlakukan pasangan dengan baik. Akan senantiasa berbuat apa yang menyebabkan Allah ridha. Indah bukan?
Dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang, akan Anda temukan banyak hal luar biasa tentang cinta. Cinta yang dilandasi keridhaan Ilahi. Bukan sekadar cinta birahi. Indah ketika tahu kisah Abu Darda’ dan sahabatnya Salman AlFarisi. Indahnya kisah cinta para sahabat karena bingkai cinta mereka tak sekadar memenuhi nafsu semata, tapi juga sebagai interpretasi ibadah ketaatan kepada Allah.
So..sudah siap menjalani proses pendewasaan? Allah selalu punya skenario terbaik mendewasakan kita. Dan Allah selalu punya hadiah terbaik untuk setiap kenaikan tingkat kita..
Selamat menjalani proses kedewasaan. Terima kasih untuk kakak-kakakku dan keluargaku dan sahabatku yang mengajarkan banyak hal luar biasa.
Terima kasih sudah semakin mendewasakan sa dan membantu sa untuk menapaki jalan kedewasaan..
Begitulah. Maka Nikmatilah..
Sabtu, 27 Juni, 2009
Nikmati aja. Itu kata-kata yang sering dinasihatkan kepada sa ketika sa tengah merasa tertekan. Merasakan yang diamanahkan Allah seperti beban. Nikmati aja, Sa. Begitu kata-kata itu seringkali terucap dari teman-teman. Nikmati aja De. Itu nasihat kakak-kakak sa.
Ya, seringkali sa ngeluh ke mereka. Kakak-kakak sa seolah jadi jawaban Allah atas harapan tak terucap selama ini. Orang-orang yang bisa dijadikan sandaran ketika seluruh keluarga bertumpu di pundak. Ketika semenjak kecil senantiasa diajarkan untuk mandiri, diajarkan betapa kerasnya hidup. Tapi itulah yang membuat sa semakin kuat.
Ketika beranjak dewasa, amanah itu semakin terasa berat. Terus bertambah. Dilema antara tanggung jawab pada diri dan keluarga. Seringkali demi tanggung jawab pada keluarga membuat sa harus mengalahkan ego diri. Hingga saat Allah dengan indah memperlihatkan skenario yang luar biasa. Sa ga bahkan tak ingat pernah memintanya atau tidak. 2008-2009 adalah saat-saat luar biasa yang mengagumkan.
Syukuri. Itu nasihat kakak-kakak ketika sa bercerita tentang hal itu. Meski seringkali mengeluhkan beratnya beban ini, namun selalu ada bahu yang siap dijadikan sandaran, selalu ada telinga yang siap mendengar dan selalu ada tutur kata yang bijak semakin mendewasakan.
Ya. Begitulah. Sa hanyalah perantara turunnya rizki dari Allah untuk keluarga. Dan masih banyak perantara lainnya. Hanya Allah tempat kita bersandar. Maka nikmatilah proses pendewasaan ini. Bantu sa.. teruslah berada di samping sa. Temani sa untuk menuju level selanjutnya. Lebih baik lagi dalam memahami diri. Bantu sa untuk memahami dan menikmati ini semua. Jangan pernah berhenti dan jangan pernah bosan. Kumohon..
Terima kasih untuk kakak-kakakku dan teman-teman yang senantiasa memberikan warna cerah kedewasaan dalam hidup sa.
Terima kasih untuk bahu tempat bersandar, telinga yang senantiasa mau mendengar, tangan yang lembut memeluk dan tutur kata bijak yang senantiasa terucap. Kalian hebat. Luar biasa!
The Difference Between Someone U Love n Someone U Like
Jumat, 26 Juni, 2009
Dalam sebuah tulisan berjudul The Difference Between Someone u love n someone u like, statements yang dibuatnya sungguh menarik sekaligus lucu.
Berikut tulisannya,
In front of the person u love,ur heart beats faster.
But in front of the person u like,u get happy.In front of a person u love,winter seems like a spring.
But in front of a person u like,winter is just a beautiful winter.If u look into the eyes of the one u love,u blush.
But if u look into the eyes of the one u like,u smile.In front of a person u love,u can’t say anything on ur mind.
But in front of a person u like,u can.In front of the one u love,u tend to get shy.
But in front of the one u like,u can show ur own self.U can’t look straight into the eyes of the one u love.
But u can always smile into the eyes of the one u like.When the one u love is crying,u cry with him.
But when the one u like is crying,u end up comforting him.The feeling of love starts from the eye.
But the feeling of liking starts from the ear.So if u stop liking a person u used to like,all u
need to do is close ur ear
Ada statement menarik dalam tulisan itu. 2 bait terakhir. The feeling of love starts from the eye. But the feeling of liking starts from the ear. So if u stop liking a person u used to like,all u need to do is close ur ear. [Perasaan cinta bermula dari mata. Sedangkan perasaan suka bermula dari telinga. Jadi jika Anda ingin berhenti menyukai seseorang yang kau sukai, yang perlu Anda lakukan adalah menutup telinga Anda]
Anda setuju atau tidak, itu terserah. Saya hanya ingin menyoroti itu. Benarkah bahwa cinta bermula dari mata dan suka bermula dari telinga? Any opinion?
Kalo saya pribadi antara setuju dan tidak. Apa pasal? Karena yang perlu kita tahu adalah apakah kita menyukai seseorang atau mencintainya. Jika Anda mengikuti kata-kata yang saya kutip tadi, mungkin Anda bisa mengetahui bedanya. Tapi sesungguhnya yang bisa tau dan membedakan adalah Anda sendiri. Tulisan itu hanyalah salah satu indikator saja, salah satu parameter saja. So, ada yang mau nambahin? Please leave a comment, anything u want it to say
Semua yang Terjadi Adalah Baik
Jumat, 26 Juni, 2009
Semua yang terjadi dalam kehidupan kita selalu sesuatu yang baik jika kita sikapi dengan baik. Apa pasal? Karena tiada Allah menimpakan sesuatu melainkan sesuai kemampuan hambaNya, karena Allah takkan pernah menzhalimi hambaNya dan karena selalu ada hikmah di balik setiap kejadian.
Semua semata untuk membuat kita semakin dewasa. Tidak ada penyesalan jika kita mampu mengambil hikmah dari kejadian buruk masa lalu. Tolong jangan salah artikan kata-kata sa itu. Yang sa maksud adalah tidak ada penyesalan jika diperbaiki. Percuma saja menyesal jika kita tak lebih baik dari sebelumnya.
Kesedihan, ketakutan, kemarahan, kebahagiaan, semua yang menimpa kita semata membuat kita lebih dewasa menghadapi kehidupan. Maka benar apa yang Rasulullah saw sabdakan bahwa beruntung orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Ia mampu mengambil hikmah kehidupannya dan senantiasa berusaha lebih baik lagi dari hari ke hari.
Semua yang terjadi adalah baik. Tak ada takdir Allah yang buruk, dan ingat sebelum takdir itu benar-benar menimpa kita diberi kesempatan dan kebebasan untuk memilih takdir kita sendiri. Mengambil jalan A kah atau jalan B atau yang lain. Jalan kemaksiatan kah yang kita pilih atau jalan kebaikan. Kita punya kebebasan penuh untuk menentukan meski sebenarnya Allah sudah tahu apa yang akan kita pilih.
Ya, semua yang terjadi adalah baik. Jangan meratapi nasib sedemikian membuat kita melupakan sabar dan syukur, membuat kita lupa akan nikmat-nikmat Allah yang lebih banyak daripada penderitaan.
Bismillah. Mari bersama belajar agar setiap saat kita senantiasa semakin yakin semua yang terjadi itu baik. Dan teruslah mendekat pada Yang Mahabaik agar senantiasa semakin kuat menjalani kehidupan. Amin.
Memahami Diri
Kamis, 25 Juni, 2009
Tengah merenung. Mengapa diri ini begitu rapuh menghadapi ujian. Antara cita, asa dan tanggung jawab. Bukanlah hal yang mudah bagiku saat ini membagi antara pekerjaan, kuliah dan amanah lain di luar. Tak hendak melepas semuanya karena semuanya amanah. Tidak bermaksud menanggalkan salah satu karena aku menginginkan diri ini tetap berada disana.
Seorang perfeksionis sepertiku bukanlah seorang yang senang jika didahului. Seorang dominan sepertiku bukanlah seorang yang senang diberikan kelonggaran saat yang lain bekerja keras. Seorang yang tidak suka terkalahkan secara mutlak. Aneh memang. Tapi itulah yang kini kupahami.
Ternyata aku bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah menerima setiap ketidakpastian jika ketidakpastian itu seringkali terjadi. Bukan karena aku tak mampu menyesuaikan diri, tapi lebih pada akhirnya ketidakpastian itu membuatku merasakan kelelahan yang teramat sangat. Kelelahan yang tak berpenyebab pasti dan masuk ke dalam alam bawah sadar secara tak disadari. Hal seperti itulah yang membuat fisik ini begitu mudah tumbang, membuat pikiran begitu mudah dikacaukan dan membuat suasana hati tak menentu.
Ada baiknya setiap sesuatu ditulis. Demikian nasihat seorang kawan, Pak EWA namanya. Dosen yang rajin berbagi ilmu di blognya. Lama tak berkunjung ke blog beliau. Hari ini secara sengaja sa buka notes di FB. Bukan maksud mencari tulisan untuk mengingatkan diri, melainkan mencari tulisan mana yang belum dipublish di blog. Namun di luar dugaan, ada sebuah tulisan yang memang belum sa publish di blog. Tentang Jurus Pecinta Alam, pelajaran dari mereka untuk kita ambil dalam menghadapi kehidupan. Berhubungan dengan cita, asa dan capaian kita sebagai seorang manusia. Berikut isi tulisannya. Tulisan ini dibuat sekitar 2 pekan lalu dalam kegundahan yang sama yang tengah sa rasa saat ini,
Mm.. ga tau belakangan ini serasa capek banget.. ya di kantor ya di kampus.. Padahal klo diperhatikan lagi ga ada kegiatan yang bikin sedemikian capeknya..
Duh jd inget sama amanah yang dikasih Pa Rio, belum lagi targetan kerja dan targetan kuliah plus targetan lain.. I think I’m under pressure now.. Wanna escape but I think it’s not d answer of this.
Ok, mari kita belajar dari para pecinta alam [ongkoh katanya saya teh suka alam dan bertualang, tapi kok pelajaran ini luput dr sy ya]
pake jurus para pecinta alam de
lihat puncaknya dulu
dan mulailah berjalan
nikmati sungai yang ditelusuri
nikmati pohon yang dilalui
nikmati kabut yang menyergap
dan tanpa sadar kita akan sampai puncak
begitulah kita sikapi target waktu
Hmm.. bener juga ya.. and then what is d peak? “target itu puncak” papar Aa. “tapi ya nikmati aja prosesnya. kalau lihat puncak terus kita bisa pusing dan jatuh ke jurang karena nggak lihat jalan. kita berani ambil resiko untuk menempuh perjalanan terukur.. bergerak cepat dan menikmati adrenalin yg memuncak”
Hmm.. again he makes me think deeply..
Jazaakallaah A..
Terima kasih Allah telah mengirimkan orang-orang hebat ke kehidupan sa.. temen-temen kampus yg luar biasa dan keluarga kecil yg juga luar biasa.. Subhaanallaah..
Maka aku mulai melangkah belajar memahami diri dan mencoba mencari solusi. Adalah teman-teman kuliahku yang luar biasa. Mengajarkan bagaimana mengenal diri, mengenali kehidupan. Terima kasih.
Hidup Hanya Antara 0 dan 1
Rabu, 24 Juni, 2009
Maaf nih ya, bahasannya rada nyeleneh. Bukan mentang-mentang saya kentang, eh salah. Bukan mentang-mentang saya mahasiswi Teknik Informatika yang belajar digit biner, tapi karena setelah dilihat, dipikir dan ditimbang angka 0 dan 1 yang dimengerti computer tak ubahnya kehidupan kita. Mau tahu alasannya? Kita Tanya Galileo [hayyah, kayak acara di salah satu stasiun TV swasta aja. Tapi sekarang udah ga ada. Padahal bagus banget.]
Ok, back to topic. Kenapa sa bilang menarik karena 0 dan 1 adalah hubungan dengan kehidupan? Saya coba review sekilas tentang 2 angka unik ini yang ternyata ada di hampir semua alat elektronik untuk menandakan on-off. 1 dan 0 dalam dunia computer adalah 2 angka luar biasa yang menjadikan computer juga luar biasa. Dari 2 angka inilah kita dapat menikmati teknologi sekarang. Secanggih apapun, computer hanya mengerti 2 angka ini, 0 dan 1. Tak kurang dan tak lebih. Kedua angka ini hanyalah cara computer mengatur daya, 0 ketika tidak ada arus listrik dan 1 ketika ada arus. Dan demikianlah alat elektronik secanggih apapun bekerja, hanya pertaruhan ada tidaknya arus listrik yang masuk.
Maka, jika kita ambil hikmah dari digit biner ini, kehidupan kita tak ubahnya computer. Hanya ada 2 pilihan, 0 atau 1. Taat atau ingkar, syukur atau kufur, islam atau kafir, dan sebagainya. Hanya ada dua opsi saja yang dengan dua opsi itu kita melanjutkan hidup. Sedangkan untuk melanjutkan itu, kita hanya dapat memilih satu dari dua opsi, 0 atau 1. Tidak ada 0,5. Tidak ada.
Maka dalam menyikapi kehidupan itu sendiri kita selalu dihadapkan pada 2 opsi yang akan terus berkembang dengan pemangkatan 2. Kelipatan 2. Ketika pada pilihan pertama opsi jatuh pada angka 0, maka ia akan berkembang pada opsi berikutnya, tetap hanya 2 opsi, 0 atau 1 namun dalam konteks yang kadang sama atau serupa namun kadang juga beda.
Dalam perjalanannya, 0 dan 1 saling berkombinasi saling melengkapi membentuk sistem diri yang tangguh dan bahkan amat sangat canggih. Antara hidup dan mati. Antara satu aplikasi ke lain aplikasi. Semua hanya tergantung pada kombinasi cantik kedua angka ini.
Bilangan heksa, octal dan bilangan lain di computer apapun secanggih apapun secantik apapun tetaplah hanya hasil kombinasi kedua angka ini. Hanya hasil kombinasi dan manipulasi.
Dan seperti itulah kehidupan. Dipenuhi kombinasi pilihan. Membentuk pribadi yang semakin peka terhadap perubahan. Yang dengan 2 opsi itu ia melesat menuju ‘arsy. Menuju titik tertinggi cinta, Firdaus.. Karena hidup hanya antara 0 dan 1, tak ubahnya seperti komputer.. hanya ia lebih rumit dan kompleks yang dengannya Allah hendak menguji siapa yang taat dan siapa yang ingkar. Siapa yang pantas mendapat surga atau merasakan panasnya api neraka.
Maka Allah menyandingkan kesulitan dan kemudahan dalam satu kalimat. Ia menyandingkan pula syukur dan kufur. Menyandingkan Muslim dan kafir. Semata karena Ia ingin kita menemukan kombinasi unik kehidupan. Pandailah mengambil hikmah.
Di dunia ini banyak sekali hikmah, tinggal apakah kita mau mengambilnya atau tidak. Bukankah Rasulullah saw sendiri mengatakan bahwa hikmah adalah harta muslim yang hilang. Dimanapun ia temukan, maka ambillah.
Semoga bisa bersama menggali hikmah dalam kehidupan. Temukanlah kombinasi indah 0 dan 1..









