Dilematis
Dilematis, itulah satu kata yang sering sa dapet dan sa pikirkan beberapa waktu ini. Dilematis adalah sebuah kata yang sa maknai sebagai sesuatu yang cukup sulit, bagai makan buah simalakama kalo kata orang. Lalu apa saja yang membuat sa berpikir demikian, khusus di tulisan ini, sa ingin berbagi soal peminta-minta.
2 hari yang lalu pembicaraan ini juga sempat didiskusikan ketika sa dan beberapa teman kerja terlibat sebuah perbincangan. Pembicaraan tentang fakta yang bisa dibilang rahasia umum bahwa orang-orang seperti mereka itu tak jarang malah berpenghasilan lebih dari UMR Bandung misalnya. Dan malah menjadikan hal itu sebagai pekerjaan utama. Tak jarang keluarganya malah tidak tahu, di kampung dia kaya raya, bilangnya kerja, tapi kerjanya ya itu, meminta-minta.
Dilematis, antara mengajarkan orang untuk mandiri dan tidak bermalas-malasan, antara ingin berbagi dengan dhuafa *karena kita akui kita juga –minimal sa– belum bisa membedakan mana yang bener-bener butuh sama yang ngga*, juga dengan kaidah berbagi yang diajarkan ALLAH, bahwa harta itu hak dhuafa yang tidak meminta, “(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 273)
Dan ingat, di Jalan ALLAH alias fisabilillah alias jihad itu ga selalu harus perang atau secara fisik, tapi ada tempat atau posisi lainnya. Harus nyari tahu berarti.
Jadi, apa yang harus kita lakukan? Semua tergantung pada temen-temen, apakah memilih memberi atau menyalurkannya pada lembaga-lembaga terpercaya? Semua sepenuhnya terserah antum. Sa sama kakak-kakak sa pernah saling berlomba untuk berinfaq, belajar dari kakak sa, kami berlomba untuk saling memberi. Maka, semua kembali pada niat. Innamal a’malu binniyat, dan seseorang mendapat sesuai apa yang diniatkannya. Wallahu a’lam bish shawwab.
Have idea for this?












