Frog Frenzy

Frog Frenzy, begitu nama yang saya ingat dari sebuah wahana yang dimainkan anak-anak kemarin malam ketika berkunjung ke sebuah supermarket. Wahana ini adalah permainan memukul kodok yang muncul ke permukaan dengan sebuah palu besar yang terbuat dari plastik entah kayu. Pokoknya palu mainan yang inSyaAllah aman untuk anak.


Dulu ketika anak pertama, suami melarang memainkan permainan tersebut. Alasannya sederhana, khawatir mengajarkan anak-anak memukul. Iya juga sih, pikir saya saat itu.

Tapi setelah anak kedua lahir, ada beberapa aturan yang kami koreksi bersama. Dan penerapan aturan memang tidak semudah ketika kami baru memiliki satu anak.

image

Contoh gambar wahana Frog Frenzy

Setelah baca beberapa buku dan artikel mengenai tumbuh kembang anak, mungkin permainan Frog Frenzy menjadi salah satu permainan terbaik yang ada di wahana zona permainan (dalam pandangan awam saya). Melalui Frog Frenzy, anak belajar untuk fokus. Mengecek kemampuan koordinasi mata dan tangan, meningkatkan kepercayaan diri sang anak bahwa ia bisa menyelesaikan permainan ini dengan baik dan untuk anak yang sudah berusia 3 tahun ke atas bisa dijadikan juga sarana mengajarkan anak berhitung dan mengenal konsep angka.

Saya lupa kapan pertama kali Danisy sulung saya mengenal permainan ini, seingat saya ini bukan yang pertama kalinya meski tak sering juga karena jarang saya ajak belanja. Khawatir ketagihan game.

Sementara bagi Azam anak kedua saya, ini adalah pertama kalinya. Saya agak kaget ketika Azam memainkan permainan ini. Semula saya tak berpikir ia akan tertarik memainkannya mengingat dia memang terbiasa memperhatikan gerak-gerik tindakan kakaknya. Jadi ketika kemarin dia serius melihat kakaknya, saya anggap itu biasa. Emang suka serius lihat kakaknya.

Ketertarikannya terlihat ketika kakaknya selesai main lalu berkeliling ke wahana lainnya. Azam mendekati Frog Frenzy. Lalu tebak dia ngapain? Ambil palu, tarik si kodok keluar lalu dia pukul. Persis seperti yang dilakukan kakaknya (bedanya ketika kakaknya main, kodok kan keluar sendiri bukan ditarik).

Saya bisa saja membiarkan Azam tetap bermain secara manual, tapi saya kemudian penasaran, kira-kira Azam bakalan gimana ya kalau permainan ini dimainkan secara otomatis. Maka saya minta kartu voucher game yang dipegang Danisy, lalu mengaktifkan wahana Frog Frenzy ini. Tunggu beberapa saat dan kodok-kodok pun keluar dari lubangnya secara acak. Azam yang sudah siap dengan palu sedari tadi mulai “mengincar” kodok yang keluar.

Meski kecepatan dan ketepatan Azam belum sebaik pencapaian Danisy, tapi sejauh pengamatan saya hasilnya bagus (ya eya lah. Anak 4,5 tahun vs anak 2 tahun). Koordinasi mata dan tangan cukukp baik. Satu fase kemampuan terlewati.

Di rumah malah keingetan checklist kemampuan Azam. Sudah sesuai atau belum. Ga harus semua dimiliki kemampuannya, setidaknya dominan daftar kemampuan sudah dimiliki Azam.

Bagi anak 1-2 tahun, kemandiriannya mulai muncul. Maka jangan heran ketika anak usia ini tiba-tiba ingin melakukan semuanya sendiri. Rasa ingin tahunya tinggi dan sedang masanya bereksplorasi banyak hal. Jika tak memahami ini, dijamin spaneng tiap hari. Heuheu.

Sebagai orang tua, kita cukup fasilitasi dan awasi mereka agar kemandirian mereka terasah dengan baik. Dan hadirlah bersama mereka agar mereka semakin nyaman dengan orang tuanya. Bonding ini penting untuk tumbuh kembangnya hingga ia dewasa nanti.

Saya mungkin agak sedikit ga cocok dengan istilah golden age yang membuat orang tua terobsesi menjejalkan berbagai informasi pada anak. Konon agar anaknya pintar. Ya pintar memang, tapi apakah di usia itu anak butuh terhadap kemampuan tersebut atau tidak. Itu penting agar anak tumbuh dengan maksimal dan dapat memanfaatkan kemampuannya tersebut. Bukan sekadar bisa.

Aktivitas harian anak dapat menjadi solusi pembelajaran yang baik. Pastikan kita tidak menjadi orang tua yang kaku dan diktator. Amati saat-saat dia nampak curious. Dan biasanya untuk anak seusia ini, waktu fokusnya ga lama jadi ya meski ada permainan melatih kemampuan, jangan heran jika dia tidak menyelesaikannya ketika itu. Stimulasi aja terus. Anda akan kaget ketika suatu saat dia dapat menyelesaikan dengan baik. Karena sesuatu yang berulang bagi anak, tanpa kita sadari akan direkamnya. Sedikit demi sedikit tapi pasti terekamnya.

Anak usia 1-2 tahun sedang belajar beberapa hal diantaranya:
– Sensitivitas indra peraba
-Kemampuan mengikuti petunjuk
-Kemampuan menunjuk dan mengenali bagian tubuh
-Koordinasi mata dan tangan
-Kemampuan mendengar dan berbahasa
-Pemahaman mengenai kanan dan kiri
-Memahami konsep “keluar” dan “masuk” (termasuk mengeluarkan dan memasukkan benda, keluar masuk rumah, dsb)
-Kepercayaan diri
-Mengenakan dan membuka pakaian sendiri (kemandirian)
-Kemampuan mengisi wadah (dan mengira-ngira. Termasuk di dalamnya menuangkan sendiri air dari teko ke gelas)
-Koordinasi motorik kasar (naik turun tangga bisa menjadi salah satu kegiatan yang  mengasah kemampuan ini)
-Belajar tentang kepemilikan (dan nantinya mengenal konsep meminta atau meminjam)
-Mengenal konsep buka-tutup
-Kemampuan kontrol motorik dan memecahkan persoalan (kegiatan memasukkan uang ke celengan bisa jadi salah satu cara efektif anak belajar tentang hal ini)
-Koordinasi motorik halus (anak menumpahkan makanan lalu melukiskannya di lantai? Ini bagian dari belajar tentang motorik halus. Agar hal ini tidak terulang, orang tua bisa memfasilitasi dengan kegiatan serupa. Menyediakan cat lukis yang aman untuk anak misalnya)
-Keseimbangan (membawa sendiri piringnya yang berisi makanan adalah sebuah kegiatan mengasah keseimbangan anak dalam membawa barang, sekaligus melatih koordinasi kedua tangannya)
-Mencomot (memungut benda yang kecil)
-Kreativitas
-Kemampuan verbal (di usia ini anak mulai mampu berkomunikasi dengan orang sekitar meski bahasanya mungkin masih sederhana dan belum semua kata-katanya dapat dimengerti)
-Belajar mengamati (dan nantinya ia akan belajar meniru juga)
-Memisahkan sesuatu
-Menyangga barang, membawanya dengan diletakkan di atas kepala (ini bentuk keseimbangan juga)
-Mulai memahami konsep kosong dan penuh
-Belajar tentang posisi

Dari semua daftar yang disebutkan di atas, beberapa anak mungkin sudah melampauinya. Bagi anak yang belum memiliki kemampuan tersebut, orang tua hanya perlu menstimulasinya lagi.

Tak perlu terlalu rumit memikirkan permainan apa dan persiapan yang ribet. Karena pada dasarnya tempat belajar anak adalah lingkungan. Mereka selalu mampu belajar apapun dimanapun.

Dan tanpa kita sadari, kita juga sering menstimulasi anak di keseharian interaksi kita dengan mereka. Anak lahir sudah dengan fitrahnya, tinggal diarahkan tapi jangan dipaksakan.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Iklan

2 thoughts on “Frog Frenzy

  1. Hai mba Esa, Anak saya yang bungsu umur 1,4 bulan , lincah luar biasa, alhamdulillaah..sepertinya perkembangan motorik halus kasarnya udah sesuai standar diatas (istilahnya pas gak y? ) malah agak melampaui, kalo gak tau informasi perkembangan anak, rasanya emang keteteran , nice share

    Suka

    • Anak kinestetik ya mba Deis. Persis anak kedua sy. Antara anak Sensing atau Intuiting.

      Iya biasanya ada standar tumbuh kembang anak. Udah betul kok, di atas standar tertinggi (kan biasanya ada range terbawah sampe teratas).

      Kalau ga tau bukan cm keteter tp bikin geleng2. Hehe

      Suka

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s