Filosofi Rumah Tangga – Sebuah Renungan Sederhana

Sebuah Renungan Sederhana (dan singkat)

Saya belum nemu sih sejarah kenapa pernikahan disebut dengan rumah tangga. Belum mencari lebih jauh juga filosofi asli dll-nya. Belum lagi kalau sudah menggunakan istilah “bahtera”.

Tapi.. jadi merenung aja. Kenapa menggunakan istilah rumah dan tangga. Apakah karena dulu banyak rumah panggung? Wallahu a’lam 😀

Eh tapi rumah tangga tidak selalu berbicara tentang keluarga sih. Kalau di KBBI memang rumah tangga itu identik dengan hal-hal yang berhubungan dengan urusan kehidupan dalam rumah maupun berkenaan dengan keluarga. Akan tetapi, di Wikipedia pengertian rumah tangga sangatlah luas.

Yaahh. Akhirnya mah.. Namanya juga rumah tangga. Di rumah, kita menapaki setiap anak tangga. Tujuannya ke posisi yang lebih tinggi tentu saja. Kan membangun rumah tangga. Kalau ke bawah, istilahnya menuruni anak tangga 😛

Dan menaiki tangga, tentu perlu upaya yang besar untuk naik ke atas atau kadang mengalami pengalaman tidak nyaman. Mungkin tersandung sampai terkena tulang kering yang nyut-nyutannya luar biasa (ini mah pengalaman kaki pernah kejedot tangga mushalla pas SMA dulu), mungkin juga melirik tangga lain yang kayaknya enak jalannya, atau sekadar menikmati tangga dengan duduk-duduk di anak tangganya. Tapi perlu diingat bahwa kita di tangga bukan buat sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan ya. Tetap harus naik lagi ke atas. Jangan terlena dengan indahnya pemandangan yang kita lihat dari anak tangga yang sedang ditapaki. Sadar belum sampai ke atas woy! 😀

Sehingga setiap anggota rumah tangga perlu terus meningkatkan kapasitas diri. Terus naik ke atas. Setiap kita perlu memperhatikan agar senantiasa lebih baik dari hari ke hari. Terus upgrade diri dan semakin dekat pada Allah setiap detik.

Menaiki tangga juga perlu jelas dulu tujuannya kemana. Kita tidak bisa asal naik tangga. Pastikan tangga yang dinaiki ini benar, jangan sampai sudah susah-susah naik eh ternyata salah alamat.

Maka mari kita tentukan rumah tangga ini mau tertuju kemana. Komunikasikan dengan sang imam, atas yang kita tuju itu surga yang mana? Tinggi setiap anak tangga yang akan ditapaki itu ukurannya cukup atau perlu disesuaikan?

Akhirul kalam.. sebagaimana status Whatsapp saya pagi ini:

Namanya juga rumah tangga, kita nikmati proses dalam setiap menapaki anak tangga. Tujuannya ke atas: surga.

Esa Puspita

Wallahu a’lam.

Ingin Menangis

ingin menangis..

tengah malam. setengah 12 malam, tanggal 22 Maret 2011 sa terbangun. Danisy bergerak-gerak tanda dia lapar malem hari. Karena ingin buang air, akhirnya usai Danisy mimi, sa turun dari tempat tidur membiarkan Danisy dan abinya tetap terlelap.

Tak mengantuk dan belum ingin bergegas tidur akhirnya menyalakan laptop. Buka blog dan lihat blog temen-temen.. ah, saya iri pada mereka. iri dalam banyak hal. Pengalaman, pengetahuan, aktifitas.. hampir semua hal yang mereka lakukan membuat saya iri..

saya ingin menangis.. ingin menangis karena banyak hal yang saya peroleh hari ini dari membaca tulisan-tulisan mereka di blog masing-masing.

Terima kasih ya Allah Engkau memberi sa kekuatan dan kesempatan membaca tulisan-tulisan mereka yang merekam jejak langkah perjuangan dan pengetahuan yang mereka miliki. Sa iri Ya Allah, sa iri.. Arahkan sa utk dapat memperbaiki diri dan menyusul ketertinggalan sa..

Sa ga tau harus berkata apa, sa hanya tengah ingin menangis menyesali diri.. Sedih, kecewa pada diri sendiri.

Tapi jawabannya sa harus bangkit. Ketertinggalan mesti dikejar. Semangat mereka adalah pengobar semangat sa juga. Ayo bangkit!!!

*Thx to Lala (blogspot n wordpress) n thx to Iyam too..