Fase Perkembangan Anak Dalam Konsep Islam

Gegara tulisan tentang perkembangan anak yang saya tulis sebelumnya, nemu gambar bagus yang dipajang di artikel tersebut. Ketemu juga sama judul buku yang sepertinya bagus juga. Ingin beli deh jadinya. Judulnya “Mendidik Anak Menuju Taklif” buah karya Ust Fauzil Adhim.

Fase Kehidupan Anak

Fase Kehidupan Anak

Berikut adalah rangkuman yang saya dapat dari beberapa web mengenai fase perkembangan anak dalam konsep Islam yang referensinya buku tersebut.

  • Masa bayi (0 hingga 2 tahun)
    Pada fase ini orang tua anak perlu untuk mengembangkan kasih sayang secara dua arah dimana ibu memberikan kasih sayangnya dan dalam waktu bersamaan juga mengembangkan kemampuan anak memberikan respon terhadap kita.
    Ini seperti yang sering kita perhatikan dalam fase pertumbuhan anak secara umum dimana kita memang diharapkan mengajarkan dan memperhatikan anak untuk dapat memberikan respon terhadap kita. Meski beberapa orang menganggap hal ini biasa, tapi dalam pengamatan saya pribadi anak tidak akan berkembang maksimal jika orang tua (atau orang sekitar) kurang memberikan stimulasi pada anak. Disini yang dimaksud “mengembangkan kemampuan anak memberikan respon.
  • Masa anak-anak (2-7 tahun atau disebut dengan fase thufulah)
    Pada fase inilah merupakan fase penting memberikan pondasi dasar tauhid pada anak melalui cara aktif agar anak terdorong dan memiliki tauhid aktif dimana anak mau melakukan sesuatu yang baik semata menurut Allah.
    Fase ini fase penting penanaman pondasi bagi anak. Tinggal cari cara nih bagaimana menerapkannya.
  • Masa Tamyiz (7-10 tahun)
    Di fase ini anak sudah mulai mampu membedakan baik dan buruk berdasarkan nalarnya sendiri sehingga di fase inilah kita sudah mulai mempertegas pendidikan pokok syariat.
  • Masa Amrad (10-15 tahun)
    Fase ini adalah fase dimana anak mulai mengembangkan potensi dirinya guna mencapai kedewasaan dan memiliki kemampuan bertanggung jawab secara penuh. Dalam islam, fase ini juga merupakan fase dimana anak mencapai aqil baligh sehingga sudah semakin pandai menggunakan akalnya secara penuh. Salah satu yang menjadi tuntutan bagi anak kemudian adalah kepandaiannya dalam mengatur harta yang dimulai dengan kemampuan mengatur anggaran untuk dirinya sendiri.
  • Masa Taklif (15-18 tahun)
    Pada masa ini anak seharusnya sudah sampai pada titik bernama taklif atau bertanggung jawab. Bagi lelaki setidaknya fase ini paling lambat dicapai di usia 18 tahun dan bagi anak perempuan paling lambat dicapai di usia 17 tahun. Tanggung jawab yang dimaksud selain pada diri sendiri juga tanggung jawab terhadap keluarga, masyarakat sekitar dan masyarakat secara keseluruhan.

Disini nih peran orang tua penting sekali dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Kenapa saya sebut demikian? Karena sesuatu yang baik harus selalu benar secara syariat agar amalan itu diterima dan diridhai. Sesuatu yang benar dalam Islam inSyaAllah mengandung kebaikan. Sesuatu yang baik (dalam pandangan manusia) tapi tidak benar (melanggar syariat) adalah sesuatu yang sebaiknya dihindari, apalagi jika salah dan tidak sesuai syariat tentu sudah harus sangat ditolak.

Wallahu a’lam.

Melihat Pertumbuhan Anak Setiap Waktunya Itu Menyenangkan

Bahagia. Itu yang saya rasa ketika memperhatikan tumbuh kembang anak-anak. Melihat Danisy yang sudah tumbuh semakin pintar (hampir ga bisa diem), dan yang paling membuat takjub adalah melihat tumbuh kembang anak-anak semasa mereka bayi. Jika perkembangan mereka saat dalam kandungan tidak bisa kita lihat secara langsung, maka beda halnya ketika melihat mereka tumbuh setelah lahir hingga sekitar usia 1 tahun. Menakjubkan!

tumbuh kembang anak

tumbuh kembang anak

Ketika Danisy dulu, saya hampir ga punya kesempatan banyak untuk nulis di blog karena selain akses untuk nulis terbatas juga karena memang rasanya (sok) sibuk mengurus anak dan kuliah. Ketika bertemu laptop saya malah asyik mengerjakan tugas kuliah atau mencari referensi mata kuliah yang sedang dibahas.

Beda dengan pengalaman Azam. Selain karena sudah berpengalaman dengan Danisy sebelumnya, juga memperhatikan setiap tumbuh kembangnya. Setiap anak benar-benar unik. Tumbuh kembang mereka berbeda, cara mereka bersikap berbeda dan masih banyak lagi perbedaan lainnya. Azam termasuk sangat aktif dan cerewet. Lebih cerewet dari kakaknya dulu.

6 Ramadhan adalah kali pertama Azam berhasil tengkurap sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Tapi saya lupa kapan Azam bisa benar-benar maju dan seaktif ini. Dalam istilah sunda disebut “ngalangsud”. Makin pinter aja. Dan yang paling luar biasa, makin kompak aja sama Aa-nya nih. Kompak bikin ummi-nya ketawa, kompak bikin ummi-nya heboh, kompaknya tambah banyak deh. Hehe..

Hari ini ada kejadian lucu ketika Azam tiba-tiba bergerak lalu berpose duduk. Gayanya tak sempat diabadikan karena memang sekilat, hp lagi jauh dari jangkauan dan duduknya juga hanya sebentar. Melihat pertumbuhan anak setiap waktunya itu menyenangkan. Benar-benar menyenangkan.

Melihat senyum mereka pertama kali, mendengar ‘jawaban’ mereka ketika pertama kali bisa ‘ngobrol’, ketika mereka pertama kali bisa meraih tangan kita, ketika mereka semakin mampu memperlihatkan keinginannya, ketika mereka mendekati kita dengan kemampuannya sendiri, melihat ia semakin pintar dan bertambah kemampuannya. Rasanya luar biasa. Feel really blessed. Alhamdulillah.

Beberapa dari anda mungkin bertanya, “masa iya yang menyenangkan itu hanya sampe 1 tahun?” mm.. ya tidak juga sih. Hanya saja perkembangan anak dari 0-12 bulan itu memang perkembangan-perkembangan yang bisa dilihat secara kasat mata. Dari tidak bisa apa-apa, lalu bisa tengkurap sendiri, berguling-guling, maju mundur, merangkak, berdiri, duduk, berjalan. Jika anak sudah di atas satu tahun perkembangan menakjubkannya ada pada kosakata si anak, kemampuan fisiknya juga bertambah dari yang belum bisa lari, jadi bisa lari, lalu bisa melompat dan seterusnya hanya saja memang tak sebanyak ketika usia 1 tahun ke bawah. Di atas 1 tahun anak berkembang pesat di cara berpikir, kosakata, kemampuan menganalisa, kemampuan meniru, kemampuan mengambil keputusan (jika kita selalu membiasakan anak untuk memutuskan sendiri).

Tidak ada data yang valid (referensi berupa buku atau lainnya) yang saya kutip di tulisan ini karena memang tulisan ini hanya sekadar catatan luapan kebahagiaan seorang ibu. Rasanya banyak di luar sana referensi yang membahas ini sehingga untuk saat ini (setidaknya untuk tulisan ini) saya sengaja tidak menyertakan referensi apapun. Hehe..

So, selamat menikmati perkembangan si kecil ya ayah dan ibu. Menakjubkan lho memperhatikannya. Tetiba teringat ayat-ayat al-Quran yang membahas tentang penciptaan manusia. Subhanallah, MahaSuci Allah yang menciptakan kita semua. Semoga dengan menjadi orang tua, kita juga bisa menjadi semakin berbakti kepada orang tua kita karena tahu betapa orang tua kita tidak mudah dalam mendidik kita terutama mendidik akhlak dan pemahaman kita. Semoga Allah senantiasa menuntun kita untuk mampu mendidik anak-anak yang dititipkanNya pada kita dengan didikan yang baik dan benar, yang menjadikan anak-anak itu tumbuh menjadi sosok yang dibanggakan Allah di sisiNya dan di dunia. Aamiin.