Hikmah Menahan Diri

Sejak mulai memperbaiki komunikasi utamanya dengan si sulung, hal yang paling saya rasakan adalah: bahwa penting bagi kita untuk senantiasa menahan diri dari merespon segala sesuatu di sekitar kita.

Benarlah apa yang dikatakan Allah bahwa manusia senantiasa bersifat tergesa-gesa.

“Dan manusia berdo’a untuk kejelekan sebagaimana ia berdo’auntuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.“ (QS. Al Isra’: 11).

Dzun Nun (Tsauban bin Ibrahim) rahimahullahu berkata, “Ada empat perkara buruk yang menghasilkan buah: tergesa-gesa yang buahnya adalah penyesalan, kagum pada dirinya sendiri yang buahnya adalah kebencian, keras kepala yang buahnya adalah kebingungan, dan rakus yang buahnya adalah kemiskinan”.

Setiap kali saya tergesa-gesa dengan langsung merespon, ujung-ujungnya ya menyesal. Sedang ketika menahan diri, menjeda dari respon spontan, saya bisa lebih jernih mengambil keputusan maupun bertindak.

Hal utama yang paling saya rasakan dari efek praktek komunikasi ini mungkin tidak sebanyak teman-teman yang lain, tapi dari poin itu saja alhamdulillah sudah cukup banyak perubahan yang dirasakan.

Semisal saat hari ini saya cukup tertantang karena tidak menemukan Danisy di sekolah maupun di rumah paman. Mencoba menarik nafas, menahan respon agar tidak panik. Apalagi posisi saya sedang di rumah paman (karena mengira Danisy pulang ke rumah paman).

Menelepon suami, menelepon orang tua teman Danisy yang di sekitar sekolah dan menanti siapa tau Danisy akan datang sebentar lagi.

5, 10 menit. Tak ada tanda. Sempat mengira, mungkin pulang sendiri. Hanya saja, bingung Danisy lewat jalan mana.

Lalu dapat kabar ayah teman yang saya telpon, melihat Danisy di jalan raya. Lega rasanya. Akhirnya tahu jalur yang dia tempuh.

Memacu motor dengan kencang tapi tetap berhati-hati. Menenangkan diri. Dan di belokan jalan yang hampir ke rumah, saya melihat ia sedang berjalan kaki. Sendiri. Menempuh jalan raya dan perjalanan sejauh 4,3 km. Alhamdulillah.

Sesampainya di rumah, Danisy menangis. Semula saya pikir karena ia merasa bersalah. Hihi. Soalnya pas ketemu dia, mendadak nangis aja gitu umminya.

Saya ajak ia berkomunikasi. Dia diam. Ah saya tergesa sepertinya. Lalu saya biarkan dia sampai merasa lebih tenang.

Usai shalat maghrib saat ia nampak ceria dan mulai mendekati ummi, saya tanyakan kembali alasan kenapa ia menangis. Ternyata, karena saat kami datang abinya menampakkan raut tak suka (menurut dia). Ya, abinya masih menetralkan perasaan pasca Azam yang rewel ditambah Danisy yang sempat membuat panik. Abinya juga pasti panik. Dan suami justru yang berhasil kompro berarti ya. wkwkwk. Ga ngomong anak udah ngerasa.

Yah, intinya sih. Salah satu pelajaran penting dari game level 1 di kelas Bunda Sayang ini adalah bahwa menjadi orang tua, meski kita memiliki ego tapi penting bagi diri untuk belajar menahan. Menimbang dengan matang sebelum bertindak.

Perlahan tapi pasti, perubahan akan terjadi. Jangan ingin tergesa-gesa “semuanya harus sudah berubah” segera setelah game selesai. Maka tetaplah bersemangat, Ummi!

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”

(HR. Muslim)

Sebagai penutup, hadits ini selalu dapat menjadi booster sejak saya mengenalnya. Alhamdulillah. Semoga bisa menyelesaikan perkuliahan dengan baik. Utamanya bisa mempraktekkan dan memperbaiki kehidupan seluruhnya. inSyaAllah. Bismillah..

#aliranrasa
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Memilih Tontonan

Hari ketujuhbelas. Memiliki anak-anak extrovert butuh kesabaran ekstra dalam “terus mengingatkan”. Kenapa? Sebab mereka mudah diberitahu tapi juga mudah terpengaruh. Sehingga fungsi sebagai orang tua bukan menjejalkan tapi mengingatkan tanpa bosan. Tanpa kalimat “Kan sudah ummi peringatkan berulang kali” atau “Kan sudah ummi kasih tau berkali-kali” Baca lebih lanjut

Mengkomunikasikan Agenda

Hari keenambelas. Menjelang 2 hari terakhir. Alhamdulillah hari keenambelas belajar lagi mengkomunikasikan agenda.

Berhati-hati mengkomunikasikan agenda karena hal ini bisa berakibat Danisy mogok sekolah. Kenapa? Dia ingin turut serta biasanya. Mungkin karena sejak PAUD terbiasa diajak kemana-mana bahkan untuk urusan ngetes apalagi tahu akan ke rumah mama. Baca lebih lanjut

Kunjungan Guru

Hari kelimabelas. Hari ini adalah jadwal kunjungan guru alias home visit dari sekolahnya Danisy. Pagi jadwal berenang sehingga mungkin kelelahan makanya pulang sekolah ga makan dulu dan ga banyak ngobrol.

“Aa mau makan?” dia menggeleng. “Wadah bekas makan, baju renang udah dikeluarin?” dia bergegas mengeluarkan kedua benda tersebut dari tas. Saat selesai shalat, dia sudah terlelap di kamar.

Baca lebih lanjut

Menurunkan Tone Suara

Hari keempat belas. Ujian terbesar yang berlaku sejak hari pertama: turunkan tone suara. Heuheu.

Jadwal belajar pekanan kali ini rempong. Suami yang biasanya bisa bantu menangani urusan jemput menjemput, kali ini harus ke proyek. Alhasil, setelah Azam pulang beliau drop Azam ke lokasi saya belajar.

Baca lebih lanjut