Terseret Arus

Tentang perubahan yang menjadi sebuah keniscayaan di dunia.

Tentang semua keniscayaan akan perubahan yang menuntut penghuni dunia untuk bergerak menuju perubahan itu.

Tentang orang-orang yang tak mampu menghimbangi perubahan dunia.

Terseret arus ketidakpastian arah dan langkah.

Terseret hingga tak tahu pasti lagi siapakah dirinya sebenarnya.

Terseret hingga tak mampu bergerak untuk menepi meski hanya sekadar mengambil nafas.

Itulah perubahan. Keniscayaan. Menentukan perubahan diri atau ditentukan. Itu adalah pilihan..

Syariah

Mmm..baca tentang Islam di eramuslim, Allah mengarahkan ke sebuah halaman artikel berjudul Barat Akan Berpaling ke Islam. Sebuah judul yang membuat penasaran, bukan? Ditambah artikel di “menu” kanan dari IB menampilkan judul, India Kembangkan Perbankan Syariah. Ada apa dengan syariah? Apakah ini tonggak kebangkitan kembali Islam?

Sa jadi inget tugas presentasi agama, membahas tentang syariah.

Belum terlalu memperdalam, hanya saja..syariah selalu menarik untuk dipelajari? Kenapa? Karena kehebatannya dalam mengatur kehidupan. Dan karena ia satu-satunya yang sangat ditentang oleh banyak orang.

Nah, anehnya di negara kita yang konon mayoritas muslim terbesar di dunia, buat nerapin syariah justru yang paling susah? Tul ga? Coba aja liat. Di perbankan misalnya, orang menabung di Bank syariah masih enggan. Kalopun ada, tak jarang alasannya hanya karena potongannya murah. Well, ga salah sih..cuma kebijakan pemerintah kayaknya dibutuhkan juga. Tapi yang paling penting adalah kesadaran masing-masing personal.

Gimana ngga aneh coba. Negara-negara yang minoritas kaum muslimnya, justru seringkali yang -entah disadari atau tidak- menerapkan syariah di negaranya. Hal ini karena sebagian besar mereka menyadari keuntungan yang didapatnya dari menerapkan syariah dalam kehidupan mereka. Dengan menerapkan syariah, keuntungan yang didapat sangat besar dan berkesinambungan, berjangka panjang. Jadi mereka ga takut menerapkan syariah.

Beda sama negeri antah berantah, sebuah fatwa aja..baru jadi bahasan sudah diperdebatkan. Hanya -mungkin- karena mereka merasa “keamanan” mereka terancam. Masya Allah. Na’udzubillah mindzalik. Jadi inget sebuah ayat dalam al-Quran,

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. ” (An-Nisa [4]: 65)

Hmm..berat juga ya. Tapi memang Rasulullah lah yang diutus untuk menjelaskan dan memutuskan perkara-perkara yang kita perselisihkan. Rasulullah mendapat petunjuk dari Allah, sang Khaliq yang Maha Mengetahui apa yang diciptakanNya.

Wallahu a’lam bishshawwab.

Berbisnis Lewat Internet

Selama ini memang berkenalan dengan banyak orang yang sudah beraktifitas di bidang bisnis internet ini, tapi sa sendiri masih kelabakan dalam hal action, apakah itu yang referral/affiliate, PPC dan sebagainya.

Jangan percaya sama bisnis internet yang menjanjikan kaya mendadak, karena semua tetep butuh kerja keras. Bisnis internet/bisnis online itu sama seperti halnya bisnis online alias yang kita lakukan di dunia maya, butuh kerja keras. Kita bisa aja melihat orang-orang yang sudah sukses di bisnisnya, tapi jangan cuma dilihat  dari suksesnya aja tapi juga dari background-nya, dari masa lalunya, dari kerja kerasnya, dari semua perjuangannya hingga menjadi seperti saat ini.

Jadi yang dibutuhkan dalam bisnis bukan hanya teori tapi juga aksi. Ya, tak hanya bisnis tapi semua aspek hidup kita jangan hanya teori tapi juga aksi.

Do your best for Who always give us the best.

Monitor Tanpa Warna Merah

💡 Status message seorang Kakak..

Dari judul orang-orang yang biasa berinteraksi dengan komputer pasti tahu hasil klo salah satu warna hilang atau “rusak”, maka komputer yang Anda pakai tentu tak akan menampilkan semestinya ya kan?! Jika kakak sa menulis mengenai diri, maka sa akan menulis mengenai keseluruhan yang sa pikirkan.

Sa pengen menyorotinya dari segi sosialisasi alias bermasyarakat alias lagi berjamaah alias secara umum. Setiap diri kita membawa dan memberi warna berbeda dalam kehidupan, baik bagus atau tidak, disadari atau tidak, dipaksa atau tidak, menyenangkan atau tidak dsb, selalu saja ada warna baru dan berbeda yang ada dalam kehidupan dan itu yang akan membuat hidup kita penuh warna. Seperti halnya monitor komputer, saat satu warna tak ada maka komputer akan terlihat dan menampilkan sesuatu yang aneh yang menandakan ketidakseimbangan. Coba bayangin klo di dunia ini semuanya orang baik? Ga ada orang jahat..pasti ga akan ada orang baik juga, kenapa? Karena seseorang disebut baik karena ada yang jahat. Seperti halnya kita ga tau itu warna putih klo ga ada warna hitam, ga akan ada warna jingga klo ga ada merah, dst. 🙄

Ga akan ada orang bahagia klo ga ada orang sedih, ga ada orang kaya klo ga ada orang miskin karena semua di dunia ini punya pembanding, klo pembandingnya ga ada, dia ga akan pernah muncul. Ga ada orang pinter klo ga ada yang disebut orang kurang pinter *heheh, biar lebih halus bahasanya*

Di dunia ini semua saling melengkapi, ga ada yang lebih baik atau lebih buruk karena istilah-istilah itu ga akan ada klo salah satu unsur hilang. Deal?!

 

Kesusastraan?

Sastra (Sansakerta शास्त्र, shastra) merupakan serapan dari bahasa sansakerta, śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia, kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata “sastra” bisa pula merujuk kepada semua jenis tulisan, apakah ini indah atau tidak.

Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. (Selengkapnya buka wikipedia)

Bicara tentang sastra, sa sendiri baru tahu arti sebenernya dari sastra. Heheh. Meski dulu sempet “terjun” ke dunia yang  tidak sa  mengerti itu. Bagaimana tidak, dulu sa sempat diikutsertakan ke dalam lomba mengarang yang notabene adalah hal yang berhubungan dengan kesusastraan itu sendiri. Sejujurnya, sampai saat ini sa masih menganggapnya sebelah mata. Karena pelajaran bahasa Indonesia dari dulu sampai sekarang rasa-rasanya sama saja. Dan sa selalu dapat nilai tinggi tanpa belajar. Nilai UAN aja sa dapet 9 di bahasa (baik Inggris ataupun Indonesia). Sehingga apa yang sa pikir selama ini ya, sastra tak lebih dari sebuah karya seni, sama seperti yang lainnya. Mungkin jika membaca pengertian atau sesuatu yang berhubungan sama sastra itu, ternyata sa ga salah-salah amat karena disana disebutkan bagian dari sastra itu sendiri adalah karya-karya seperti mengarang, dan sebagainya.

Trus kenapa? Ya ga ada apa-apa, cuma sa sebagai seseorang yang suka baca dan nulis sesuatu yang disebut karya sastra itu merasa perlu juga mempelajarinya, meski pada akhirnya tulisan dan bacaan kitapun tak harus seperti kesusastraan yang kita pikir selama ini, yakni yang bahasanya terstruktur sedemikian rupa, sehingga seolah membentuk sajak-sajak puisi lewat kata-kata biasa seperti yang kita temukan pada karya tulis zaman dulu.

Yup, belajar kesusastraan sebagai ilmu penunjang untuk menulis dan sekaligus menikmati tulisan hasil sastra seseorang mau tak mau ya kita tengah menikmati dan terlibat dari kesusastraan yang klo sa perhatikan memang sedikit terbengkalai alias tak terperhatikan. *Menilai diri sendiri sih..heheh*

Klo menurut temen-temen sendiri, apa sih kesusastraan itu? Dan gimana menurut kalian keefektifan kesusastraan itu, dan gimana tentang sastra di segala aspek? *terutama di bidang pendidikan wa bil khusus pengajaran bahasa Indonesia*