Terkunci

Pekan ini, entah kenapa sudah dua hari berturut-turut mengalami insiden ruangan terkunci. Terkuncinya sih dalam posisi sayanya di luar ruangan. Tapi barang di dalam ruangan terkunci yang diperlukan. Hari kedua mah sampe nangis gara-gara terkunci itu 😆

Dari kejadian ruangan dikunci, jadi merenung. Apa pesan Allah di balik kejadian dua hari berturut-turut di tempat yang berbeda dengan barang yang berbeda.

Mencoba mengambil hikmah bahwa kita bisa saja berencana, bisa saja ga ngeh, bisa saja lupa. Nyatanya semua terjadi atas kehendak Allah.

Dan dalam proses belajar ridho, ada kalanya memang justru dilatih menerima hal-hal yang kita tidak nyaman. Seperti halnya saat barang yang dibutuhkan ternyata ada di dalam ruangan, Allah berikan akal untuk mencari alternatif solusi dan mencari hal yang disyukuri.


Insiden ruangan dikunci hari Senin terjadi saat anak-anak kembali ke kamar sementara aturannya tidak tidur lagi selepas subuh dan tetap beraktivitas pagi. Anak-anak masih nyaman sama kasurnya alhasil suami mengambil keputusan untuk mengunci kamar anak-anak agar mereka tidak leyeh-leyeh pagi.

Qadarullah hari itu beliau harus berangkat ke Bandung dan agendanya sampai sore. Saya yang sedang mempersiapkan untuk berangkat ke pertemuan guru, sama sekali tidak ingat bahwa pakaian ada di kamar anak-anak karena memang lemari kami ada di kamar anak yang lebih luas.

Saat akan bersiap berangkat baru sadar. Alhamdulillah Allah memberikan petunjuk untuk membuka salah satu bagian di kamar, dan hal yang saya syukuri dari insiden itu adalah bahwa ternyata ada satu set pakaian yang semalam dipakai tarawih digantung di kamar, dan baju yang kemarin sudah kering pasca dicuci (dan cocok untuk seragam sanlat nanti), baru diturunin sama suami dan disimpan di kamar kami, belum saya pindah ke kamar anak-anak 😀

Hari kedua insiden terjadi di tempat saya berkhidmat. Tadinya supaya tidak perlu bolak-balik rumah, pasca pertemuan guru tinggal menunggu shalat ashar lalu lanjut mendampingi santri sanlat di mesjid deket sana. Qadarullah Hasna minta jajan dan pergilah kami ke warung. Saat kembali lagi, sepi. Sempat curiga jangan-jangan pintu dikunci. Dan benar saja 😛

Kunci ruangan ada di tas, tasnya di dalam ruangan. Perlengkapan untuk sanlat ada disana semua. Alhamdulillah Allah berikan ilham untuk berusaha mencari alternatif.

Yang saya syukuri dari kejadian ini bahwa sempat terpikir untuk membawa ponsel, disimpan di saku. Padahal tadinya akan ditinggal.

Dengan adanya ponsel (walaupun baterainya sekarat), saya bisa ngontak suami untuk minta dikirimi masker dan mushaf plus selesai acara bisa minta beliau jemput karena emang lagi lemes banget.


Kemudian ngebayangin aja sih, ini insidennya terkunci dan masih ada opsi ya. Bagaimana jika kita terkunci dari rahmat Allah 😦 Udah pede melakukan persiapan berbekal untuk akhirat tapi ternyata terkunci, tidak bisa “digunakan” entah karena tidak ikhlas lillah atau perusak-perusak amal lainnya. Na’udzubillah min dzalik.

Keyakinan akan pertolongan Allah tuh mesti bener-bener kuat (seolah tulisan sebelumnya jadi reminder). Terima aja dulu insidennya. Trus inget sama beragam materi yang pernah didapat.

  1. Ridho dulu sama takdir Allah. Menerima kejadiannya berikut emosi yang muncul bersamanya. Semua terjadi atas kehendak Allah, jadi pasti ada kebaikan disitu. Dan ngga apa-apa sih bingung, nangis, sedih, campur aduk. Manusiawi kok. Tapi ya jangan berhenti disitu.
  2. Mohon pertolongan Allah, bisa saja kita bertanya “ya Allah, ini saya harus gimana?”. Pertolongan Allah mungkin berupa “keajaiban” berupa sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Tapi mungkin juga berupa ilham untuk menggunakan akal, tiba-tiba ada ide untuk alternatif apa gitu, atau melakukan apa gitu. Kita tidak pernah tahu seperti apa pertolongan Allah.
  3. Luruskan lagi niat. Niat kegiatannya, niat perlengkapannya, dll. Dari sana rasanya lebih lega aja. Terserah Allah mau gimana jadinya nanti.
  4. Cari hal yang bisa disyukuri. Perlu pertolongan banget dari Allah memang untuk sekadar mencari hal yang bisa disyukuri dalam kondisi tidak nyaman, tapi menemukan hal-hal yang bisa disyukuri cukup bisa menghibur dan menguatkan langkah. Memang benar ya, pernah mendengar ustadz Khalid mengatakan bahwa sepasang sayap yang dapat menyelamatkan langkah kita hingga akhir yang baik adalah syukur dan sabar. Jika salah satu tidak ada, seperti sayap yang tak mampu mengepak sempurna, tentu berat untuk bisa terbang bebas.
  5. Lanjut fokus pada “apa yang dapat kita kontrol”. Karena hal-hal yang “tidak dapat kita kontrol” hanya akan membuat lelah jika terlalu dipikirkan. Ya kalau sekadar mikirin ruangan terkunci, capek pasti. Tapi yang bisa dikontrol seperti perasaan dan respon, meski mungkin tidak mudah tapi tetap dapat kita “ubah”.
    Kenapa saya beri tanda kutip? Karena ya tidak sepenuhnya bisa kita “kontrol sepenuhnya” sebetulnya karena tak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dari Allah, tapi secara “zhahir” hal itulah yang paling bisa kita sesuaikan dengan izin Allah.

Pas banget mampir postingan yang kurang lebih isinya begini: Takdir yang indah itu terkadang bukan sekadar hal yang sesuai harapan, tapi ketika tidak berjalan seperti rencana. Lalu terpikir, benar juga ya.

Ketika sesuatu tak berjalan sesuai rencana, Allah memperlihatkan kebesaran-Nya dan kita disadarkan bahwa diri ini tak berdaya kecuali dengan pertolongan Allah.

Semua terjadi atas izin Allah. Sebaik apapun kita berencana, semua terjadi atas kehendak Allah. Bukan karena kita hebat atau rencana kita luar biasa, tapi karena Allah ridha dengan “proposal” yang kita ajukan. Entah pengabulannya oleh Allah sesuai ajuan atau diganti dengan yang lebih baik.

Esa Puspita

Wallahu a’lam.

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s