Bukan Kebetulan

Bukan sebuah kebetulan ketika Allah memperjalankan kita pada satu takdir menuju takdir yang lain. Pun dengan beragam keputusan yang kita ambil dan menjadi takdir.

Jika kita perhatikan kembali, semua jalur yang kita lalui sebetulnya sedang mempersiapkan diri untuk menjalankan peran sebagai seorang khalifah dan seorang hamba. Dalam ibadah-ibadah apa saja kita bisa mempersembahkan yang terbaik, dalam peran di bidang apa saja kita disiapkan Allah untuk memerankannya dengan optimal.

Mungkin ada kalanya berat terasa. Akan tetapi apapun jalur yang dipilih, tetap akan ada rasa tidak nyaman. Tetap perlu upaya-upaya yang tak mudah. Bahkan sekadar diam rebahan nggak ngapa-ngapain pun, lama-lama akan lelah juga.


Mungkin kita pernah iri pada kehidupan orang lain yang nampak lebih baik, lebih indah dan lebih bahagia. Padahal, kita tak pernah tahu perjuangan yang telah mereka lewati dalam kehidupannya.

Menilai secara zhahir sangatlah riskan membuat kita berprasangka yang tak jarang secara tak sadar membawa pada penilaian bahwa pembuat takdir itu tak adil dan melupakan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. Walaupun dalam bidang kebaikan, penilaian zhahir membantu kita memberikan rukhsah (keringanan) atas kesalahan seseorang atau pada prasangka baik yang membantu kita tak tergelincir dari menghakimi sesama saudara.

Jika kita percaya sepenuhnya bahwa ada Dzat Yang Mahaagung yang mengatur seluruh alam semesta, maka tentu tak akan ada kalimat “kebetulan” karena semua telah diatur sedemikian rupa.

Sekarang.. di usia yang semestinya sudah matang, tidakkah kita ingin menemukan peran diri yang telah Ia canangkan saat kita diciptakan? Di usia yang sebentar lagi mungkin akan meninggalkan masa muda, tidakkah kita ingin memiliki ilmu yang lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta? Di waktu yang tak pernah kita tahu apakah masih lama atau tinggal sekejap saja, tidakkah ingin melakukan sesuatu yang bermakna di sisi-Nya?

Temukanlah. Mari temukan benang merah diantara “kebetulan-kebetulan” (takdir) yang telah kita lewatkan. Mana yang paling dirasa nyaman, mudah dan optimal, menyenangkan namun juga memberi manfaat.

Sebagaimana pisau diciptakan untuk memotong sedangkan pedang untuk menebas, keduanya sama tajam tapi untuk hal-hal yang berbeda. Mungkin saja pisau digunakan untuk menebas tapi perlu upaya yang lebih besar. Dan sangat mungkin pedang digunakan untuk memotong makanan, namun akan perlu upaya lebih pada beberapa jenis tertentu dan kita akan kembali mencari pisau untuk menyelesaikannya.

Esa Puspita

Begitupun diri kita. Bisa saja keduanya sama cerdas, namun ada sisi kelebihan kita yang diciptakan Allah secara khusus, untuk diasah dan dimanfaatkan. Sehingga ketika kelak kita menghadapNya kemudian ditanya: “sudah kau apakan saja nikmat-nikmat dari-Ku, termasuk kelebihan yang kuberikan padamu?” Maka semoga Allah mudahkan kita untuk menjawab: “sudah kugunakan di jalan-Mu, untuk menolong agama-Mu, sebagai bentuk taat dan syukurku pada-Mu. Maka terimalah ya Rabb, taqabbal minna.“.

Wallahu a’lam.

Draft ditulis beberapa waktu lalu namun baru semita diselesaikan. Sebuah perenungan untuk menemukan peran-peran yang telah Allah tetapkan, lalu mengoptimalkan diri menjalankan peran itu. Dengan ilmu, amal dan ikhlas.

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s