Belajar Menjadi Istri dari Khadijah Istri Nabi

Khadijah

Beliau adalah sosok perempuan istimewa. Menerima salam dari Rabb-nya dan malaikat Jibril, menempatkan suaminya dengan penuh kemuliaan meski secara usia sang suami terpaut sekitar 15 tahun lebih muda.

Beliau mapan secara finansial namun tak lantas membuat sikap pada suaminya meninggi dengan pongahnya. Menjadi orang pertama yang menerima perkataan sang suami karena begitu percaya, rela berlelah-lelah mendukung perjuangan suami yang kita tahu mestilah tak mudah.

Jika menginginkan hadiah surga yang di dalamnya tidak ada kebisingan dan tak ada rasa lelah, maka mari belajar dari sosok ibunda Khadijah. Ketundukannya membuat rindu sang Nabi tak pernah bertepi meski sang istri telah wafat.


Nabi menikahi ibunda Khadijah sebelum ada amanah risalah. Dari pernikahan itu lahir anak-anak Nabi (yang saya tuliskan disini hasil dari diskusi dengan dua guru terkait nama anak-anak Nabi atas apa yang didapat dari dua buku):

  1. Qasim
  2. Zainab
  3. Ummu Kultsum
  4. Ruqayyah
  5. Fatimah
  6. Abdullah (Ath-Thayyib/Ath-Thahir)

Semua anak lelaki Nabi meninggal saat masih bayi, dan semua putri Nabi meninggal ketika Rasulullah masih hidup kecuali Fatimah.

Hikmah Kisah Ibunda Khadijah

Berikut says copy terjemah hadits dari Bukhari tentang salah satu dalil wahyu pertama yang turun:

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami dari Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair dari Aisyah -Ibu Kaum Mu’minin-, bahwasanya dia berkata: “Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan mimpi yang benar dalam tidur. Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau memilih gua Hiro dan bertahannuts yaitu ‘ibadah di malam hari dalam beberapa waktu lamanya sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk bertahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal.

Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hiro, Malaikat datang seraya berkata: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah).”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kembali kepada keluarganya dengan membawa kalimat wahyu tadi dalam keadaan gelisah. Beliau menemui Khadijah binti Khuwailid seraya berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!”.

Beliau pun diselimuti hingga hilang ketakutannya. Lalu Beliau menceritakan peristiwa yang terjadi kepada Khadijah: “Aku mengkhawatirkan diriku”. Maka Khadijah berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturrahim.”

Khadijah kemudian mengajak Beliau untuk bertemu dengan Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, putra paman Khadijah, yang beragama Nasrani di masa Jahiliyyah. Dia juga menulis buku dalam bahasa Ibrani, juga menulis Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani dengan izin Allah. Saat itu Waroqoh sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata: “Wahai putra pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh putra saudaramu ini”.

Waroqoh berkata: “Wahai putra saudaraku, apa yang sudah kamu alami”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuturkan peristiwa yang dialaminya. Waroqoh berkata: “Ini adalah Namus, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah aku akan diusir mereka?” Waroqoh menjawab: “Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa ini kecuali akan disakiti (dimusuhi). Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekemampuanku”. Waroqoh tidak mengalami peristiwa yang diyakininya tersebut karena lebih dahulu meninggal dunia pada masa fatroh (kekosongan) wahyu.

Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Jabir bin Abdullah Al Anshari bertutur tentang kekosongan wahyu, sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ceritakan: “Ketika sedang berjalan aku mendengar suara dari langit, aku memandang ke arahnya dan ternyata Malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hiro, duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun ketakutan dan pulang, dan berkata: “Selimuti aku. Selimuti aku”. Maka Allah Ta’ala menurunkan wahyu: (Wahai orang yang berselimut) sampai firman Allah (dan berhala- berhala tinggalkanlah). Sejak saat itu wahyu terus turun berkesinambungan.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Yusuf dan Abu Shalih juga oleh Hilal bin Raddad dari Az Zuhri. Dan Yunus berkata; dan Ma’mar menyepakati bahwa dia mendapatkannya dari Az Zuhri.

Dari satu penggalan kisah ini, diantara hikmah yang saya ambil adalah:

  1. Penuhi tanpa bertanya
    Ada kalanya suami pulang dalam keadaan gelisah atau tak nyaman, entah karena amanah yang ia emban, permasalahan di tempat ia bekerja, dan hal lainnya. Maka sebagaimana ibunda Khadijah, saat suami datang lalu meminta sesuatu untuk menenangkannya, lakukan saja tanpa bertanya apapun. Tentu ini tidak mudah karena perempuan dengan rasa cinta yang besar, cenderung turut khawatir dan ingin tahu bagaimana keadaan suami, apa yang terjadi, dll. Tapi Ibunda Khadijah mengajarkan bagaimana empati itu dihadirkan dalam kehidupan rumah tangga.
  2. Tetap tenang saat suami gelisah
    Ibunda Khadijah tetap tenang ketika tiba-tiba sang suami setelah agak tenang malah balik bertanya, “ada apa sama aku?” atau “aku mengkhawatirkan diriku” saking beliau tengah merasa terguncang. Bukannya menjawab “ya mana kutahu” atau “ya aku juga khawatir lihat kamu tadi”, tapi kalimat jawabannya bijak banget: “insyaallah kamu ga akan kenapa-kenapa” kalau pake bahasa kita sekarang mah ya.
  3. Mengenal kebaikan suami untuk memotivasi
    Setelah sang suami tenang, mulai menceritakan kondisinya, ibunda Khadijah mencerna apa yang diceritakan kemudian dengan tenang. Kalimat yang meluncur dari lisan beliau justru adalah kelebihan suaminya. Betapa beliau teramat memperhatikan kebaikan-kebaikan suaminya yang kemudian dijadikan penguat, motivasi bagi sang suami. “Allah ga akan zhalim. Kamu tuh suka gini gitu bla bla bla”
    Ini juga sekaligus gambaran bahwa lelaki itu pas ada masalah memang akan menarik diri dulu ya, setelah agak tenang baru akan cerita. Beda dengan perempuan yang cenderung bercerita saat itu juga sehingga jadi ramai lah kondisi. Hehe.
  4. Memberikan alternatif solusi dengan memberikan opsi bertemu sang ahli
    Ketika telah selesai obrola mereka berdua, ibunda Khadijah mengajak sang suami ke ahlinya yang dianggap dapat menjadi petunjuk apa yang terjadi dan harus dilakukan sang suami. Ada kalanya saat kalut, agak sulit berpikir jernih. Maka jika salah satu tengah kalut, pasangannya perlu tetap tenang agar lebih mampu melihat dari sudut luar yang lebih luas. Sebagaimana halnya ibunda Khadijah kemudian mengajak suaminya menemui Waraqah karena dianggap lebih berilmu dan berharap sang suami memperoleh gambaran dari apa yang telah dialaminya.
  5. Tetap di sisi meski tahu akan ada hal menantang di depan sana
    Ketika suami mendapat amanah atau ada gambaran masa depan yang nampaknya akan terasa kurang nyaman karena akan ada kesulitan dll, hal ini hendaknya tak lantas membuat kita khawatir berlebih apalagi sampai over thinking. Ibunda Khadijah memperlihatkan kembali ketenangan dan dukungannya pada sang suami. Walaupun aku tahu engkau kelak mungkin akan mendapatkan kesulitan bahkan diusir dari kampung halaman kita, tapi selama engkau berada di jalan kebenaran, mendapatkan keridhaan Allah, maka aku akan tetap ada di sampingmu. Mendampingimu semampuku. Hartaku jika diperlukan, gunakan seluruhnya. Aku yang pertama kali akan percaya atas apa yang engkau percaya.

Keimanan pada Allah menyemai di hati ibunda Khadijah. Keyakinannya bahwa Allah tidak akan mencelakakan adalah sebentuk yakin yang perlu terus ditanamkan setiap perempuan sehingga dengannya kita akan mendapati kehidupan yang menenangkan.

Kesulitan mungkin memang takkan hilang, tapi ketenangan karena keyakinan pada Allah dapat membuat kesulitan terasa lebih ringan. Setidaknya ada pahala yang kita harapkan.

Saya secara pribadi masih belajar untuk mengamalkan kelima hal itu. Mari kita sama-sama saling mendoakan dan saling menguatkan.

Masing-masing perempuan ditakdirkan Allah menjadi pendamping suaminya karena Ia tahu bahwa perempuan itu adalah istri terbaik bagi sang suami. Dengan tantangan berbeda di setiap rumah tangga, sepasang suami-istri adalah dua orang yang menurut Allah paling mampu menghadapinya. Maka bekal keimanan dan keyakinan pada Maha Pengasih dan Maha Penyayang Allah atas hambaNya semoga mampu menguatkan langkah.

Esa Puspita

Wallahu a’lam.

Sumber bacaan:

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s