Role Play – Hari Ketujuhbelas Level 7

Alhamdulillah berhasil menaklukkan tantangan kali ini. Meskipun entah apakah sesuai dengan yang diminta atau tidak. Tapi selama 17 hari ini makin memperhatikan hal yang paling membuat anak-anak bahagia, hal yang paling mudah dan keren yang dapat mereka lakukan, plus hal yang paling bikin mereka bete maupun hal yang paling “sulit” dilakukan saat ini.

Kesemua hal tersebut saya catatkan ke dalam 4 bagian: [1] Bisa dan perlu diasah, [2] bisa dan tak mesti dipaksakan diasah, [3] tidak bisa tapi perlu dilatih (biasanya hal-hal yang umum mesti anak bisa semisal mengkomunikasikan sesuatu dengan lebih dimengerti -meski dengan gaya bahasa mereka sendiri- dsb), juga hal yang [4] tidak bisa dan tidak perlu dipaksakan untuk bisa. Secukupnya saja.

Di hari ketujuhbelas sendiri yang Ummi observasi secara lengkap adalah Hasna. Sebab Aa sedang bad mood dan ummi ga mau dekat-dekat karena khawatir marah. Meskipun sebetulnya akibat bad mood itu ia bantu banyak beberes rumah 😀

Setelah sebelumnya Hasna ingin menggendong boneka, kali ini earmuff nya dijadikan semacam keranjang belanja atau tas yang ia tenteng-tenteng dan berupaya diisi sesuatu. Sesekali mengajak ummi ngobrol entah ngomongin apa. Tapi seru aja kita ketawa-ketawa saat itu 😛

Ceritanya ini tas entah keranjang belanja 😀

Memang ya, anak laki sama perempuan beda kecenderungannya. Hal yang saya pelajari di Gender Intelligence bertahun-tahun lalu, sekarang makin terbayang nyata setelah lahir Hasna.

Bagaimana tidak, saat survei membuktikan bahwa fokus anak lelaki umumnya pada super hero atau semacamnya seolah ia “berkuasa” termasuk otomotif dan yang serupa, maka pada anak perempuan cenderung fokus pada orang.

Meskipun personality genetic Hasna di kuadran otak kanan atas, akan tetapi fitrah sebagai anak perempuan yang fokus pada orang itu nampak sekali. Ia senang dengan orang-orang, ia senang dengan role-play, senang dengan wayang-wayangan, dan hal-hal lainnya yang saya anggap sebagai “cewe banget”

Setelah di rumah kontak kebanyakan dengan kakak lelaki (dua boo kakak lakinya), di luar ia mulai senang main dengan sesama anak perempuan. Meskipun sisi tomboi suka manjat, ngoprek mobil dan mainin motor-motorannya masih ada. Tapi ia yang kemudian lebih suka berkumpul dengan anak perempuan (ataupun sesama perempuan) saat saya kumpul bersama teman, ia juga suka ngemong bayi yang lebih kecil dari usianya, dan fitrah lainnya nampak begitu nyata.

Hal yang menjadi binarnya pun kadang tak terduga. Mama sampai komentar, “Teteh mah dulu da ga gini” saat melihat Hasna ingin pakai hena, pakai kosmetik, dan bahkan pandai menggunakan kosmetik dan lipstik sendiri.

Makanya di postingan beberapa hari lalu saya memberi judul “Artist?” sebab ia seperti tertarik sekali dengan makeup dan dunia artistik macam gambar dan mewarnai. Tapi dunia kreatif mana ia akan bermain dan expert kelak? Kita lihat nanti! ^_^

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s