Hurt, Sebuah Penyesalan

Seems like it was yesterday when I saw your face
You told me how proud you were, but I walked away
If only I knew what I know today, ooh, ooh

I would hold you in my arms, I would take the pain away
Thank you for all you’ve done, forgive all your mistakes
There’s nothing I wouldn’t do to hear your voice again
Sometimes I wanna call you but I know you won’t be there

Oh, I’m sorry for blaming you
For everything I just couldn’t do
And I’ve hurt myself by hurting you

Some days I feel broke inside but I won’t admit
Sometimes I just wanna hide ’cause it’s you I miss
And it’s so hard to say goodbye when it comes to this, ooh

Would you tell me I was wrong? Would you help me understand?
Are you looking down upon me? Are you proud of who I am?
There’s nothing I wouldn’t do to have just one more chance
To look into your eyes and see you looking back

Oh, I’m sorry for blaming you
For everything I just couldn’t do
And I’ve hurt myself, oh

If I had just one more day
I would tell you how much that I’ve missed you
Since you’ve been away

Oh, it’s dangerous
It’s so out of line
To try and turn back time

I’m sorry for blaming you
For everything I just couldn’t do
And I’ve hurt myself
By hurting you

-lirik Hurt, Christina Aguilera

Lagu ini tak sengaja saya dengarkan. Semula saya pikir ini semacam lagu patah hati karena putus cinta. Rupanya setelah lihat liriknya, bisa jadi lagu ini ditujukan pada orang tua sang penyanyi. Atau orang terdekatnya.

Mendengar lagunya saja terasa sedih, begitu baca liriknya semakin terasa. Saya lalu teringat mamah dan bapak. Kemudian melirik suami dan anak-anak. Bisa jadi kita pernah melakukan seperti yang diceritakan di lagu ini tanpa disadari.

Penyesalan selalu datang di akhir. Memori saya lalu mengeluarkan sebuah kenangan masa lalu. Belum lama. Ketika Uwa sakit sekitar 2 tahun lalu. Secara mendadak beliau ambruk dan tak lama kemudian masuk rumah sakit. Keadaannya sempat membaik tapi kemudian parah sehingga langsung masuk UGD kala itu.

Ketika itu, saya terkendala untuk dapat menjenguk Uwa di Rumah sakit karena memiliki bayi. Ya, Azam anak kedua saya baru berusia sekitar 2-3 bulan saat uwa dirawat. Sementara untuk ke rumah sakit sendiri, tidak memungkinkan karena toh pada akhirnya saya tidak dapat masuk ke ruangan karena membawa anak dan repot harus membawa 2 anak, 1 bayi dan 1 balita.

Mamah kemudian mengajukan usulan hari untuk menjenguk. Tapi kemudian saya membatalkan karena kecapekan sehingga memutuskan untuk pulang setelah belanja kerudung pesanan reseller. Sementara mamah saat itu sudah di rumah sakit sehingga tidak bisa bantu menuntun si sulung yang masih usia 3 tahun.

Hari demi hari Uwa dirawat, saya hanya menanyakan kabarnya dan mengetahui update keadaan beliau dari saudara lain yang menjenguk. Titipan salam saja yang dapat saya berikan sebagai jembatan ucapan sayang saya pada beliau. Sementara herbal yang saya beli untuk beliau belum sempat semuanya beliau makan. Doa dan doa saja yang dapat dipanjatkan. Berharap Allah menyembuhkan dan mengangkat penyakitnya.

Saya dan mamah kemudian menyepakati lagi hari dimana saya menyengajakan menginap di rumah mamah agar keesokan harinya bisa menjenguk uwa pagi-pagi. Rasanya senang sekali saat itu akhirnya bisa menjenguk uwa.

Hari itu, pertengahan Ramadhan, saat sahur, kakak sepupu (anak Uwa) menitipkan putranya pada saya karena ditelpon suami Uwa untuk segera ke rumah sakit. Sedari dini hari uwa katanya terus-terusan meminta maaf dan meminta anak-anak datang. Usia Azam dan keponakan saya hanya selisih 1 bulan sehingga dititip untuk diasuh dan disusui untuk kemudian siangnya tukeran saya yang jenguk.

Tak lama berselang setelah mereka keluar dari rumah mamah hendak berangkat ke rumah sakit, tangisan tiba-tiba pecah. Memecah heningnya malam sahur ketika itu.

Kaget mendengar tangisan para sepupu, kami pun sontak keluar. Tetangga pun tak ketinggalan turut keluar menanyakan apa yang terjadi.

Rupanya Uwa dinyatakan telah wafat. Padahal hari itu sudah saya tunggu-tunggu, hari dimana saya bertekad akan menjenguk Uwa. Sosok pengganti ibu ketika dulu saya kecil, sosok yang sering kali entah disengaja atau tidak menjadi orang pertama yang memeluk saya ketika mamah masuk rumah sakit karena hampir saja kehilangan nyawanya, bahkan uwa lah yang pertama kali hadir di hadapan saya ketika keluarga kami tengah kesulitan.

Uwa begitu saya rasakan kasih sayangnya. Berharap sempat menemui beliau, menanyakan kabarnya secara langsung. Ternyata qadarullah Allah benar-benar mengabulkan untuk mengangkat segala penyakitnya.

Pagi hari saat jasad uwa sudah sampai di rumah, semua sudah siap tinggal pemakaman. Rasanya ingin sekali memelukmu erat, lama. Tapi mereka melarang sa dengan alasan khawatir air mata jatuh. Padahal tak ada raungan, hanya ingin melepaskan rindu sebelum jasad uwa dikebumikan. Setidaknya mengurangi rasa penyesalan karena terlalu egois tidak segera menjenguk uwa ketika masih ada kesempatan.

Uwa, meski tak pernah terucap sayang secara langsung, tapi Uwa menyampaikan sayang itu ke sa. Sa sayang uwa. Terima kasih untuk semua hal baik yang uwa lakukan untuk sa dan keluarga. Semoga Allah mengampuni dosa uwa, memberikan pahala yang baik atas kebaikan uwa, dilapangkan kubur dan dijauhkan dari siksa kubur.

Setiap kali lewat bandara Husein, setiap itu pula sa ingat ketika dulu mengantarkan uwa hendak menjenguk uwa gede di rumah sakit. Rumah sakit yang sama tempat uwa terakhir dirawat. Kala itu uwa begitu takjub melihat pesawat yang akan lepas landas. Ekspresi kebahagiaan yang tak akan pernah sa lupa..

Satu lagi yang tak akan sa lupa, uwa masih selalu manggil sa dengan panggilan “Dede” atau “Dede Esa” bahkan ketika sa sudah punya anak-anak sekalipun. Panggilan sayang sedari dulu yang bagi sa begitu spesial dan bermakna.

Teman-teman, berkenan kiranya mendoakan uwa, dengan fatihah dan allaahummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anhaa wa krim nuzuulahaa wa wasi’ madkhaalahaa..

Semoga penyesalan semacam ini tak lagi terulang. Semoga dapat membuat bangga dan membalas senyum tanda terima kasih kepada mamah, bapak, suami dan anak-anak. Juga kepada ayah dan ibu mertua. Karena mungkin saya pernah menyalahkan atas apa yang saya tak bisa.

penyesalanSemoga kita dimampukan untuk selalu memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya dan tidak menundanya.

 

4 thoughts on “Hurt, Sebuah Penyesalan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s