Da Aku Mah Apa Atuh

Pertama kali baca tulisan “da aku mah apa atuh” saya langsung menciptakan imajinasi tentang makna dari tulisan itu. Sebuah kepasrahan atau lebih tepatnya sebuah tindakan menyerah terhadap pandangan orang lain. Malu. Tak ada nilainya.

Bagi orang sunda akan mudah mengenali arti tulisan tersebut. Arti yg negatif di satu sisi tp bisa juga positif di sisi lain (meski agak sulit untuk mengatakan pernyataan ini sebagai pernyataan positif).

Useless. Powerless.. pokoknya serba “less” aja. Serba tiada makna.

Padahal sejatinya manusia diciptakan dengan makna dan makanat yang indah. Karena Allah menciptakan manusia dengan sebuah tujuan mulia, bukan untuk disia-siakan.

Plaaakkk!!! Saya tertampar ketika menuliskan ini. Saya sendiri sering berada di titik hopeless macam itu berharap seseorang datang dan meyakinkan saya bahwa “kamu tuh hebat lho. Kamu sebenernya bisa sukses. Bla bla bla..”

Manusia yang baik adalah yang hari-harinya produktif. Lebih baik dari hari sebelumnya. Dan saya masih jauh dari posisi seperti itu.

Da aku mah apa atuh. Haha..

Tapi dari pernyataan itu kita bisa mulai belajar untuk mencari jawabannya. Bukannya pernyataan “da aku mah apa atuh” itu masih koma? Belum titik. Masih ada lanjutannyan. Dan belakangan saya baru tahu bahwa pernyataan itu diambil dari sebuah lagu dangdut yang isi liriknya ternyataaa *ngeri kalo kata saya mah, apalagi pas didengerin anak-anak.. hadeh..*

Surah Adz-Dzariyat, ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Pemaknaan ibadah bukan semata shalat, tapi seluruh aspek pengabdian kita pada Allah. Mengabdi sesuai yang diperintahkan. Termasuk menjadi sebaik-baik manusia.

Maka dalam perjalanan mencari jawaban atas pernyataan yang belum lengkap tersebut, mungkin kita perlu dengan lantang mengatakan “da aku mah manusia”.

Dan dalam pencarian makna sebaik-baik manusia, kita perlu mengenali diri kita, potensi kita. Bagaimana cara kita efektif belajar, bagaimana cara efektif kita bekerja, bagaimana masa depan yang akan kita rancang.

Kemudian mencatatkan kembali, seperti apa langkah yang akan diambil. Baru kemudian berusaha, berazam dan bertawakkal.

Pernah satu hari saya membaca sebuah meme, kurang lebih isinya “da aku mah apa atuh. Cuma butiran debu”. Oke kalo memang begitu. Pernah kelilipan? Debu bisa membuat penglihatan seseorang terganggu. Tapi debu juga bisa jadi mulanya bagian dari pasir, pasir yang ketika dicampur air bisa menjadi bagian dari menegakkan sebuah bangunan. See?

Jadi ketika minder sama orang lain, mungkin kita harus berpikir “kenapa harus minder? Toh kan sy menutup aurat dengan baik. Meski sy tak sebaik mereka, tapi saya ingin lebih baik lagi terutama di hadapan Allah. Aamiin”

image

*sebuah catatan tentang diri, semoga menjadi cambuk agar tak lagi sembarang menyebut diri tak berguna.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s