Simpati

Saya tidak sedang membicarakan tentang provider di SIM 2 ponsel saya, tapi tentang sebuah sikap yang membuat seseorang mengusahakan untuk memahami perasaan orang lain. Jika tidak bisa berusaha memposisikan diri di posisi orang lain, maka setidaknya berusahalah paham bagaimana posisinya saat itu.

simpati

Sering kali kita terlalu bersemangat menilai orang lain dari kacamata kita sendiri. Tanpa tabayyun, tanpa berusaha mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Dan kemudian mempertanyakan, apakah pantas kita menghakimi seperti itu?

Hari ini saya berbuat kesalahan dengan menyebarkan sebuah foto seorang lelaki yang menaiki pot bunga di seputaran jalan Asia Afrika Bandung. Pot bunga bekas perhelatan akbar sehari itu nampak diinjak dan tanaman di dalamnya turut terzhalimi, berdasarkan foto itu.

Sebenarnya tujuan foto itu dan twit Pak Wali mungkin bukan untuk menghakimi ya, melainkan menemukan orangnya untuk kemudian ditanyai kenapa ia berbuat seperti itu. Tabayyun. Hanya saja kemudian respon masyarakat terhadap foto tersebut jadi beragam tentunya.

Kejadian lain serupa bisa saja sering terjadi di sekitar kita. Bukan sekadar share informasi saja yang harus hati-hati, tapi berkomentar pun demikian. Mungkin kita tak mengalami yang ia alami, atau tak tahu kondisi pastinya keadaan itu.

Ketika membaca sebuah status misalnya, tanpa disadari memang kita akan tergerak untuk berkomentar sesuai dengan latar belakang atau melihat dari sisi dan pengakita. Lebih tepatnya memposisikan dia di posisi kita. Bukan memposisikan diri kita di posisi pembuat status. Sehingga sering kali yang terjadi malah clash atau sesuatu yang tidak enak karena dianggap ga punya perasaan.

Bukan berarti kita tidak boleh jadi diri sendiri, tapi dengan menempatkan posisi yang pas, maka ketika kita berkomentar pun nasihat yang tersampaikan akan lebih baik. Komentar yang kita berikan akan lebih membangun.

Ketika kita mengomentari status teman yang lagi patah hati misalnya, bisa jadi kita belum pernah mengalaminya sehingga dengan seenaknya kita bilang lebay (meski kadang memang kenyataan ya suka lebih lebay kalau urusan patah hati :D). Bisa jadi juga kita pernah mengalami patah hati sehingga menasihati berdasarkan pengalaman. Menyamakan frekuensi, atau setidaknya mencoba mensejajarkan frekuensi kita dengan pemilik status akan membuat komentar kita terasa lebih dekat.

Di dunia maya, banyak sekali “bully” tanpa awal dan akhir. Kenapa tanpa awal? Karena seringnya yang komentar itu sebenarnya mengikuti komentator sebelumnya tanpa paham apakah benar yang dimaksud pemilik status itu? Atau bahkan tanpa membaca secara lengkap komentar langsung komen aja tanpa basa-basi. Dan tanpa akhir itu karena seringkali malah ga jelas maksud komentarnya dia sehingga terus saja komentarnya berujung pembelaan terhadap diri sendiri atau pembenaran.

Memang tidak semua orang mampu bersimpati dengan mudah. Beberapa harus bekerja ekstra keras untuk belajar memahami orang lain kemudian mencoba memahami cara berpikirnya. Memahami cara berpikir orang lain bukan berarti masukan kita harus yang sesuai dengan keinginan dia, tapi kita jadi tahu darimana harus memulai masukan dan bagaimana menyampaikannya.

Tentu tidak akan serta merta mudah menasihati orang lain. Tapi efek dari simpati ini akan jauh lebih baik daripada komentar sotoy dari seseorang yang hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang dia sendiri saja.

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s