Banyak Anak? Salut!

Belajar dari diskusi “tak sengaja” di sebuah grup jual beli, saya kemudian menjadi takjub kepada beberapa anggotanya yang memiliki anak lebih dari 2 tapi semua (nampak) baik-baik saja. Subhanallah mereka melakukan itu semua justru tanpa adanya ART (khodimat alias asisten rumah tangga).

Tentang ini, mungkin ada juga yang mencibir karena ada yang menggunakan jasa ART. Sebenarnya ga masalah sih ya kalaupun mau menggunakan jasa khodimat karena toh yang mampu mengukur kemampuan diri dan keluarga ya anggota keluarga itu sendiri. Tak usah dipaksakan ingin seperti orang lain jika secara ukuran ternyata tidak sanggup.

Yang saya garis bawahi dari percakapan tak sengaja itu adalah adanya penanaman budi pekerti, tentang akhlak dan penanaman aqidah pada sang buah hati. Terutama pada anak pertama.

Biasa ya ibu-ibu kalau sudah ngumpul di sebuah grup suka ada saja obrolan entah tentang apapun. Meski namanya grup jual beli, biasanya curhat seputar olshop-nya ga terlalu banyak. Yang banyak ditanyakan justru tentang anak dan keluarga.

anakAlhamdulillah ga sampe membuka aib asing-masing. Hanya berbagi kisah hikmah dan inspirasi. Dan itu semua perlu sekali bagi seorang perempuan mengingat memang salah satu cara perempuan “istirahat” dari kesehariannya di rumah adalah dengan ngobrol (terutama ibu rumah tangga, yang seharian di rumah).

Saya mengambil contoh satu orang di antara member. Beliau memiliki 4 orang anak, buka ekspedisi pengiriman dan punya Online Shop juga. Ada yang menarik dari obrolan beliau bahwa beliau sudah jarang “ngurus” anak-anak. Kenapa? Kok bisa?

Jawabannya, bisa banget. Karena beliau menerapkan yang disebut “perwalian” (ini istilah dari beliau sendiri). Jadi kakak perempuan bertanggung jawab terhadap adik perempuan dan kakak laki-laki bertanggung jawab terhadap adik laki-laki.

Ketika akan bepergian misalnya, maka sang kakak-lah yang mengurus semua keperluan adiknya. Sang kakak menyiapkan kebutuhannya sendiri ditambah kebutuhan sang adik. Jika ternyata bawaan adik kurang sehingga ketika baju adik kotor atau basah dan harus ganti baju tapi bajunya ga ada, maka sang kakak harus memastikan adiknya tetap harus ganti baju entah dengan menggunakan baju sang kakak atau bagaimanapun caranya.

Terkesan jahat, beliau bilang. Tapi semua itu dilakukan supaya anak juga sedari kecil belajar tanggung jawab. Tipsnya? Melibatkan kakak segera setelah sang adik terlahir.

Perbedaan usia antar-anak 2 tahun. Di usia yang masih muda, mereka sudah mampu bertanggung jawab karena terbiasa dilibatkan dalam memenuhi kebutuhan sang adik sedari kecil. Anak kecil memang biasanya begitu bersemangat ketika adiknya lahir, Danisy sulung saya pun begitu semangat ketika tahu adiknya sudah lahir dan bersedia membantu apa saja (berlebihan menyebut “apa saja”? beneran lho apa saja, hampir semua hal). Semangat inilah yang “dimanfaatkan” untuk mengenalkan pada sang kakak tentang dunia baru bernama “punya adik”.

Pernah satu ketika, ujar beliau, sang adik yang berusia 5 tahun “hilang” ketika tengah dalam acara tamasya keluarga. Sang kakak yang berusia 7 tahun langsung mencari sang adik. Orang tuanya tetap bantu mencari juga, tapi tanggung jawab menemukan sang adik masih jadi tugas sang kakak. Alhamdulillah ketemu, lagi magis. Setelah itu sang kakak menuntun adiknya dengan erat jangan sampai hilang lagi. Lepas sedikit saja, kakak senewen sama adiknya. Biarkan saja, kata beliau menambahkan. Nanti keduanya akan sama-sama belajar tentang tanggung jawab dan perwalian ini.

Dalam buku Mendidik dengan Cinta karya bu Irwati Istadi rupanya membahas juga tentang hal ini. Penanda bukunya pas banget ada di bab Sukses Mendidik Banyak Anak. Saya belum selesai membaca buku ini sedari lama 😀

Di bab tersebut dibahas tentang contoh sebuah keluarga yang memiliki 8 anak, sulungnya kuliah, yang paling kecil 4 bulan. Perangai semua anaknya baik hingga membuat takjub para tetangga. Bagaimana bisa? Di zaman sekarang, gituh..

Ada 4 poin yang dibahas pada bab tersebut sebagai kunci utama mendidik banyak anak:

1. Sukses yang pertama, sukses berikutnya.

Ketika anak pertama sukses dididik dengan baik, maka ketika hadir anak kedua, akan lebih mudah karena sang adik akan meniru sebagian besar tindakan kakaknya (dan tindakan orang tua juga tentunya). Jika kakak berbuat baik, adik akan secara otomatis meniru tindakan kakak. Pengalaman dengan 2 anak, poin ini benar. Azam tanpa diminta akan selalu ngintil kakaknya, meniru hampir keseluruhan sikap kakaknya.

Konon, anak yang telah memiliki adik cenderung akan mengembangkan pribadi superior dan sikap kepemimpinannya. Dengan gaya khasnya sendiri, sang kakak akan mengembangkan naluri untuk mengatur dan memerintah adik. Sementara sang adik cenderung urut karena memang sedang dalam masa belajar meniru. Pernah mengalaminya? Saya memperhatikannya dari Danisy dan Azam 😀

2. Tumbuhkan kebersamaan keluarga

Terjalinnya ikatan batin antar-anggota keluarga akan menimbulkan kepedulian satu sama lain. Jika rasa kebersamaan sudah tumbuh pada hati kakak beradik, mudah bagi ibu mendelegasikan beberapa tugas ringan pada kakak. Tugas memandikan adik, menyiapkan baju, menemani bermain, menemani adik ke warung atau membelikan kebutuhan adik, semua akan dilakukan kakak tanpa merasa keberatan. Memang sih ketika membiarkan Danisy memandikan Azam, keduanya malah asyik main air. Pernah satu ketika semua isi botol sabun masuk ke ember. Fyuh.. Tapi ketika keduanya mandi, saya dapat mengerjakan pekerjaan lain. Alhamdulillah.

3. Jaga Jarak Kelahiran

Mungkin agak sedikit jadi ganjalan di beberapa orang, tapi poin ini ada benarnya juga. Konon, jarak idealnya adalah 2 tahun lebih. 9 bulan hamil + 2 tahun menyusui jadi sekitar 2 tahun 9 bulan. Sayangnya Danisy hanya berjarak 2,5 tahun dari Azam. Alhamdulillah ga ada acara rewel atau tantrum berlebihan ketika Azam lahir. Malah Danisy senang dan bersedia membantu apapun. Kuncinya di komunikasi terhadap anak segera setelah kita tahu bahwa kita hamil dan dia akan memiliki adik.

Mengapa keluar angka itu? Karena secara psikologis, sebelum usia 2 tahun umumnya egosentris seorang anak masih begitu besar, serba harus dia yang jadi pusat perhatian (catat ya: UMUMNYA jadi bisa berbeda juga kasusnya).

Di usia 2,5 tahun, mulai tumbuh pengertian tentang berbagi dan mampu lebih dewasa ketika misalnya hadir adik baru. Kakak yang memiliki adik dengan jarak usia di atas 2 tahun cenderung lebih mudah menerima adik. Tapi kalaupun ada di antara kita yang memiliki anak dengan jarak usia di bawah itu, bukan berarti ga bagus, hanya akan sedikit butuh tenaga ekstra termasuk memahamkan anak sedari awal hamil bahwa keluarga akan kedatangan warga baru yang setelah lahir nanti mungkin akan banyak menyita perhatian orang lain terutama ibu. Ibu hanya perlu memastikan kakak tetap masih disayang meski adik sudah lahir. Diberitahukan secara terus menerus dan hindari kata-kata yang sekiranya membuat anak malah merasa adiknya merebut dunia dari dirinya.

4. Tips terakhir adalah Ikhlaskan Hati

Bagi saya agak susah nih. Heuheu. Karena anak itu peka banget sama perasaan ibunya, jadi suka pada balik rewel ketika kita lagi bete misalnya. Dua-duanya. Harus bisa sabar, tetap tenang ketika anak rewel.

Hal ini yang membuat generasi terdahulu tidak mempermasalahkan banyaknya anak. Karena keikhlasan mereka menerima kehadiran anak-anak dan segala tetek bengeknya.

Harus belajar lagi nih supaya bisa jadi ibu yang lebih baik buat anak-anak. Supaya anak-anak tumbuh menjadi sosok yang memiliki akhlak yang baik dan psikologis yang oke dengan pemahaman yang benar. Semangat!

*tiba-tiba inget pe-er yang sedang menanti: proses sapih Azam 😀

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s