Being A Single Parent

Saya bingung harus nulis apa.. Tapi kalimat yang rasanya tepat adalah “being a single parent”.

Menjadi orang tua tunggal pastilah tak mudah. Siapapun pasti tak ingin menjadi orang tua tunggal.

image


Bukan berarti ia tak berusaha mempertahankan pernikahannya agar semua berjalan baik-baik saja. Tapi karena beban yang ada sudah tak membiarkan ia memilih lagi.

Siapapun, tak ingin menjadi orang tua tunggal. Entah karena ditinggal wafat oleh pasangan, atau memang berpisah.

Andai tahu masa depan yang akan terjadi, mungkin ia tak akan memilih pasangannya yang kelak mengecewakan. Tapi bukankah di luar kuasa kita saat ini?

Tak ada yang salah dengan sebuah kata bernama perceraian. Tak ada yang salah dengan pasangan yang memutuskan untuk berpisah.

Mungkin ada yang salah dari cara kita mengenali rasa sebelum janji setia terucap. Mungkin ada yang salah dari cara kita mengharapkan seseorang di masa depan.

Seringkali permakluman menjadi sebuah hal yang menutupi rasionalitas seseorang. Berharap sang calon kelak akan lebih baik, tanpa mengukur kemampuan diri, sejauh mana dapat mengajaknya berubah. Sejauh apa usaha untuk mengubahnya menjadi lebih baik.

Cinta buta membuat seseorang memutuskan sesuatu secara tak rasional. Ya, karena cinta yang benar-benar tulus, mampu menangkap logisnya sebuah keputusan.

Tidak ada yang salah dengan perceraian. Seorang wanita yang memilih untuk pergi, pada dasarnya sudah melakukan banyak hal untuk tinggal. Dan seorang lelaki yang memilih untuk meninggalkan, pada dasarnya sudah tak mampu melihat masa depan yang ia harapkan.

Being a single parent is not easy. There’s different between giving up and just not wanting to take someone’s shit anymore. Even it seems the same way.
Sometimes you don’t even feel the weight of something you’ve been carrying until you feel the weight of its release.

Terkadang kita harus kehilangannya untuk menemukan diri kita kembali. Mencoba mengatur kehidupan dengan cara yang tak biasa.

Sekian lama kita bertahan, mengharapkan adanya perubahan dan bersama mempertahankan rumah tangga yang dibangun dengan susah payah. Tapi nyatanya hanya satu pihak yang berjuang sendiri. Tak ada perubahan signifikan seperti yang diidamkan. Maka perceraian bukanlah sebuah tindakan mengangkat bendera putih, tapi sebuah upaya menyelamatkan sebagian agar tak hancur semuanya.

Bercerai bukanlah aib jika ia didasarkan pada keputusan logis. Bukan sekadar keputusan emosional sesaat yang membuat kita kelak menarik ucapan.

Berhentilah menghujat wanita yang mengajukan cerai karena seringkali justru merekalah pihak yang paling dirugikan. Berhentilah mengorek informasi mengapa seorang lelaki mengajukan cerai. Ini bukan sekadar urusan ranjang, tapi sudah melebihi permakluman.

Pernikahan dibangun untuk menemukan kenyamanan, cinta, kasih sayang, kedamaian. Jika lantas malah membawa petaka, nalar logika sudah tak mampu lagi memakna, maka pernikahan seperti apa yang akan dipertahankan?

*sebuah catatan untuk para wanita yang memutuskan untuk menjadi single parent. Salut buat kalian. Life must go on, and you deserve more 🙂

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

2 thoughts on “Being A Single Parent

  1. Dulu saya pikir pernikahan adalah hal yang mengasyikan, menyenangkan dan membahagiakan. Tapi setelah pada suatu hari mendapat telpon dari sahabat saya di Kalimantan, dari kamar terkunci tersedu2 menangis menceritakan bahwa dia baru saja dipukul dan ditodong senapan oleh suaminya, dengan posisi sdg menggendong anak pula. Ternyata mungkin ada banyak pernikahan yg tidak bahagia. Lalu untuk apa dipertahankan jika yg ada hanya penderitaan? Untuk kondisi seperti sahabat saya itu, bercerai lebih baik bukan?

    Suka

    • kita ini sering dijejali dengan kisah indah pernikahan dan jarang yang mau cerita negatifnya padahal dalam dunia ini, positif negatif ada. Disinilah nantinya fungsi logika dimanfaatkan. Jika memang tidak bisa dipertahankan, lebih baik berpisah demi kebaikan sebagian besar pihak..

      Suka

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s