Danisy, Azam dan Arsitektur

Setiap pasangan punya cara sendiri untuk menyambut kehadiran sang buah hati. Salah satu yang mungkin dilakukan oleh setiap pasangan adalah penyematan nama sebagai titipan asa orang tua kepada anaknya tercinta.

Saya dan suami selalu menyepakati 1 nama. Masing-masing kami awalnya menyodorkan nama, tapi biasanya berujung dengan mencari nama bersama 😀

Ketika anak pertama lahir, namanya jadi panjang banget. Titipan nama dari kerabat dekat kami terima karena baiknya doa yang dititipkan.

Sulung kami bernama Muhammad Danisy Fadhlan Ismail. Nama utama yang kami pilih bersama adalah Danisy. Semula ditulis Danish tapi karena pertimbangan arti yang multi, akhirnya kami memutuskan penulisan nama dengan ejaan Indonesia. Artinya cerdas.

Di luar arti cerdas itu, rupanya ada sejarah pemilihan nama Danisy. Danis adalah nama panggilan dari Prof. Ir. Moch. Danisworo, M. Arch, MUP. Ph.D seorang dosen arsitektur legendaris di ITB.

Muhammad merupakan sematan doa dari kakak kami, Agus al Muhajir. Semoga sulung kami tumbuh menjadi seperti nabi Muhammad dengan kesabaran dan pemahaman menyeluruh tentang Allah dan Islam.

Nama Fadhlan lebih pada arti keutamaan. Harapan kami semoga ia memiliki keutamaan sebagai hamba Allah.

Sementara nama belakang Ismail kami sematkan karena sulung kami lahir bertepatan dengan Idul Adha. Dari sejarah adanya Idul Adha, kami belajar tentang besarnya cinta dan ketaatan keluarga nabi Ibrahim kepada Allah.

Lalu kenapa tidak mengambil nama Ibrahim? Karena kami belajar dari Ismail tentang bagaimana ia meyakinkan ayahnya untuk menjalankan perintah Allah. Semoga sulung kami tumbuh dengan keimanan yang kokoh, aqidah yang lurus dan menguatkan kami dalam melaksanakan perintah Allah.

Sedangkan anak kedua kami diberi nama Azam Kamil Nashrullah. Nama Azam sudah disodorkan suami segera setelah mengetahui hasil USG bahwa janin yang saya kandung saat itu adalah laki-laki. Meski awalnya keluarga dan suami sempat berharap anak kedua kami perempuan.

Konon katanya nama Azam ini adalah hasil kontemplasi suami ketika menyepi di masjid al-Irsyad Kota Baru Parahyangan. Sebuah masjid yang dirancang oleh dosen favoritnya ketika kuliah di ITB, bapak Ridwan Kamil alias kang Emil yang sekarang menjabat sebagai walikota Bandung.

Ketika hamil Azam, keadaan kami memang sedang tak menentu. Terutama keadaan suami yang sedang risau mengenai pekerjaannya. Tidak mudah bagi seorang kepala rumah tangga berada dalam persimpangan semacam itu. Alhamdulillah kami berhasil melaluinya.

Anak kedua kami lahir ketika Bandung tengah semarak dengan bahasan calon walikota. Nama kang Emil muncul sebagai salah satu calon. Suami seketika menyodorkan nama tambahan Kamil di belakang Azam. Tanpa pertimbangan apapun, saya menyetujuinya karena ketika suami menyodorkan nama itu seperti ada semangat di matanya.

Meski nama ini sempat jadi bahan tertawaan karena dianggap terlalu nge-fans dan black campaign. Tapi suami bilang “cuekin aja. Kalau dianggap kampanye, ya biarin aja. Emang Aa mau milih kang Emil. Bandung bakalan banyak berubah”. Saya percaya terhadap pengamatannya karena ia pernah berinteraksi langsung dengan kang Emil.

Pencalonan kang Emil juga yang membuat suami bersikukuh tetap tinggal di Bandung padahal ada tawaran dari Kalimantan. Jawabnya, ingin merasakan Bandung di bawah pimpinan kang Emil. Padahal waktu itu baru dicalonkan, belum tentu menang 😀

Nama anak kedua harus segera siap karena ketika itu peraturan tentang akta lahir berubah menjadi lebih cepat lagi. Selain nama Azam Kamil, saya menambahkan kata Nashrullah untuk menjadi pengingat kami tentang perjuangan hamil dan melahirkan anak kedua yang tak mudah tapi dengan pertolongan Allah ia lahir dengan selamat bertepatan dengan berkumandangnya adzan shubuh di hari Pendidikan Nasional.

Danisy dan Azam ternyata bukan sekadar nama seru-seruan. Pagi ini ketika bangun, saya mendapati sebuah pesan di WhatsApp.

Tonton “Satu Jam Lebih Dekat Ridwan Kamil Walikota Bandung FULL” di YouTube – https://youtu.be/1zJxSTLZuiE
Pengin tahu sejarah hubungan Danis & Emil? Tonton video ini ya say.. 😘

image

Ouw ouw ternyata.. Danis dan Emil adalah dosen dan mahasiswa. Danis hadir sebagai sosok pengganti ayah karena ketika tingkat akhir, ayah Emil meninggal dan beberapa kejadian yang membuat Emil muda sedih kala itu.

Sementara bagi keluarga kami, Azam dan Danisy hadir sebagai sebuah kesatuan. Azam hadir melengkapi Danisy. Azam seperti halnya Emil, begitu bahagia dengan adanya sosok Danisy. Danisy sebagaimana Danis, begitu menyayangi Azam dan mengajar banyak hal pada adiknya. Keduanya memiliki hubungan erat sebagaimana Danis, Emil dan Arsitektur.

Danisy dan Azam lahir sebagai pengejawantahan seorang arsitek dan kecintaannya pada dunia arsitektur. Mereka memiliki sejarah nama yang erat hubungannya dengan dunia arsitektur, terutama arsitektur Bandung tempat dimana Danisy dan Azam lahir.

Danis dan Emil adalah tokoh pendidik dan tokoh perubahan masa kini. Seperti ingin selalu mengingatkan kami tentang arti pendidikan dan peradaban, Allah pun menetapkan tanggal lahir anak-anak kami di tanggal-tanggal bersejarah yang erat kaitannya dengan pendidikan. Danisy lahir bertepatan dengan Idul Adha yang mengajarkan tentang pentingnya pendidikan keluarga hingga melahirkan anak yang teguh. Sedangkan Azam lahir bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional yang mengajarkan tentang pentingnya pendidikan masyarakat.

Disertai asal mula nama yang terkait juga dengan dunia pendidikan dan membangun peradaban, keduanya semoga menjadi bagian dari sosok perubahan dan bagian dari kembalinya peradaban Islam. Meneguhkan tentang pentingnya pendidikan keluarga dan pendidikan di skala nasional.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Iklan

3 thoughts on “Danisy, Azam dan Arsitektur

  1. Tentang penulisan nama, inget pengalamanku mbak. Nama anakku kan Ahmad Diwan Kalifa, sering disangka salah tulis Khalifa. Padahal nama Kalifa ada sejarahnya. Memang diambil dari kata khalifah (pemimpin) + Kaifa (nama penerbit buku). Saya menjadi penerjemah di penerbit itu waktu hamil anakku mbak, jadilah dinamai Kalifa (gabungan dr khalifah dan kaifa).
    Maaf ya, komen yg kepanjangan hihi

    Suka

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s