Anak Masjid

Kapan Sih Anak Boleh Ikut Shalat ke Masjid?
Saya pernah mempertanyakan hal seperti itu ketika sulung saya berusia 2 tahun. Di usianya ia selalu ingin ikut abinya ke mesjid.

Alasan abinya tidak membawanya memang masuk akal, khawatir mengganggu. Lalu saya mempertanyakan, apakah anak tidak akan berubah jadi tidak suka masjid karena seringkali dilarang ke mesjid semasa kecil?

Maka karena pertanyaan itu, saya dan suami bersepakat mengatakan “Danisy shalat di rumah sama ummi dulu. Kalau sudah lebih besar, ikut ke mesjid sama abi”. Terkadang merasa bersalah. Anak kan memang fitrahnya masih terjaga jadi wajar jika ia ingin sekali ikut ke masjid meski ketika sampai di masjid, ia mungkin akan berkeliling.

Sesekali Danisy dibawa ke mesjid sama abinya. Tapi tak jarang abinya sembunyi-sembunyi ke masjid. Semata menjaga agar Danisy tidak mendengar “larangan ikut ke masjid”.

Mencoba mencari berbagai referensi. Sebenarnya usia berapa sih anak boleh dilepas ikut ke masjid. Saya menemukan angka 4 tahun sebagai usia ideal karena mereka sudah lebih mandiri. Sudah bisa menjaga kebersihan, sudah bisa “diomongi”. Meski indikator ini bisa berbeda antar satu anak dengan anak yang lain.

Selama rentang waktu 2-4 tahun bukan berarti Danisy tidak pernah ke masjid. Tapi kami tidak melarangnya sekaligus tidak mengajaknya.

Pernah suatu ketika, hari Jumat, melihat banyak yang berbondong ke masjid. Danisy melihat fenomena itu dan berlari menyiapkan sarung, peci. Bersiap ke masjid. Usianya baru 2 tahun lebih.
“Dede mau ke mesjid” kurang lebih itu yang dikatakannya dgn bahasanya sendiri. Lho ini kan jumatan. Duh, gimana ya.

Nitipin ke bapak tetangga depan, tapi Danisy ga mau. Mau sendiri, katanya. Okey. Akhirnya saya yang antarkan dia ke masjid. Shalat, sebentar. Setelah itu pulang.

Rupanya dulu Rasulullah sendiri tidak pernah melarang anak-anak datang ke mesjid, meski anak pra-sekolah sekalipun. Muslimah saat itu banyak yang berjamaah di mesjid sambil membawa anaknya.

Sayangnya, masyarakat sebagian besar masih belum bisa menerima anak di tengah kegiatan masjid. Seringkali anak dianggap pengganggu.

Dalam pembiasaan anak ke mesjid sedari dini, ada hikmah pengajaran yang cukup urgen bagi anak: membentuk pribadi yang cinta masjid.

Anak melihat secara langsung tauladan dari orang tua dan masyarakat sekitar. Bagaimana masjid membangun silaturahmi yang kuat antar-jamaah.

Beritahukan pada anak keutamaan masjid. Bahwa ia adalah rumah Allah dan merupakan tempat yang suci dan baik untuk didatangi. Mendampingi anak ke masjid selain sebagai teladan juga sebagai cara kita menjaga mereka.

Ada baiknya jamaah menyambut baik sang anak seperti halnya mereka menyambut jamaah lain. Dengan sambutan yang hangat, anak akan menanamkan informasi dalam memorinya bahwa mesjid adalah sebuah tempat yang ramah, hangat dan nyaman. Apalagi jika disertai diberi hadiah 😀

Dengan terbiasa ke mesjid sedari kecil, maka di saat usianya menginjak 7 tahun, anak tidak akan sulit diminta berjamaah ke masjid. Masih ingat kan bahwa Rasulullah menganjurkan mengajarkan shalat dan berjamaah di usia 7 tahun?

Dari anak yang hatinya terpaut dengan masjid, akan hadir sosok pemuda/i yang mencintai agamanya dengan baik. Akhlak terbentuk sebagaimana didikan dan lingkungan.

Jadi jika ada anak yang malas shalat (apalagi berjamaah), cuek terhadap mesjid di usianya yang sudah menginjak dewasa, maka cobalah telisik. Siapa tau saat fitrahnya masih terjaga di masa kecil, orang tua maupun masyarakat seringkali melarang atau menghentikan langkah mereka sehingga mereka terbiasa untuk menolak fitrahnya.
Allahu a’lam.

image

Abi bersama 2 anak lelaki di selasar Masjid Istiqomah Bandung usai shalat Ashar

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

8 thoughts on “Anak Masjid

  1. alasannya beberapa pengurus masjid kurang suka jamaah anak2 karena anak2 (yang aktif) biasanya kurang tertib ketika sholat berjamaah. mengganggu proses ibadah sholat jamaah.
    tapi, menurut fina bukan berarti ga boleh bawa anak2 ke masjid. diatur saja, misal membawa anak sholat jamaah yang tidak terlalu ramai jamaahnya, misalnya pas sholat dzhuhur atau ashar. taruh anak2 di pinggir shaf, biar tidak membuat shaf jamaaf sholat terpotong.
    alhamdulillah, jamaah masjid di dekat rumah sudah maklum kalau fina bawa 3 anak ke masjid. dijamin rame, tapi kalau sholat sih lebih diem. kebetulan juga banyak yang bawa anak, jadi ada teman senasib. hehehe.

    Suka

  2. Orang dewasa yg di Masjid mestinya lebih welcome kepada anak2. Krn anak akan tidak suka atau mencintai masjid berdasarkan pengalamannya di sana. Kasihan kalau anak2 malah dimarah2in.

    Apa karena kebanyakan yg di masjid tu orang2 tua, kakek2 gitu ya? Jadi kurang pahan cara memperlakukan anak2

    Suka

    • Iya.. ada cara menjadikan masjid sebagai sentra sebagaimana Rasulullah dl. Tp ilmu tentang ini sepertinya masih jarang dibahas slm berbagai acara pengajian shg masjid pada akhirnya lbh dikenal sbg tempat para pengangguran, atau tempat para orang tua, atau pengajian saja.
      Banyak pe-er sepertinya 🙂

      Suka

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s