Menyampaikan Pesan

Berteriak hanya akan membuat pesan tak tersampaikan. Berbicaralah pelan agar anak dapat mendengar kata-katanya, bukan suaranya.
L. R. Knost

image

Melibatkan diri dalam dunia anak bukanlah perkara mudah. Ada banyak hal yang harus dengan rela ditinggalkan oleh para orang tua untuk masuk ke dunia anak-anak. Salah satu yang penting untuk ditepis adalah keegoisan menganggap kita berkuasa terhadap anak.


Sulitnya memasuki dunia anak bukan karena dunia anak rumit. Justru kesederhanaan dunia mereka yang menjadikannya sulit dimasuki oleh orang dewasa dengan hidup yang sudah terlalu rumit.

Menyederhanakan kerumitan bukanlah hal yang mudah. Anda sepakat kan soal ini?

Ketika anak menebar kreativitasnya di seantero rumah, kita orang tua yang menerapkan aturan ketat akan kelabakan menimpali tingkah mereka.

Ketika anak menikmati dunia eksplorasinya, kita orang tua yang menetapkan standar tinggi akan kehilangan kesabaran menemani mereka.

Dan masih banyak lagi ke-tidak-klop-an orang tua dan anak. Bagaimana tidak. Anak masih berkutat dengan segala keingintahuan sementara orang tua berkutat dengan ke-soktahu-an.

Tak jarang hal seperti itu menjadi penyebab orang tua berteriak pada anak sebagai pertanda ia lelah menemani mereka. Itu yang saya alami sehari-hari. Merasa bersalah tapi memang tak mudah.

Pada dasarnya anak sebenarnya tahu dan mengerti sejak pertama kali ia diberitahu (atau diminta untuk melakukan sesuatu). Dan berteriak marah-marah sebenarnya tak berguna sama sekali selain menyakiti anak.

Saya merasa tidak nyaman dengan ini. Kenapa belakangan anak-anak seperti serentak untuk “membandel” dan menolak perintah. Kemudian mencari tahu harus bagaimana menghadapinya.

Banyak teori yang didapat. Kunci utamanya memang sabar. Sabar dengan proses anak melakukan sesuatu yang kadang tak langsung bergerak. Seperti halnya dulu sabar ketika anak MPASI dengan metode Baby Led Weaning (BLW).

Padahal, dengan jarang berteriak pada anak, maka anak sebenarnya akan lebih mudah merespon keinginan kita, seperti si sulung dulu. Jadi tahan untuk mengulang perintah dan beri mereka waktu untuk mengerjakannya. Fyuh.. sulit tapi harus bisa..

Dari konsultasi melalui pendekatan NLP tempo hari, saya mau coba me-list ulang apa saja yang dianjurkan untuk dilakukan. Karena pada dasarnya bukan tindakan anak yang membuat kita marah, tapi kekesalan yang menumpuk sedemikian banyak.

1. Tarik nafas, tahan, keluarkan
2. Apa yang membuat anda dapat seketika beralih dari sedih/marah ke bahagia? Lakukanlah. Alihkan rasa kesal dengan tindakan yang mampu membuat bahagia.
3. Ubah posisi (dari sebuah pelatihan kelas online, saya belajar bahwa mengubah posisi akan membuat syarat berubah keadaan. Karena setiap ekspresi emosi memiliki pattern gerakan tertentu, maka ubah posisi agar tak mengikuti pattern itu).
4. Tolerir kekesalan diri, tepis dahulu lalu ceritakan pada yang bersangkutan atau pada orang yang dijadikan tempat curhat. Misal kesal pada kerjaan, toleransi dulu lalu ceritakan pada pasangan atau teman.
5. Cari teman untuk bersama komitmen untuk tidak berteriak pada anak.
6. Tentukan kata kunci. Misal, ketika suami melihat kita sudah menjelang marah, ia cukup mengingatkan kita dengan satu atau beberapa kata yang disepakati jika diucapkan maka kita harus menghentikan kemarahan itu dan menarik nafas untuk kemudian stay cool and calm.
7. (Tambahan dari sy) Doa. Tentu saja ini harus jadi bagian dalam mengubah kebiasaan.

Harus belajar lagi. Lebih baik..

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s