Kamu Hebat, Nak

Sebuah reminder muncul di akun Facebook saya tanggal 4 April lalu, tepat 1 tahun di tanggal yang sama, saya mengunggah sebuah foto. Isinya kurang lebih tentang prestasi Danisy yang bagi saya luar biasa kala itu.

image

Kemampuan mewarnainya secara “tiba-tiba” jadi baik. Sebelumnya hanya berupa titik, lalu sekadar menggurat garis, dan tiba-tiba ia mewarnai dengan sempurna. Baik dan tidak keluar garis gambar.

Bagi sebagian orang mungkin saya dianggap berlebihan karena toh anak-anak yang lain malah sudah lebih baik kemampuan mewarnainya dibandingkan Danisy. Tapi bagi saya yang menemani Danisy setiap hari, memperhatikan perkembangannya secara pribadi, itu adalah prestasi luar biasa. Anak yang sebelumnya tidak suka mewarnai, kemudian kemampuan ia mewarnai menjadi lebih baik lagi.

Sempat kesal memang ketika Danisy lebih memilih main daripada masuk kelas. Atau ketika ia enggan belajar membaca. Atau ketika ia enggan masuk ketika kelas olahraga diisi dengan kegiatan senam. Kemudian saya membandingkan Danisy dengan temannya. Dan tentu bisa ditebak, ada nada yang sedikit mengancam. Penyebab sebenarnya bukan terletak pada tindakan Danisy, tapi lebih pada saya sendiri yang “malu”.

Jika saja saya selalu sadar bahwa ia hanya anak yang usianya belum genap 3 tahun kala itu. Sekolah hanya karena ia ingin merasakannya tanpa tahu sekolah itu bukan hanya sekadar main di perosotan atau menikmati ayunan seperti yang sering ia lihat di TK dekat rumah.

Jika saja saya selalu sadar bahwa ia hanya anak kecil yang pikirannya sederhana. Dan eksplorasi belajarnya memang melalui aktifitas fisik, bermain. Bukan duduk di kelas memperhatikan. Penyiksaan terhadap anak yang sedang dalam masa tak bisa diam.

Maka penting bagi seorang ibu maupun ayah mengetahui perkembangan anaknya secara personal, bukan general. Apalagi jika dibandingkan dengan teman sekelas atau teman sebayanya.

Sesekali memang perbandingan itu perlu. Sekadar mengecek apakah anak mengalami keterlambatan pertumbuhan atau hanya sekadar belum siap dan belum masuk fase yang sudah dilalui temannya.

Jangan paksakan anak hidup dalam ambisi kita. Tapi masuklah ke dalam kehidupannya untuk mempersiapkan ia tumbuh dan berkembang di masa depan sesuai fitrah dan potensinya.

Anakku.. berhasil tidak selalu berarti kamu harus jadi yang nomor satu atau pertama. Berhasil yang sebenarnya adalah saat kamu bisa berbuat lebih baik dari yang kamu lakukan sebelumnya..

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s