Meminta Izin Pada Anak

Ummi: Ummi mau sekolah dulu ya, boleh?
Danisy: Aa ikut boleh?
Ummi: Mm.. boleh asal Aa bisa diajak kerjasama untuk tenang selama ummi sekolah ya.
Danisy: Lama mi?
Ummi: Iya lumayan
Danisy: Ya udah Aa ga ikut

image

Sepenggal pembicaraan saya dan si sulung Danisy (4y4m) yang sering terjadi setiap kali sy pamit untuk ikut kelas atau seminar di luar rumah.

Meminta izin pada anak adalah sebuah tindakan baik yang belum lumrah di masyarakat kita. Seringkali kita menganggap mereka hanya anak-anak yang tak mengerti apa-apa. Padahal mereka juga adalah seorang manusia juga seperti kita.


Bagi saya, meminta izin pada anak sama halnya seperti suami pamit pada istri atau anak meminta izin pada orang tua. Membangun kepercayaan antara kedua belah pihak dan membiasakan. Meminta izin pada anak membuat anak merasa dihargai keberadaannya. Bahwa ia juga memiliki kesetaraan untuk mendapatkan kehormatan dari orang tuanya sebagai seorang manusia yang memiliki rasa.

Meninggalkan anak tanpa izin membuat saya seringkali tak tenang. Meninggalkan mereka secara sembunyi-sembunyi seperti mencoba lari dan menganggapnya sebagai beban yang membuat kita tak jadi berangkat.

Lalu bagaimana jika anak menangis dan tidak memberikan izin? Ada 2 kondisi seperti ini yang pernah saya alami. Pertama ketika anak sakit sehingga ia ingin terus bersama kita, atau saat anak entah kenapa cuma sekadar ingin ikut.

Dalam kondisi berbeda, keputusan saya pun berbeda. Ada kalanya setelah meminta izin saya tetap pergi dengan memberikan alasan yang sebenarnya tentang kepergian kita berikut manfaat dan mudharatnya, atau saya memutuskan untuk tidak jadi berangkat dan menemani mereka sambil membicarakan tentang ketidakpergian saya. Kenapa dan bagaimana konsekuensinya, dengan bahasa yang sebisa mungkin dapat mereka pahami. Biasanya saya tanyakan juga kenapa mereka ga kasih izin.

Ketika tetap memaksakan untuk pergi, pada akhirnya harus tega mendengar tangisan mereka. Tapi setidaknya saya pergi dengan sepengetahuan mereka, bukan dengan membohonginya.

Mungkin ada yang tidak sependapat dengan saya. Itu wajar kok. Karena kondisi setiap orang berbeda, ga saklek. Hanya saja, seandainya boleh memilih, saya sarankan untuk melatih anak-anak sejak dini. Bahwa ada kalanya kita keluar rumah dan mereka tidak diperkenankan ikut, atau saat kita dengan terpaksa meninggalkan mereka karena tidak memungkinkan untuk ikut, atau hal serupa lainnya.

Percayalah bahwa meski usia mereka masih kecil, tapi kedewasaan mereka seringkali melebihi kita sebagai orang tua. Karena kasih sayang mereka begitu tulus dan jiwa mereka yang masih begitu bersih. Perhatikan bagaimana mereka mau menerima dan paham dengan kegiatan orang tuanya, bagaimana mereka bisa bekerja sama dengan kita orang tuanya, bagaimana mereka malah lebih toleran terhadap kita orang tuanya. Mereka mampu memahami hal sederhana yang tak kita pahami sebagai orang tua.

Dengan pendekatan yang baik, cara bicara yang santun, anak akan belajar dengan lebih mudah. Bahwa izin mereka menjadi salah satu bekal langkah kita. Jika anak terkesan egois dengan tidak memberikan izin di saat kita mencoba menerapkan, maka lihat bagaimana cara kita berkomunikasi dengannya, perhatikan bagaimana cara kita memperhatikannya. Bisa jadi karena pertama kalinya kita meminta izin dianggap sebagai sebuah momen penting untuk memastikan bahwa ini akan terus berlangsung, bahwa ayah ibu akan selalu meminta izin, pamit pada anak. Bahwa ayah ibu mulai belajar mengakui keberadaannya sebagai individu.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s