Membelah Waktu

Memahami keadaan yang mengharuskan kami berbagi peran membuat waktu 24 jam rasanya masih jauh dari cukup. Menemukan waktu untuk diri sendiri, untuk anak dan suami, untuk kegiatan lain di luar keluarga, sungguh saya salut pada mereka yang masih dapat berkarya dengan tetap mengedepankan kondisi keluarga.

image

Tapi dengan menerjunkan diri dalam berbagai kegiatan di luar berikut targetan yang ingin dilampaui, maka ini saatnya membelah waktu. Membuat waktu yang disediakan menjadi sebaik-baik kesempatan.

Saya masih harus belajar banyak dalam membelah diri sesuai waktu yang terbagi. Tak mudah awalnya. Saya dan suami seringkali kebingungan bahkan bertengkar tentang hal yang mungkin sepele menurut banyak orang.

Ketika rumah hampir tak pernah rapi dan bersih. Tumpukan cucian yang tiada henti. Belum lagi tumpukan setrika yang melambai ingin segera dirapikan. Rumah kok berantakan banget sih? Ya Allah.. harus gimana ini?

Saya stres, suami stres. Efeknya,EfeknyaSampai anak-anak juga sering kena imbasnya. Entah imbas kemarahan entah imbas berupa larangan main dsb. Ada yang salah. Pasti ada yang salah.

Sampai akhirnya kami memutuskan untuk bersepakat. Bahwa kami harus memiliki targetan berikut jadwal kegiatan dan menurunkan standar. Apakah ini berarti kami menyerah? Ngga. Justru ini kesepakatan yang akhirnya membuat kami bisa lebih baik lagi.

Saat suami ga bisa bantu beresin rumah dan urus anak, maka saya ga boleh marah karena memang suami harus fokus pada pekerjaannya. Pun suami harus paham ketika saya meminta bantuannya itu berarti saya sudah sangat kerepotan.

Berwirausaha dengan 2 anak balita tanpa ART bukan hal yang mudah. Berkejaran dengan waktu untuk banyak hal. Jika tidak diagendakan maka sudah pasti akan berantakan.

Suami harus fokus pada pekerjaannya sementara saya juga harus membelah diri untuk menambah wawasan keilmuan saya baik untuk kepentingan pengembangan diri saya maupun untuk keluarga. Ya, telat memang saya baru mengembangkan diri sekarang. Tapi bukankah tidak ada istilah terlambat untuk belajar?

Maka saya meminta permakluman suami ketika saya tidak bisa merapikan rumah setiap hari, seringkali saya hanya bisa memasakkan nasi (yang sesekali gosong karena kelupaan kalau lagi nanak nasi.-maklum pake kompor). Saya meminta izin pada suami untuk kegiatan yang saya ikuti dan bertekad untuk tidak meminta sepeser pun pada suami untuk apa2 yang harus saya keluarkan selama kegiatan. Maka saya pun harus bekerja keras untuk memenuhi setidaknya kebutuhan saya sendiri selama mengikuti kegiatan2 tersebut. Maka dari itu selain belajar untuk pengembangan diri, juga belajar untuk pengembangan usaha yang saya harap imbasnya ga cuma ke usaha saya tapi juga usaha suami.

Memanfaatkan gadget semaksimal mungkin adalah salah satu keharusan mengingat saya belum memiliki tools lain, laptop misalnya. Maka saya pun belajar tentang optimalisasi ponsel pintar yang saya miliki.

Meski masih jauh dari target, meski masih tergopoh mencapainya, tapi sedikit demi sedikit kami terus belajar berdamai dengan keadaan. Ada beberapa hal yang harus dilakukan, diantaranya mendelegasikan apa yang bisa didelegasikan. Dulu saya ga mau beli mesin cuci, selain karena uang kami pas-pasan waktu itu, saya berpikir masih bisa tertangani jadi bukan sesuatu yang urgent. Dulu ga mau ninggalin anak-anak, sekarang belajar untuk tega menitipkan mereka ke mamah. Dan ke-tega-an lainnya yang pada akhirnya harus kami berdua ambil.

Bangun sebelum shubuh, memastikan nasi matang sebelum pagi menjelang, masak air minum untuk memenuhi teko dan termos sehingga ada cadangan air minum, membagi waktu dan komitmen dengan jadwal yang dibuat. Jadwal pun harus disinkronkan dengan jadwal suami, anak dan mamah (jika ada rencana nitipin anak-anak).

Karena saya termasuk yang ga bisa begadang dan belum bisa bangun lebih awal di pertengahan malam, maka jadwal paling awal saya tetap di jam 3-4. Kemudian membagi-bagi kira-kira kalau nyuci, keburu ga?

Kapan jadwal ngurusin grup belajar SFS? Kapan masuk kelas online? Kapan rapat organisasi? Kapan jadwal potret barang dagangan? Kapan jadwal nyuci dan beresin rumah? Siapa aja yang terlibat? Kapan jadwal suami tugas keluar kota? Mana yang bisa dikerjakan dengan disambi dan mana yang tidak bisa.

Apalagi semenjak ikut KMB, setiap pertemuan harus ada progress. Bagi saya komunitas semacam ini sangat membantu untuk saya berdisiplin.

Dan karena Danisy sudah cukup besar, ia bisa dimintai bantuan meski sekadar ngepel teras atau jagain Azam. Saya juga sudah mulai memperkenalkan istilah “ummi sekolah dulu” atau “ummi kerja dulu” meskipun itu pada akhirnya berarti sy pegang ponsel. Apakah mereka mengerti? Alhamdulillah mereka mau mengerti. Apalagi Danisy, sudah bisa membedakan. Terkadang ia ikut di samping saya melihat cara saya bekerja dan belajar. Pun bahkan ketika saya menulis tulisan ini, saya mengatakan bahwa “ummi lagi nulis dulu” sehingga menunda menjahit jemuran yang menurut Danisy sudah pada kering. Sampai akhirnya hujan turun, “kata Aa juga jemurannya jait dulu mi. Keburu hujan. Pake jaketnya biar ga dingin”. MaSyaAllah, beruntung sekali saya dianugerahi anak-anak yang support luar biasa.

Maka ya Allah, jadikanlah aku pribadi yang bermanfaat untuk diriku sendiri, untuk suamiku, anak-anakku, keluarga, masyarakat dan umat. Aamiin.. Tuntun aku untuk memanfaatkan waktu yang Engkau berikan dengan sebaik-baik amalan, sebagai bekal timbangan baikku kelak di pengadilanMu..

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s