Dukunganmu, Penguatku

Entah sejak kapan, rasanya seringkali minder ketika berkegiatan atau bertemu orang. Mungkin kalau kata anak sekarang mah, “da aku mah apa atuh”.

image

Beberapa orang penting dalam kehidupan saya seringkali mengatakan hal yang sama: “Esa itu punya potensi”. Sayangnya kalimat itu masih abstrak bagi saya. Okey pernah dapat piala di lomba mengarang ketika SD, okey pernah dapat plakat ketika jadi Best Student LIA se-Indonesia, dan penghargaan lain yang (mungkin) membuat orang tua bangga. Tapi apa itu cukup untuk dijadikan gambaran?

Bisa jadi, cukup. Tapi saya sendiri kemudian sangsi. Benarkah ini potensi sy? Lalu bagaimana mengasahnya?

Maka Allah mengirimkan dia, lelaki yang baru saja kukenal. Sebelumnya kami tak kenal secara dekat. Dialah suamiku. Mungkin hanya padanya sy berani bertanya berulang-ulang tentang “kenapa memilihku?” berikut semua kelebihan kekurangan sy yang terkadang sedikit memaksa untuk dijawab hingga sy mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Kemarin, ketika dalam perjalanan untuk menghadiri sebuah rapat organisasi, ada percakapan menarik.
Sa: “menurut Aa, ade bisa bertahan disini ga?”
Suami: “kenapa memangnya?”
Sa: “ya, ade lagi ragu. Apa bisa ade lanjut disini?”
Suami: “ayolah, kalau ade ga bisa berpikir positif -karena memang ga bisa (katanya sedikit bergumam)-, berperasaan positiflah. Ade kan orang feeling, apa-apa pake perasaan. Perasaannya harus positif.”
Sa: “ya, tp menurut Aa ade bisa ga terus disini?”
Suami: “kalau Aa ga yakin, dari awal Aa pasti udah ngelarang ade ikut”.
Percakapan singkat yang dapat membuat saya tersenyum lalu memutuskan untuk tetap mencoba bertahan disini, mengembangkan diri lebih jauh lagi.

Yap, meski sifat kami bertolak belakang 180°, tapi karena bertolak belakang itulah kemudian kami belajar saling melengkapi. Meski sulit dan masih terus belajar, masih banyak clash, tapi kami masih tetap bisa bertahan hingga saat ini. Lebih tepatnya, suami masih tetap sabar bertahan hingga saat ini. 6 Desember 2009-5 Maret 2015. 5 tahun 3 bulan.

Tak ada yang tahu kehidupan lengkap kami berdua selain kami dan Allah. Bahkan keluarga kamipun tak akan mampu mengenali huhungan kami dengan lebih detil karena kami memilih mandiri. Meski hingga saat ini masih merepotkan orang tua dengan menitipkan anak-anak, tapi bukan berarti orang tua saya tahu lebih dalam tentang hubungan kami berdua. Cukuplah jadi cerita bersama. Tentang bagaimana kami saling mendukung dan bagaimana kami saling mempertahankan pendapat.

Dukungannya, sedari awal kami menikah, menjadi penguat saya untuk melangkah. Melanjutkan kuliah (meski akhirnya berhenti di tengah jalan karena beberapa hal), melanjutkan karir dan pekerjaan, memutuskan resign kemudian full di rumah, memutuskan mulai berjualan online, hingga saat ini memutuskan untuk upgrade diri di organisasi ini, semua dengan dukungan darinya. Malah, untuk gabung disini, dialah yang mulai memperkenalkan saya.

Menikah saat ia masih berstatus mahasiswa, hamil saat ia wisuda, menghabiskan tabungan saat ia belum bekerja, membuat saya dulu berpikir “aku loh yang udah dukung kamu”. Memang benar, di awal pernikahan rasanya capek sendiri. Tapi ia lelaki bertanggung jawab. Meski sempat “ditipu” karena gajinya ga dibayar perusahaan, kerja jd marketing yang gajinya sering dipotong, hingga akhirnya kerja cross perusahaan di bidang WWTP tetap ia jalani untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Hal yang sering saya lupa untuk berterima kasih. Bahwa di tengah usaha sy memenuhi kebutuhan kami saat itu, ia juga berusaha malah jauh lebih keras dan sulit dibanding saya yang sudah memiliki pekerjaan tetap.

Semakin kesini, dengan sok saya bilang selalu mendukung semua keputusannya, termasuk saat ia resign dari perusahaan WWTP dan tak betah lama di perusahaan developer kemudian mengambil jalur wirausaha. Tanpa disadari, sebenarnya dukungannya terhadap saya, terutama terhadap pengembangan diri saya, juatrs jauh lebih banyak dari dukungan saya terhadapnya.

Maka kami kemudian memutuskan untuk saling mendukung, untuk terus tumbuh bersama, untuk terus berkembang dan menapaki jalan sukses kami bersama. Untuk diri kami, orang tua kami dan anak-anak kami. Menapaki jalan yang sudah Allah bentangkan, yang semoga dengan berjalan di jalan itu, menjadi penyebab kami sampai pada cinta dan keridhaanNya, melabuhkan diri dan rumah tangga kami di surgaNya..

Terima kasih untuk dukungannya selama ini, A.. Menemani setiap langkah ade. Termasuk dalam setiap fase kehamilan dan proses kelahiran anak-anak kita. Dukunganmu, penguatku.. Semoga Allah menjagamu selalu..

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s