Hijrah Cinta

Memilih menikah dengan seseorang yg belum pernah kita kenal sebelumnya adalah sebuah keputusan yang mungkin dianggap nekat. Tapi percayalah, jika keputusan itu melibatkan Allah maka Ia tak akan membiarkan hambaNya menderita karena keputusan yang tidak tepat. Takdir Allah terhadap seorang muslim selalu baik, dalam berbagai sisi.

image


Malam ini ketika tak sengaja menonton sebuah film berjudul Hijrah Cinta yang ternyata kisah perjalanan hidup alm. Uje (Ustadz Jefri alBuchory).

Hal yang mengharukan adalah kehidupan setelah mereka menikah. Melihat bagaimana perjuangan sang istri membantu suaminya terlepas dari kecanduan narkoba, menemani suaminya dengan sabar, dari yang berantakan menjadi sosok yang membanggakan. Keteguhan hati seorang istri, yang meski awalnya “terpaksa” menikah karena desakan keluarga dan warga tapi ia kemudian mampu mengaplikasikan cintanya di jalan yang luar biasa.

Istri yang semula hanya “nurut” kemudian berubah menjadi lebih tegas. Ketika dokter mengatakan “agar suami ibu terbebas dari ini, ibu harus tega”. Saat suaminya sakau, ia bertarung sekuat tenaga sampai akhirnya berhasil mengikat tubuh sang suami lalu mengguyurnya. Begitu terus. Setiap kali suaminya minta shabu, dia tolak dan dibiarkan sakau. Berat pasti. Dan tentu menyakitkan. Doa selalu ia panjatkan untuk sang suami. Kemudian jerih payahnya membuahkan hasil. Dengan izin dan hidayah Allah, sang suami perlahan berubah.

Menonton film ini seperti mendapat teguran. Betapa saya masih lemah dalam menerima sebaik-baik anugerah cinta, cinta yang halal dan inSyaAllah sudah diridhai Allah karena rasa ini ada dalam sebuah ikatan pernikahan.

Menonton film ini, saya kemudian berkaca. Sudah seberapa kuatkah saya mendekatkan diri pada Allah? Sudah seberapa kuatkah saya mendukung suami? Sudah berapa kuatkah saya menjalani pernikahan ini dan bersama menuju tempat yang lebih baik. Melakukan hijrah cinta, selalu ke tempat yang lebih baik.

Saya sadar, saya belum sesabar sang istri di film itu. Saya pun menyadari bahwa kedekatan saya dengan Allah sudah lama tak terjalin. Rasanya pantas jika kemudian kami masih disini, di jalan yang bahkan kami tidak inginkan.

A, maafkan istrimu ini yang belum bisa sepenuhnya berjalan seiringan bersamamu. Maafkan langkah kita seringkali tak sama arah.

Terima kasih atas cinta dan kesabaranmu selama ini. Kau yang selalu meyakinkanku bahwa “ade pelengkap hidup Aa”. And now I know that you complete me.

Semoga Allah memampukan kita untuk terus menuju arah yang lebih baik, menjadi pribadi yang lebih baik dan bajik. Membangun keluarga yang selalu berada di jalanNya. Semoga Allah memberikan kita ilmu dan kemampuan untuk mendidik dan membesarkan anak-anak bersama. Semoga kita bisa bersama lagi hingga nanti di surgaNya, dalam cinta 🙂

I love u, much more than before..

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s