Shalat Jumat dan Kepercayaan Anak

Mempercayai kemampuan anak seringkali tak mudah dalam perspektif kita sebagai orang tua. Atau kita lebih memilih menunda mempercayai anak ketika ia berusaha meyakinkan kita bahwa ia dapat dipercaya. Sebenarnya bukan kita tidak percaya tapi memang kita masih ragu terhadap janji anak.

image

Dalam hal shalat berjamaah di masjid misalnya. Sedari kecil -karena fitrah keimanannya- anak akan meminta kita untuk membiarkannya turut serta shalat berjamaah di masjid. Hanya saja kita lalu sangsi apakah anak bisa diam.

Di satu sisi, sebenarnya niat kita hanya ingin agar suasana shalat berjamaah di masjid kondusif tanpa terganggu anak yang mungkin malah lari-lari atau takut ngompol dan ketakutan lainnya. Ini sah-sah saja. Tapi kemudian kita harus semakin jeli melihat kesiapan anak diajak belajar berjamaah di masjid setelah sebelumnya sering diberitahukan keutamaan shalat berjamaah di masjid. Bahwa anak laki-laki sudah sepantasnya shalat berjamaah di masjid. Kalau perempuan boleh di rumah. Entah bagaimana cara abinya mengenalkan itu tapi bagi Danisy begitu melekat.

Bapak adalah contoh lelaki yang suka shalat berjamaah di masjid ketika saya dan anak-anak sedang di rumah mamah. Jika beliau ada di rumah, biasanya beliau selalu shalat berjamaah di masjid.

Hari ini, seperti biasa jika memungkinkan untuk pulang, bapak akan memilih shalat jumat di masjid sekitar rumah. Tak disangka Danisy mengajukan ingin ikut shalat jumat dan bapak merespon baik. Usai memandikan anak-anak (anak-anak minta dimandikan sama bapak), bapak meminta Danisy pake baju dan siap-siap shalat jumat sementara nunggu bapak selesai mandi. Selesai bapak mandi dan melihat Danisy sudah siap, bapak memuji Danisy lalu bersiap shalat jumat. Keduanya berangkat ke masjid beberapa waktu sebelum adzan. Masih lama jeda ke adzan zhuhur. Biarlah. Hanya berdoa semoga Danisy baik-baik saja di masjid, ga nyusahin abahnya.

Adzan berkumandang. Duh, sudah lumayan lama.. Shalat Jumat baru akan dimulai, belum khutbah jumat.. ya Allah semoga ga rewek, begitu doa saya saat itu. Waktu pun terus berlalu. Jam 1 siang Danisy baru pulang. Rupanya mereka mampir dulu beli eskrim, janji abahnya sebagai apresiasi terhadap Danisy yang mau shalat jumat.

Semoga semakin terbiasa shalat berjamaah di masjid ya nak. Menjadi pemuda yang memakmurkan masjid. Aamiin.

Love u, Dan..

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s