Pendidikan Berbasis Rumah, Mendidik Dengan Fitrah

Kelas tentang Home Education (HE) pun akhirnya mulai masuk ke pembahasan materi. Bahasan pertama bersama Bapak Harry Santosa yang merupakan praktisi HE sejak 1994. Beliau juga merupakan founder dari Millenial Learning Center (MLC).

image

Dalam pertemuan ini dibahas tentang dasar apa itu HE atau lebih familiar disebut pendidikan berbasis rumah. Pendidikan rumah ini menjadi sebuah keharusan bagi pasangan suami istri mengingat amanah anak diberikan kepada keduanya secara langsung tanpa didelegasikan kepada orang lain. Hal ini pula yang menjadikan kewajiban pendidikan anak ada pada orang tuanya.

HE secara mendasar merupakan sebuah upaya menumbuhkan serta membangkitkan potensi yang sudah secara fitrah ada dalam diri anak. Dengan terpenuhinya hal tersebut, anak akan tumbuh secara maksimal dalam peranannya membangun peradaban di masa mendatang disertai kemuliaan akhlak dan kecintaan akan Allah Tuhannya.

Setiap anak setidaknya terlahir dengan 4 potensi fitrah yang saling mendukung satu sama lain.

1. Potensi Fitrah Keimanan
Potensi ini sebagaimana sering kita dengar baik dari quran maupun hadits. Bahwasanya setiap anak sudah terlahir dalam keadaan bersaksi bahwa Allah Tuhan mereka. Maka cukuplah ini menjadi penguat bagi kita bahwa pada dasarnya setiap anak sudah kenal siapa Tuhan mereka. Perhatikan surah al-a’raf ayat 172 ini.
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

2. Potensi Fitrah Belajar
Perhatikan bagaimana seorang anak semenjak ia terlahir ke dunia hingga usianya saat ini adalah seorang pembelajar sejati.
Sesaat setelah ia lahir, ia belajar mengenali kehidupan barunya. Menyusu, bergerak, mengekspresikan keinginan, berkomunikasi, belajar duduk, merangkak, berdiri hingga berjalan. Tak pernah sekalipun mereka mengeluh dan menyerah.

3. Potensi Fitrah Bakat
Setiap anak yang lahir, sudah Allah tanamkan bakat unik untuk digunakan dalam memaksimalkan perannya kelak. Bakat ini jika diasah dengan baik, ia akan melejitkan diri seseorang ke titik pencapaian terbaiknya.

4. Potensi Fitrah Perkembangan
Fitrah ini mengajak para orang tua untuk tanggap terhadap perkembangan putra-putri mereka mengingat perkembangan masing-masing anak bisa berbeda meskipun berasal dari keluarga yang sama. Selama masih dalam patokan normal tumbuh kembang, maka tak usah memaksakan anak untuk mengikuti perkembangan anak lain. Tuntun saja mereka dengan perlahan untuk menyelesaikan setiap fase perkembangannya.

Dengan berpadu harmoninya keempat fitrah ini, akan muncul sosok yang paripurna. Kurang salah satu saja, sosok itu akan timpang.
Fitrah bakat tanpa fitrah keimanan akan melahirkan sosok berbakat yang kurang berakhlak.
Fitrah keimanan tanpa fitrah bakat akan melahirkan seorang yang paham agama namun kurang bermanfaat.
Fitrah belajar tanpa fitrah keimanan akan melahirkan ilmuwan yang berbuat kerusakan di muka bumi.
Fitrah keimanan tanpa fitrah belajar akan melahirkan generasi agamis namun mandul dan tidak kreatif.
Fitrah belajar tanpa fitrah bakat akan melahirkan pembelajar yang tidak sesuai dengan jati dirinya.
Fitrah bakat tanpa fitrah belajar akan melahirkan orang berbakat tapi tidak kreatif dan inovatif.
Pin ketiga fitrah personal tersebut jika tidak ditumbuhkan sesuai fitrah perkembangannya, maka akan menghasilkan generasi yang tidak matang dan tidak utuh menjadi dirinya.
Fitrah belajar dan fitrah bakat yang tumbuh bersamaan dengan fitrah keimanan melahirkan generasi yg inovatif, produktif dan berakhlak mulia.

Maka kemudian tugas para orang tua merancang pendidikan anak secara seimbang memenuhi keempat fitrah tersebut. Manfaatkan setiap momen sebagai momen belajar. Bangkitkan setiap potensi fitrah tersebut. Pancing rasa ingin tahu anak untuk menyentuh potensi belajarnya, sambut dengan membacakan ayat terkait atau ajak merenungi tentang Allah Sang Pencipta untuk menyentuh potensi fitrah keimanan anak, perhatikan kecenderungannya terhadap sesuatu untuk menyentuh titik potensi fitrah bakatnya dan teliti kemajuan perkembangan anak dari berbagai sisi kemampuan untuk membantu kita bersikap sesuai tahap kembang anak.

Islam memperkenalkan fase pendidikan yang begitu lengkap. Setiap fase diperhatikan begitu teliti. Maka semoga dengan pendidikan yang kuat dari rumah menjadi bekal ketika ia kelak memasuki aqil baligh dimana ia akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri di hadapan masyarakat dan terutama di hadapan Allah.

Maka dengan kuatnya pendidikan anak berbasis rumah ini, anak tumbuh menjadi insan kamil, manusia sempurna yang Allah banggakan sehingga muncul generasi yang hebat.

Semoga Allah menuntun dan menjadikan kita untuk mampu menjalankan amanah ini. Aamiin.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s