Mengukur Dengan Tepat

Membaca tulisan kang Idzma setelah sebelumnya membaca diskusi di grup Home Education Jabar, mengingatkan saya pada sebuah foto dari Rumah Inspirasi yang juga senada.

image


Jika di tulisan kang Idzma bercerita tentang penguin dan camar, dimana orang tua penguin memaksa penguin untuk belajar menjadi seperti camar agar mampu bersaing, sementara di quote Albert Einstein tadi menyiratkan hal serupa.

Betapa banyak diantara kita khawatir anak tidak mampu bersaing dengan temannya hanya karena ia tidak dapat melakukan apa yang temannya mampu lakukan tanpa melihat apa yang mampu anak lakukan yang tidak dapat dilakukan temannya.

Kemudian saya flashback ke masa lalu. Ketika pertama kali Danisy meminta untuk sekolah. Usianya belum genap 3 tahun saat itu dengan kemampuan yang sudah cukup baik menurut saya. Maka setelah menunda sekian lama, saya memutuskan untuk mencarikannya sekolah dengan harapan Danisy bisa lebih baik lagi.

Pertama masuk sekolah, Danisy terlihat kaku tapi ia mengaku senang dan ingin kembali bersekolah keesokan harinya. Pencapaian dan prestasi awal Danisy di sekolah sudah dapat disandingkan dengan kemampuan teman-temannya yang rata-rata berusia 4-5 tahun.

Tapi kemudian kondisi berbalik. Entah mungkin karena kebanyakan murid atau gimana, sang guru lalai dalam mengapresiasi Danisy dan lebih fokus pada pencapaian umum semua murid. Rasanya campur aduk saat itu. Danisy yang ga suka mewarnai tetap harus menjalankan apa yang diberikan. Belum lagi belajar menulis dan membaca. Meski sang guru tidak memaksa Danisy untuk melakukan itu semua, tapi ada beberapa pernyataan yang membuat saya agak mengernyitkan dahi. Mungkin beliau belum paham cara memotivasi dan mengapresiasi anak.

Selang akhir tahun ajaran, saya dan suami mengikuti sebuah seminar parenting sementara Danisy dititipkan di daycare yang disediakan oleh pihak panitia. Awalnya sempat khawatir Danisy ga mau ditinggal karena di sekolah pun ia ingin selalu ditemani, tapi di luar dugaan Danisy justru menikmati kelas itu. Dengan semua kegiatan menyenangkan yang membuat dia mengeluarkan pernyataan “mi, Aa mau sekolah disini ya. Di ibu guru kerudung merah” karena saat itu yang bertanggungjawab atas daycare menggunakan seragam kerudung merah.

Saya hanya tersenyum. Saat saya tanya, rupanya beliau beliau ini guru PAUD juga, hanya saja sekolah tempat mengajar lumayan jauh, di Bojong Soang saat itu. Pertimbangan mengikuti keinginan Danisy pindah sekolah pun harus saya urungkan mengingat Azam masih bayi dan saya pikir akan repot sekali.

Lagi lagi saya salah mengambil langkah. Danisy yang kadung cinta pada daycare itu berulang kali bercerita pada teman dan semua yang ia temui, “Aa mah mau pindah sekolah ke ibu guru kerudung merah” dan seringkali membuatnya enggan berangkat sekolah sehingga tak jarang ketika pernyataan pindah sekolah itu ia sampaikan, ketika itu pula ia dicemooh.

Entah kecewa atau sudah bosan, Danisy tak pernah lagi membicarakan pindah sekolah kecuali dengan sikap enggan berangkat sekolah. Maka saya mencoba mencari alternatif sekolah lain yang jaraknya tidak terlalu jauh. Danisy ga cocok. Ada sekolah yang Danisy cocok, lokasinya jauh sekali dari rumah dan biaya masuknya belum terjangkau bagi kami saat itu. Maka saya memutuskan untuk tidak menyekolahkan Danisy tahun ini.

Beberapa saat tidak sekolah,.Danisy sempat merengek ingin sekolah. “Gapapa sekolah di deket ambu juga” katanya waktu itu. Sekolah yang dimaksud adalah sekolah sebelumya. Hingga saat ini ia masih disana dengan perkembangan yang lumayan. Hanya saja kemudian saya seringkali seperti mengancamnya agar lebih baik dan harus bisa bersaing. Ah, rasanya tamparan sekali saat baca beberapa artikel.

Kenapa sih saya jadi seperti itu? Padahal dulu saya selalu berusaha menyemangati dan percaya bahwa ia bisa tumbuh jadi dirinya sendiri. Melesat jauh sesuai bakatnya. Tapi belakangan seperti menuntut dan malu kalau Danisy tidak mampu bersaing dengan temannya. Ah, rasanya tak pantas saya memaksakan Danisy seperti itu.

Maka kemudian tanpa dinyana, suami tiba-tiba meminta saya untuk memberhentikan Danisy dari sekolahnya. “Daripada nantinya berantakan, mending Aa jangan sekolah dulu aja Mi. Kasihan jadi tak teratur. Khawatir mempengaruhi ke depannya”. Danisy yang saat itu ada bersama kami kemudian bertanya “kenapa Aa ga boleh sekolah lagi mi?” Bukan ga boleh sekolah, tapi rehat dulu supaya abi sm ummi bisa mempersiapkan lebih baik lagi. Kita belajar di rumah lagi aja ya kayak dulu. Sesekali kita belajar di Taman kayak kemarin, jawab saya waktu itu. Danisy hanya tersenyum saat itu.

Keputusan kami mungkin akan menuai berbagai reaksi terutama dari keluarga. Tapi semoga keputusan ini tepat.

Bagaimanapun saya berterima kasih kepada semua pihak baik kepala sekolah, guru maupun orang tua murid di sekolah Danisy terdahulu. Semoga Allah memberikan saya dan suami kesabaran dan ilmu untuk merintis kembali home education bersama kedua anak lelaki saya. Sehingga saya dapat memastikan mampu mengukur dengan tepat bagaimana dan harus seperti apa menyikapi anak-anak. Sehingga keduanya tumbuh secara maksimal menjadi pribadi yang kuat dan tangguh, dengan ilmu yang mumpuni terutama pemahaman kaffah Islam. Aamiin.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s