Menghukum Anak

Seringkali kita tak sabar dengan sikap anak yang “nyeleneh” (dalam kacamata kita) tanpa ber-tabayyun pada anak atas penyebab sikap, tingkah atau sebuah kejadian. Saya pun begitu. Masih harus banyak belajar mengontrol emosi apalagi jika hal tak nyaman itu bukan cuma melibatkan anak kita tapi juga pihak lain, anak lain atau orang tuanya.

image

Tanpa kita sadari kita seringkali kita sok tahu terhadap apa yang kita sebenarnya sadar bahwa anak pasti punya alasan.
Pagi ini ada kejadian yang lumayan bikin kaget. Baru saja kejadian. Saya pikir suara “bruk” itu atap kandang ayam yang jatuh. Setelah cek ke luar ternyata motor yang terguling dan rupanya ada anak yang tertindih. 2 anak. Satu ponakan saya, perempuan. Satu lagi anak tetangga. Kronologisnya saya ga ngerti cuma dari kejadian itu saya menyadari dan coba paham keadaan para ibu dari kedua anak yang “kecelakaan” tersebut. Paham juga tetangga lain dalam bersikap.

Sebagai makhluk sosial kita mungkin tak ingin membuat orang lain terganggu, terluka atau tidak nyaman. Dan tentunya sebagai manusia yang tak sempurna kita juga pasti berbuat salah. Sayangnya, entah kenapa sulit percaya kepada anak kita. Hal ini yang menyebabkan ketika anak bertikai dengan kawannya atau terjadi sesuatu yang buruk, kita akan serta merta menyalahkan anak tanpa bertanya terlebih dahulu bagaimana kronologis kejadiannya. Apalagi jika anak kita sebelumnya sudah membuat “masalah” atau usianya lebih besar dibandingkan anak lain sehingga otomatis kita menganggap temannya adalah korban dari sikap anak kita.

Setelah motor diangkat, ponakan saya disuruh masuk rumah dan tentu ditegur karena sebagai anak yang sudah besar harusnya bisa lebih mengerti. Sementara anak lelaki yang juga tertindih motor, disuruh pulang juga dan tak luput dari kemarahan ibunya. Sebenarnya semua ekspresi sayang dan malu. Sayang pada anak karena khawatir kenapa-kenapa dan malu terhadap sikap anak (yang mungkin sebenarnya wajar). Kalimat kemarahannya sama, “kenapa naik motor”. Padahal motornya sudah distandar 2. Saat mamah menanyakan kejadian itu, saya dan adik jawab seadanya. Tanpa ekspresi mama bilang “si A kan emang ga diem. Kalau naik motor ga diem, digerak-gerakin” jadi istilahnya mama juga ga bisa nyalahin ponakan karena badannya besar dan main di atas motor, tapi bisa jadi si anak lelaki salah juga. Dan bisa jadi posisi motor tidak rata sehingga mudah terguling. Soal siapa yang salah kita tidak tahu pasti. Saat kejadian juga tak ada orang dewasa, hanya anak-anak yang sedang main. Maka jika anak tidak menjawab, mungkin bisa bertanya pada anak lain yang saat itu ada disana. Biasanya mereka jujur.

Saya pernah melakukan kesalahan seperti itu. Karena “tidak enak” dan sebelumnya si sulung sedang bermasalah dengan temannya (saat itu Danisy menangis karena dicakar si teman), maka ketika anak tersebut menangis dan pulang, tanpa bertanya terlebih dahulu saya menegur Danisy. Menanyakan apa yang ia lakukan terhadap temannya. Sementara Danisy yang saat itu mungkin tidak merasa bersalah hanya menjawab “ngga” lalu kemudian diam karena sudah melihat raut muka ibunya yang kadung marah. Saya memaksa ia pulang padahal ia sedang asyik bermain dengan teman yang satunya lagi.

Danisy abai terhadap perintah saya saat itu. Lalu ibu dari teman yang sedang main pun keluar dan menanyakan hal serupa pada anaknya “kenapa temennya tadi nangis?” Lalu anak ini menjawab bahwa tadi temannya itu memaksa begini begitu dan keduanya (Danisy dan teman yang satunya lagi itu) sepakat tidak mengikuti keinginan si anak yang pulang tadi. Duh, betapa malunya saat itu. Sudah menuduh Danisy tanpa bukti. Kemudian saya sendiri paham betapa hati dan harga diri anak terluka saat kita tidak mempercayainya atau menuduhnya.

Kejadian ini seperti tamparan betapa saya sendiri belum bisa dewasa mengelola emosi. Jika anak masih belum bisa mengontrol emosi, perlu kita introspeksi diri. Bisa jadi mereka bertindak karena meniru kita. Lagipula mereka masih anak-anak yang masih terus belajar mengelola emosi. Dan orang tuanya menjadi contoh pertama dan utama. Mereka tidak belajar dari perintah, anjuran dan peringatan yang kita berikan tapi dari tindakan, perkataan dan perilaku kita sehari-hari.

Huft. Peer banget nih soal kontrol emosi. Semoga bisa lebih baik lagi… Aamiin

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s