Ketika Anakku Siap Menikah

Hari ini ada kurir ke rumah mamah, “Esa Puspita?” Tanya sang kurir. Bapak pun beranjak menemui kurir tersebut karena kebetulan sedang ada di luar. Kok tumben. Biasanya kurir dah pada tau, ga nanya lagi. Ah mungkin dia baru bertugas, pikir saya saat itu. Memang saya sedang menunggu beberapa kiriman paket jadi cuek aja.

Ketika paket itu sampai ke tangan saya, kok kecil. Apa jangan-jangan laundry net. Ah tapi masa sekecil itu. Lalu saya lihat nama pengirimnya, wah Bu Hani, dosen ketika di ST Inten dulu. Cling, baru keingetan kalau saya dapat buku dari beliau. Wow keren deh.

image


Punya buku dan dapet tanda tangan dari penulisnya itu rasanya ternyata seru sekali ya. Lebih seru lagi kalau saya jadi penulis juga ya 😀

Ternyata punya kenalan penulis buku jadi kebahagian tersendiri. Pernah ketemu Pak Ersis, kang Eka Wardhana, Kang Abik, teh Ning, dll. Meski cuma beberapa aja yang kenalnya ga cuma sekadar bertemu tapi juga berinteraksi.

Eh lha lok malah ngelantur gini ya. Yang pasti mah makasih ya Bu untuk bukunya. Saya sudah menikah dan sempat nebak-nebak, apa nanti manfaat ya bukunya buat saya? Ah buku kan investasi yang bisa dimanfaatkan kapanpun dimanapun oleh siapapun. Dan ketika membuka daftar isi, taraaaa… di luar dugaan ternyata isinya ga melulu persiapan nikah tapi juga ada bahasan parenting dan couple juga. Waaa ini mah saya juga harus baca.

Menarik. Itu pikiran pertama saya tentang buku ini. Menarik karena bahasan pertamanya justru tentang kewajiban orang tua terhadap anak, baru berlanjut pada waktu menikah yang tepat, ditambah nasihat orang tua kepada anaknya yang akan menikah.

Bagi kalian mojang bujang yang bingung tentang cara berpikir orang tua, mungkin ada baiknya baca buku ini karena di bab 4 mulai dibahas tuh tentang berbagai persiapan menjemput jodoh dan persiapan pranikah, berlanjut ke persiapan walimah.

Pertimbangan berikutnya pasca menikah adalah dimana tempat pasangan baru menikah ini akan tinggal berikut beberapa tips jika kita tinggal bersama orang tua.

Lantas apakah bahasan berhenti di situ? Ternyata tidak. Masih ada 3 bab lagi yang isinya lebih membahas soal pasca ijab kabul dinyatakan sah. Ketiga bab itu yakni Menjalani Pernikahan dengan Sukacita (termasuk tentang anak), Menyikapi Konflik dengan Bijak (termasuk bahasan ipar dan mertua) dan Agar Bahteramu Tidak Oleng.

Buku ini konon dibuat karena bu Hani sendiri saat itu sedang mempersiapkan pernikahan putra beliau, jadi isinya terasa mengena karena memang diambil dan diinspirasi dari kisah nyata beliau sebagai ibu.

Buat yang penasaran sama bukunya, saya gatau harus dibeli dimana tapi sepertinya ada di Gramedia karena ini terbitan Elex Media Komputindo.

*review sekilas setelah baca loncat*

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s