Jangan Iri

Surah An-Nisa, ayat 32:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

image


Tulisan ini masih senada dengan beberapa tulisan yang pernah saya buat. Hanya saja kali ini seperti diingatkan kembali tentang rasa iri kita terhadap orang lain. Rupanya, alQuran sendiri sudah mencatatkan firman Allah yang indah ini. Karena Allah tahu rasa iri itu pasti ada, kemudian Ia.menegaskan melalui kalamNya bahwa kita tak perlu iri terhadap orang lain.

Perbedaan rizki yang kita dapat dan yang orang lain dapatkan adalah murni hak Allah, tapi di ayat tersebut juga dijelaskan lagi bahwa ada alasannya juga dengan usaha seseorang mencapai apa yang ia miliki. Disini ikhtiar, doa dan tawakkal saling melengkapi, dicatatkan dalam satu ayat yang sama.

Maka ketika kita melihat rumput tetangga lebih hijau, ingatlah ayat ini. Bisa jadi kita melihat rumput tetangga lebih hijau karena kita tidak melihat usaha keras tetangga dalam menjaga dan mengurus rumput itu, dan bisa jadi karena kita lalai menjaga dan mengurus rumput kita sendiri sehingga kita terlalu silau dengan kepemilikan orang lain.

Ketika kita merasa jadi orang paling menderita sedunia dan berharap kita adalah mereka yang kita iri terhadapnya, maka ingatlah ayat ini. Bisa jadi kita tidak maksimal berikhtiar, sering lupa berdoa memohon karunia Allah dan lalai terhadap ayat-ayat Allah.

Karena kita tidak pernah tahu seperti apa detil usaha seseorang, sudah seberapa banyak mereka berdoa dan sudah berapa lama mereka bersabar untuk mencapai posisi mereka saat ini. Kita seringkali hanya tahu hasilnya tanpa tahu prosesnya. Dan andaipun tahu prosesnya kita masih saja sering permisif terhadap diri sendiri. Maka setelah ditegur dengan ayat ini,.ada baiknya kita mengevaluasi diri dan kehidupan kita. Sudah se-serius apa kita mengamalkan apa yang sudah Allah tetapkan yang ketetapan itu adalah selalu lebih baik dan lebih paham terhadap fitrah kita sebagai manusia…

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s