Hasil Tes Yang Mengejutkan

Sebelumnya saya pernah menulis tentang sebuah tes sidik jari. Kali ini masih sejalan dengan tulisan tersebut hanya saja ingin menulis ulang dengan pendekatan yang sedikit berbeda.

image


Sebelum tes sidik jari, saya pernah mengikuti sebuah pelatihan yang disana kurang lebih kita diminta mengingat secara reflek, kesukaan dan pencapaian apa yang pernah kita miliki di masa lalu dan membuat kita bahagia sedemikian padahal mungkin tidak terlalu diapresiasi orang lain tapi kita tidak peduli dengan apresiasi mereka. Saat itu saya menuliskan sebuah kata: menulis. Saya senang menuliskan apapun, dan saya pernah mendapat juara harapan saat lomba mengarang tingkat Provinsi Jawa Barat saat itu. Tak ada apresiasi wah dari pihak luar tapi saya begitu bahagia saat itu meski saya tidak mendapatkan apa-apa, bahkan tropi pun tidak diserahkan pada saya melainkan pada sekolah.

Sayangnya saya tidak pernah serius menggarap itu sehingga tak ada satu karya buku pun pernah saya hasilkan. Miris karena masih sering bersikap permisif pada diri sendiri.

Kemudian Allah mempertemukan saya dengan tes sidik jari yang semakin menguatkan bahwa itu adalah bagian yang paling menarik dan saya sukai.

Tes yang hasilnya sungguh mengejutkan saya. Menyadarkan saya bahwa selama ini saya sudah salah meninggalkan dunia yang sebelumnya saya sukai (dan harusnya bisa dimaksimalkan) untuk menjalankan apa yang saat itu saya anggap lebih worthed karena terkait pemasukan yang saya terima. Dan setelah mengingat kembali, saya memang akan bekerja lebih maksimal jika terkait membuat tulisan. Gaji tertinggi yang pernah saya dapat ternyata didapat saat saya menjadi penulis freelance di sebuah situs, dan saat perusahaan tempat saya dulu bekerja meminta saya membuat manual book dalam 2 bahasa (Indonesia Inggris). MaSyaAllah.

Tak harus ikut pelatihannya ataupun tesnya untuk tahu kemampuan maksimal kita dimana. Hanya saja bagi saya, pelatihan dan tes yang saya ikuti semakin menguatkan perkiraan yang selama ini masih saya ragukan.

Yang terpenting bagi kita adalah, mengetahui bakat kita dimana dan asah agar ia lebih tajam kemudian ia mampu berkembang sehingga manfaat yang bisa kita sebar menjadi lebih besar dan lebih maksimal.

Baarakallaahu fiik. Semoga kita bisa bersama menjalankan tugas kita sebagai manusia dengan begitu baik. Memaksimalkan potensi yang sudah Allah berikan sebagai tanda syukur kita atas karunia itu. Aamiin.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s