Hold My Hand

Pernah ada seseorang yang memberikan persaksian di hadapan Umar bin Al-Khathab, maka Umar pun berkata, “Aku tidak mengenalmu, dan tidak me-mudharat-kan engkau meskipun aku tidak mengenalmu. Datangkanlah orang yang mengenalmu.”

Maka ada seseorang dari para hadirin yang berkata, “Aku mengenalnya, wahai Amirul Mukminin.”

Umar berkata, “Dengan apa engkau mengenalnya?”

Orang itu berkata, “Dengan keshalihan dan keutamaannya.”

Umar berkata, “Apakah dia adalah tetangga dekatmu, yang engkau mengetahui kondisinya di malam hari dan di siang hari serta datang dan perginya?”

“Tidak.”

“Apakah dia pernah bermuamalah denganmu berkaitan dengan dirham dan dinar, yang keduanya merupakan indikasi sikap wara’ seseorang?” tanya Umar lagi.

“Tidak.”

Umar berkata lagi:

فَرَفِيْقُكَ فِي السَّفَرِ الَّذِي يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَى مَكَارِمِ الأَخْلاَقِ؟

“Apakah dia pernah menemanimu dalam safar, yang safar merupakan indikasi mulianya akhlak seseorang?”

Orang itu berkata, “Tidak.”

Umar menimpali, “Jika demikian engkau tidak mengenalnya.”

(Atsar ini dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil 8/260 no 2637)

image


Saya pernah mendengar potongan inti dari percakapan Khalifah Umar tsb tp dulu tidak seberapa tahu mengenai landasan/sumbernya. 3 hal yg membuat kita benar-benar mengenal seseorang lebih jauh. Yap, seperti di tulisan sy tempo hari, bahkan hidup satu atap pun masih banyak yg tidak kita kenali. Kita baru sebatas tahu dan sedikit demi sedikit kita belajar mengenali pasangan kita jauh lebih dalam.

Wajar saja jika 5 tahun masih jadi usia untuk kita terus mengenali pasangan kita. Meski jadi tak wajar kalau kita tidak terlalu banyak tahu.

Maka sudah bisa dipastikan orang yang paling mengenal kita saat ini adalah pasangan kita (suami/istri) karena bersama mereka kita menjalani hari.

Pasangan kita adalah ia yang tahu siang dan malam kita, datang dan perginya lengkap dengan akhlak selama awal dan akhirnya. Pun terkait keuangan apalagi keuangan keluarga, sikap dan sifatnya terhadap kekayaan yang dimiliki, tindakan yang diambil terhadap harta tersebut dan hingga cara membagi keuangan untuk berbagai keperluan pribadi maupun nonpribadi, kita sudah saling mengetahui. Poin terakhir adalah melakukan perjalanan bersama yang tentu sudah pasti pernah dilakukan pasangan suami istri.

Dari ketiga poin itu, rasanya semua sudah dilakukan. Alhamdulillah 5 tahun menjalani waktu bersama. Satu atap beda gaya, beda cara berpikir, beda cara pandang tapi kesamaan tujuan menyatukan pasangan suami istri. Ditambah kehadiran anak-anak, 2 anak lelaki yang masih di fase balita, tentu bukan hal yang mudah untuk terus bersama. Suka, duka, marah, nangis, kesel, bete, seneng, bahagia, seru, rame, sepi semua tumplek di keluarga kecil ini. Ya itulah lengkapnya hidup. Dalam hidup kan ada suka duka, ada saat kita seneng, ada saat kita sedih, ada kala ketawa, ada kala kita nangis atau marah. Wajar kan, kita manusia. 2 orang beda watak tapi harus tetep bareng, 2 orang beda sifat tapi harus ketemu tiap hari, pasti ada gesekan. Dan bagi saya kehidupan sudah lengkap. Macam-macam emosi sudah dirasakan dan disikapi bareng. Macam-macam situasi juga sudah pernah dijalani bareng. 5 tahun.. seperti sebentar tapi sudah banyak mengubah kehidupan kami berdua. Ditambah kehadiran anak-anak yang membuat kami berdua harus terus belajar. Belajar tentang hubungan pernikahan, belajar tentang menjadi orang tua, belajar terus menjalankan bisnis, belajar banyak hal yang seringkali harus disesuaikan dulu dengan keadaan keluarga. Menimbang ini dan itu. Mendewasakan masing-masing dari kami.

Anak-anak pun pertama kali akan belajar tentang 3 poin itu dari kami orang tuanya. Belajar menjalankan hidup dalam satu atap beda sifat, belajar tentang bagaimana sikap kita terhadap harta, dan belajar tentang bagaimana safar dengan orang yang berbeda dengan dirinya. Dari sana mereka akan mendapatkan pelajaran penting untuk kehidupan mereka di masa mendatang.

Maka, terima kasih atas 5 tahun ini, A. Atas hari-hari yang sudah dilewati, atas emosi yang semakin diperbaiki, atas semua hal yang terjadi. Terima kasih selalu menyayangi dan menjaga ade dan anak-anak.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah karena Engkau Mahatahu menjodohkan dua orang dalam sebuah pernikahan. Maka takdirMu senantiasa baik andai kami mau mengambil hikmah di balik semuanya.

Thank you for always hold my hand..

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s