Menemani Istri Melahirkan

Ketika proses kelahiran sudah sampai pada titik pertemuan, bagi saya, kehadiran suami adalah sebuah dukungan yang begitu berharga. Hal ini bisa berbeda antar pasangan satu dan yang lain ya tergantung masing-masing. Tapi bagi saya kehadiran suami sudah cukup.

Pengalaman dengan 2 anak, dimanjakan suami menjadi keistimewaan tersendiri. Saat melahirkan anak pertama dan kedua, beliau hadir menemani saya sedari awal masuk rumah sakit/tempat praktek bidan.

Anak pertama kami masih sama-sama belajar. Anak kedua masih belajar juga tapi sudah jauh lebih memiliki ilmu. Jauh lebih tenang dan jauh lebih mampu berkoordinasi.

Anak kami lahir melalui proses kelahiran normal dengan induksi. Anak pertama via vaginal dan infus, sementara anak kedua induksi oral dan suntik. Dua pengalaman yang sebenarnya ga enak sih ya prosesnya tapi didampingi suami serasa dikasih kekuatan yang jauh lebih besar sama Allah untuk melewati prosesnya.

Ekspresi yang hampir sama saya temukan saat anak kami lahir: haru dan air mata. Ya, lelaki itu menitikkan air mata harunya usai kelahiran anak-anaknya. Pucat juga sih karena dia mengawal proses kelahiran anaknya sedari pertama sampe launching 😀

Kecupan di kening dan ucapan terima kasih seperti menjadi obat rasa sakit usai melahirkan selain obat mujarab utamanya: melihat dan memeluk anak yang sudah dilahirkan. Anak yang selama ini hanya bisa dielus kini bisa benar-benar merasakan tubuhnya.
“Setiap kali ade melahirkan anak kita, aa semakin sayang dan ga mau nyakitin ade”. Kalimat itu dilontarkannya saat anak kedua kami lahir. Haru rasanya. Seperti recharge cinta yang dibangun.

Ah, melahirkan itu proses yang luar biasa bagi kami berdua. Proses takjub akan sistem yang Allah ciptakan, takjub dengan rasa sakit yang justru dinanti, takjub dengan hanya melakukan proses IMD, proses jahitan tidak terlalu berasa, takjub dengan semua prosesnya. Takjub dengan apa yang kami alami bersama. SubhanAllah..

Maka jika seandainya kalian mampu, wahai para suami, temanilah proses melahirkan anak-anak kalian karena selain recharge cinta kalian sebagai pasangan, juga recharge cinta kepada kedua orang tua kita terutama ibu. Tapi jika ternyata kalian tak sanggup atau istri lebih memilih ibunya yang menemani proses kelahiran itu, maka cukuplah kehadiran anak menjadi pengingat bahwa kita terikat dalam pernikahan dan kita hadir dari perjuangan kedua orang tua kita 🙂

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-
via WordPress for Android

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s