Tes Sidik Jari

Semula saya ga terlalu tertarik dengan tes sidik jari ketika suami tiba-tiba ngajakin saya menjalani tes itu. Meskipun dulu saya sempet pengen tes sidik jari untuk Danisy.

Jujur, yang pertama kali saya pikirkan, wih duit darimana tes sidik jari berdua dan buat apa. Karena uangnya abis saya pake nalangin belanjaan. Hehehe
Lagipula udah gede gini kok, buat apa coba tes begituan. Itu jawaban saya ketika suami bilang “de, nanti siang kita ke tubagus ya. Tes sidik jari”.

Tapi pikiran saya berubah seketika usai tes dilakukan (ya pada akhirnya ikut tes juga karena suami yang nyuruh dan lagian doi jawab, udah ga usah dipikirin yang penting ikut).


Ternyata dari tes ini kami jadi tahu banyak hal.

Ilmu dasar yang diberitahukan adalah bahwa sidik jari menyimpan data lengkap yang menggambarkan secara keseluruhan otak kita yang juga memberikan informasi bentuk tubuh, perkiraan usia, bentuk wajah, mata dll secara lengkap. MaSyaAllah.. hebat ya Allah menciptakan manusia. Dan semua orang memiliki sidik jari yang unik. Betapa sistem Allah itu hebat. Dari milyaran manusia yang Ia ciptakan, sidik jari selalu unik. Allahu Akbar.

Nah, di tes sidik jari ini, informasi yang diberikan dominan mengenai sifat. Ada sih bahasan fisik tapi hanya menggambarkan secara fisik kita kuat atau lemah di bagian apa. Dengan begitu kita bisa mengukur kemampuan diri juga. Ya ga mutlak sih, tapi kecenderungannya seperti itu. Saya misalnya, paling banter tuh diajak lari maraton, ga bisa sprint. Tapi da buat lari juga kudu dilatih karena saya yang sekarang ngejar anak-anak aja udah hah heh hoh 😀

Dari tes sidik jari ini juga, karena tes barengan (meski diselingi kehebohan anak-anak), kami jadi tau sifat dominan kami seperti apa. Dan hasil tes menunjukkan saya sama suami itu bertolak belakang. Yang satu perasa, yang satu cuek banget alias tiis aka dingin. Pantesan kayaknya sering berantem nih. Wkwkwk

Termasuk di bagian kerja, saya dan suami bertolak belakang. Tapi ada yang bisa disatukan sih. Jadi harus saling mengerti dan mendukung aja.

Penjelasan promotornya juga oke banget. Dari hasil tes ini nanti bisa bercabang lagi ke hubungan di masyarakat, hubungan dengan klien dan tentu saja yang paling seru dan menarik buat ibu ibu: parenting (btw kata parenting kayaknya ga masuk kamus bahasa Inggris ya? Digaris bawah nih pas nulis. Hehe).

Logis sih sebenernya kaitan hasil tes dengan parenting ini. Karena dengan tau dominasi kemampuan anak, kita terbantu untuk memilih sikap dan cara berbeda saat mengasuh dan membesarkan anak. Dengan begitu, maka anak dapat tumbuh lebih maksimal. Ibarat benih, jika kita tau itu benih apa, kita siapkan lingkungan yang cocok dengan benih itu sehingga benih dapat tumbuh dengan maksimal. Benih yang tumbuh di lingkungan yang tak mendukung mungkin akan tetap bisa tumbuh tapi hasilnya kurang maksimal. Maaf ya jika dirasa perumpamaan saya kurang sreg, tapi begitulah saya memahami tes ini.

Dengan adanya pengetahuan tentang skill utama kita dimana, bagi saya semacam pemaafan untuk saya memaklumi diri sendiri kenapa ga bisa ini dan sekaligus menjadi penyemangat untuk saya belajar di jalur yang dirasa lebih tepat. Meski jangan jadi pembenaran juga ya yang bikin kita jadi nyebelin. Karena dari tes itu juga kita tahu kekurangan kita apa. Memang sih saya jadi memaklumi suami dan suami memaklumi saya, tapi lantas kita boleh dong bergerak menjadi lebih baik dengan menekan kekurangan itu agar ga sering muncul. Ibaratnya saya ini sedang mengawinkan beberapa ilmu. Hehehe. Saya terima ilmu sidik jari dari STIFIn.dan menyandingkan dengan ilmu HoPES nya SEFT. Ditambah beberapa pengetahuan tentang NLP dan psikologi yang saya dapat.
Pada dasarnya semua ilmu itu saling mendukung dan semakin takjub dengan pengetahuan yang Allah siapkan untuk manusia. MaSyaAllah..

Sidik jari ini membagi berdasarkan dominasi otak. Ada 5 bagian otak yang dominasi setiap bagian otak itu mempengaruhi kemampuan kita dan nantinya berpengaruh pada gaya belajar, cara bekerja, skill, kemampuan bersosialisasi, komunikasi dan profesi apa yang sebaiknya dijalani.

Oiya ada yang saya lupa. Selain pembagian ke dalam 5 kelompok (berdasarkan dominasi bagian otak), juga ada turunannya: extrovert dan introvert. Kedua turunan ini menjadi variabel lain yang membuat sikap berbeda. Bagi orang yang extrovert, maka ia akan bereaksi jika distimulus. Misalnya, kemampuannya akan muncul jika ada yang memicu kemampuan itu muncul. Orang extrovert cenderung bekerja dengan iming-iming dan penghargaan pencapaian. Ia mungkin bisa bekerja saat diancam tapi hasilnya ga akan se-greget ketika ia diiming-imingi sesuatu yang menarik. Berbeda dengan orang extrovert, orang introvert sudah mampu mengeluarkan kemampuan tanpa distimulus sekalipun. Ia bekerja sesuai caranya sendiri dan akan greget hasilnya dengan tantangan atau ancaman. Bisa saja ia diiming-imingi dengan fasilitas atau hal menarik lainnya, tapi ia akan bekerja lebih seru ketika ia ditantang.

Dari kesemua yang saya catatkan di atas, tak aneh ya jika ternyata hal ini cukup penting untuk diketahui terutama bagi anak. Dengan tahu dominasi yang dimiliki anak, kita bisa lebih selektif bersikap.

Ngomong-ngomong, hasil tesnya kok ga sama ya. Ada beberapa teman yang melakukan tes sidik jari pada anak tapi hasilnya lebih pada dia dominan kinestetik, audio atau visual, atau ngasih tau IQnya berapa. Kalau tes yang saya ikuti ini menjabarkan, kinestetik dsb itu hanyalah salah satu dampak dari pembagian otak itu. Dan soal IQ memang ada hubungannya tapi tidak menjelaskan dengan angka melainkan gambaran IQ tipe ini lebih tinggi dari yang itu, dsb. Dan itu tidak mutlak. Ada istilah naik makra alias naik level juga dimana kekurangan sudah bisa lebih ditekan dan kelebihan (yang kadang jadi kekurangan juga) sudah lebih bisa dikendalikan. Sayangnya kemarin Danisy gamau tes jadi belum tau deh dia kayak gimana.

Idealnya anak tes STIFIn mulai usia 2 tahun karena 0-2 tahun otak masih terus berkembang pesat. Sementara 2 tahun ke atas meskipun masih berkembang tapi sudah lebih matang dan cenderung sudah bisa memperlihatkan informasi yang dibutuhkan untuk tes sidik jari.

Moga pas ngobrol lagi nanti, Danisy mau dites 😀

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-
via WordPress for Android

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s