Cerita ASI Danisy

Nyusuin? Ah biasa. Semua ibu juga bisa.

Iya sih. Memang ga ada yang istimewa dari proses menyusui melainkan ini adalah kegiatan alami dan naluriah seorang ibu. Alhamdulillah saya termasuk ibu yang menikmati kegiatan alamiah ini bersama kedua anak saya dan juga suami tentu saja. Karena tanpa dukungan suami, rasanya kegiatan menyenangkan itu takkan berjalan dengan lebih mudah.


Cerita ASI pertama tentu cerita Danisy. Pengalaman pertama karena anak pertama. Dan justru pengalaman dengan Danisy yang mengantarkan saya pada banyak ilmu tentang banyak hal termasuk tentang ASI.

Danisy lahir dengan proses normal. Sayangnya saat itu ilmu saya tentang IMD rupanya belum lengkap sehingga kesempatan emas itu terlewat begitu saja. Tapi kelahirannya tetap saja kebahagiaan tak terkira tepat di hari raya Idul Adha.

Semalam saja kami di rumah sakit usai kelahirannya. Sesampainya di rumah, aktivitas sebagai ibu benar-benar dimulai. Dan proses menyusui menjadi momen paling menyenangkan ketika pertama kali menjadi ibu.

Menyusui memang alamiah dan natural, sayang karena anggapan inilah seringkali kita absen mencari tau apa yang seharusnya karena rupanya dalam menyusui pun ada hal mendasar yang jika kita mengenalinya maka akan maksimal hasil menyusui.

1 pekan bersama bayi kecil itu penuh perjuangan. Dari menahan rasa sakit bekas jahitan hingga Danisy yang terlampau anteng jadi cenderung susah nyusu. Para orang tua yang sudah termakan iklan susu formula tentu menyarankan hal instan: kasih susu aja. Waktu itu yang dipermasalahkan adalah bentuk puting yang kecil sehingga dianggap membuat bayi susah menyusu. Sementara suami juga kebingungan karena ini sama-sama pengalaman pertama kami sebagai orang tua. Hanya saja saya bersikeras ingin memberikan ASI Eksklusif pada anak yang sudah kami nanti-nantikan itu.

Hingga pada akhirnya tibalah saat kontrol minggu pertama bayi. Rupanya Danisy terkena hyperbilirubine atau yang dikenal masyarakat sebagai “penyakit kuning” sehingga jatuhnya seperti keracunan sehingga lemes banget dan efeknya ya susah bangun makanya ga bisa disusui.
Sebenarnya “penyakit kuning” ini wajar terjadi pada bayi baru lahir karena kemampuan organ yang belum maksimal. Akan tetapi pada beberapa kasus, bayi dengan jumlah bilirubin total tinggi melebihi batas aman (10-12) maka hal ini bisa membahayakan bahkan menyebabkan kerusakan otak permanen jika tidak segera ditangani. Dan Danisy termasuk salah satu yang mengalami itu. Bilirubin totalnya waktu itu 19,3. Dokternya kaget, apalagi saya. Alhamdulillah Allah masih mengizinkan saya bersama Danisy dan ia sehat hingga saat ini.

5 hari Danisy dirawat untuk phototherapy alias disinar. Itu pertama kali saya pumping alias mompa ASI. Alhamdulillah punya temen-temen yang support ASI dan bersedia melapangkan waktu untuk memberikan ilmu tentang “kuning”, bahkan tanpa diminta mereka nelpon saya untuk jelaskan tentang kuning atau sekadar kasih dukungan. Beberapa meluangkan waktu untuk memberikan support langsung dengan datang ke rumah sakit. Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan yang banyak.

Pertama kali pumping pake pompa sederhana yang dijual di apotik dan belakangan saya tau seharusnya itu ga dipake untuk pumping ASI untuk diminum melainkan untuk dibuang ASInya. Alhamdulillah meski begitu Danisy ga kenapa2 😀

Ada nakes oknum yang marah-marahin ortu bayi yang lagi dirawat, nyuruh jangan terlalu sering dikeluarkan untuk disusui. Kasih sufor aja katanya. Aih, ini perawat gatau elmunya apa gimana. Salah satu ibu akhirnya memutuskan ganti sufor padahal hasil pumping ibu itu berkali lipat dari saya. Jika saya sekali perah di awal cuma dapet 10-20ml, ibu itu bisa sampai 90-100ml loh. Ah, sayang dan gemes juga sih sama si perawat.
Alhamdulillah meski ortu juga pada nyuruh kasih sufor, Danisy tetap dapet ASI sampai akhirnya bilirubin totalnya ada di angka 9,8 dan boleh pulang. Legaaa..

Usia 1 bulan karena khawatir ASIP ga cukup, maka saya putuskan bawa Danisy PP Bandung Jakarta untuk urusan pekerjaan. Berikutnya ASIP tetep selalu disediakan agar ia tetap bisa nyusu saat dijemur sama mama atau uwa (alm) sementara saya istirahat sambil merasakan sakitnya bekas jahitan 😀

Bulan ketiga baru beli breastpump, alhamdulillah langsung cocok pake Pigeon manual jadi ga usah beli-beli lagi 😀

Usia 1 tahun saya memutuskan berhenti dari kegiatan luar rumah dan full nemenin Danisy di rumah. No more ASIP. Sounding sapih sudah dimulai tapi ga intens.

Usia 1,5 tahun saya mulai intens sounding untuk sapih. Frekuensi menyusui pun dikurangi perlahan. Usia 22 bulan saya ketauan hamil dah 2 bulan. Hoho. Berjuang lagi deh meyakinkan orang sekitar bahwa kami bertiga (saya, Danisy dan bayi di kandungan) baik-baik saja jadi target sapih di usia 2thn (sebagaimana dianjurkan Allah dlm alQuran, untuk kesempurnaan penyusuan) masih bisa dilanjutkan.

Alhamdulillah akhirnya Danisy berhenti menyusu dengan sendirinya di usia 27 bulan saat usia kandungan 7 bulan. Hampir 9 bulan sounding. Fyuh.. Peran abinya tentu penting dalam proses sapih ini karena beliau yang membantu saya dan Danisy melewati proses WWL (Weaning with Love) alias menyapih dengan cinta. Tanpa paksaan, tanpa pembohongan, tanpa hal negatif. Bahkan kami menghindari betul kalimat “Aa berhenti nenen, nenennya buat dede bayi” karena khawatir ia beranggapan adiknya merebut kenyamanannya.
WWL ini sekaligus mengajarkan anak bahwa ia dapat mengambil keputusan dan kami orang tuanya menghargai keputusan darinya meski ia masih anak kecil.

Semoga bekal kecil ini menjadi bekal baik untuk tumbuh kembangmu menjadi hamba Allah yang taat, nak. Aamiin..

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s