Saya Memang Brokenhome, Trus Kenapa?

Bercerita tentang anak brokenhome rasanya sama saja seperti bercerita tentang hal lain dalam kehidupan kita. Sayangnya, sebagai anak dari keluarga yang tidak lengkap, seringkali tidak banyak pilihan yang dapat dijalani.

Brokenhome bukan sekadar sebutan untuk anak yang kedua orang tuanya berpisah, tapi juga bagi anak-anak yang tumbuh tak seimbang terutama dari segi psikologis. Tak seimbang antara kehadiran peran ayah dan ibu.

Banyak muncul anak brokenhome terkadang bukan hanya karena orang tua itu sendiri, tapi juga lingkungan dan adat sekitar yang seringkali menjebak sebuah keluarga tanpa disadari. Misal, beredar luasnya penanaman pikiran bahwa ayah hanya mencari nafkah dan ibu mengurus rumah dan segala tetek bengeknya dan tentu saja melayani suami tanpa kenal lelah. Sementara kemudian para suami menuntut ini itu termasuk anak yang sempurna. Tak jarang untuk urusan rumah dan anak, istri alias perempuan yang disalahkan. Lalu anak pun tumbuh menjadi sosok yang mengenal ayah sebagai mesin ATM dan ibu sebagai pembantu. Miris.
Saya tidak sedang menggugat persamaan derajat karena pada dasarnya lelaki dan perempuan itu memang berbeda. Hanya saja ada paham-paham yang perlu diluruskan agar meminimalkan munculnya anak brokenhome.

Kembali ke urusan brokenhome, sayangnya masyarakat juga bukannya membantu anak seperti mereka untuk bangkit malah mencemooh. Bukannya mencari solusi malah menghakimi.

Memang, perilaku buruk tetap saja tidak bisa ditolerir. Akan tetapi dengan sikap orang sekitar yang mampu membantu sang anak bangkit, maka tentu akan lebih baik.

“Saya anak brokenhome, trus kenapa?” Mungkin begitu pernyataan yang ingin sekali diucapkan anak-anak yang masa tumbuh kembangnya “abnormal” tak seperti teman-temannya yang lain. Tak lengkap ayah atau ibunya, tak maksimal kebahagiannya, dan malah sering digelayuti perasaan takut dan depresi.

Ketika anak brokenhome berbaur di masyarakat, bisa jadi ia minder. Ketika ia menjalin hubungan, bisa jadi ada rasa takut gagal. Ketika ia menikah, bisa jadi ia trauma atau malah tak bisa diterima.

Bagi anak brokenhome, meski ia terbiasa tumbuh untuk menerima kenyataan dan mencoba menciptakan suasana nyaman sendiri, tapi tak jarang dalam hatinya ia ingin kehidupan yang lebih baik, mencita-citakan pencapaian terbaik yang bisa menjadi pemicu kecewa atau stress jika tak tercapai.

Menghadapi anak brokenhome memang butuh perjuangan. Tapi yakinlah sebenarnya mereka juga ingin berubah, akan tetapi tidak semudah itu bagi mereka untuk membalikkan keadaan dan perasaan. Kondisi buruk selama bertahun-tahun (bahkan hingga belasan atau puluhan tahun) tidak akan berubah hanya dalam waktu sehari dua hari. Tak usah menghakimi masa lalunya karena ia tak pernah merencanakan itu. Tak usah ungkit kenangan buruknya untuk meminta ia berubah, karena ia sendiri tersakiti dengan semua kejadian buruk itu. Tak ada satupun orang yang ingin tumbuh abnormal, tapi terkadang ia tak bisa memilih takdir.

Jika engkau tak mampu membahagiakannya, maka jangan menyakitinya. Jika engkau tak mampu menemaninya, maka jangan engkau mengolok kesendiriannya. Jika engkau tak tahan dengan sikapnya dan menginginkan perubahan, maka sesungguhnya iapun merasakan hal yang sama: muak dan ingin berubah.

Ia memang produk masa lalu. Semua orang pasti produk masa lalu. Jika engkau tak mampu berempati dengan masa lalunya, maka jangan biarkan dirimu bersikap seolah jadi orang paling baik dan dia orang paling sial di dunia ini. Jika engkau bersikap demikian, percayalah ia takkan berubah melainkan semakin jengah dan marah.

Yang ia butuhkan adalah teman. Yang ia butuhkan adalah pengakuan bahwa ia juga manusia yang pantas dan layak disebut manusia sebagaimana orang lain.

Maka jika engkau tak mampu memujinya, janganlah menghinanya. Jika engkau tak mampu menerimanya, maka janganlah mengancam kesendiriannya..

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s