Fase Demi Fase

Danisy sudah 4 tahun sekarang. Saat membicarakan ini, seorang sahabat berkomentar “wah ga kerasa ya udah 4 tahun aja. Rasanya baru kemarin jenguk waktu di RS”. Mm.. iya bener. Rasanya waktu berlari begitu cepat. Satu per satu fase perkembangan pun dilalui.

Ternyata membiarkan anak tumbuh itu butuh keridhaan ya. Ketika dulu ia saya ajak PP Jakarta Bandung demi menyelesaikan pekerjaan (karena masih belum tega ninggalin dia sendiri dan dititipkan ke mama), lalu mulai memaksa diri untuk melepasnya, mengizinkan ia bersama mama dan hanya menyediakan ASI Perah sebisa mungkin dengan target lulus S3 ASI (menyusui hingga 2 tahun).

Menantikan saat MPASI dimulai. Baca sana sini. Alhamdulillah ketika MPASI pertama, pas tanggal merah jadi hari pertama MPASI saya dan suami bisa menemani.

Lanjut di usia 1 tahun sudah mulai mengurangi aktifitas menyusui dan belajar tatur (buang air di jamban). Tak hanya butuh keridhaan tapi juga ketelatenan. Dan di usia ini pula saya memutuskan berhenti dari semua aktifitas di luar rumah dan fokus ke Danisy, apalagi saat itu ia sakit.

Menjelang sapih, rasanya tak tega mengakhiri masa indah menyusui. Tapi harus. Sounding sudah dilakukan jauh-jauh hari. Tantangan beratnya adalah saat saya dinyatakan hamil ketika usianya 22 bulan. Sedikit lagi saja ke sukses S3 ASI.. Seperti ada insting yang membuatnya menjadi manja dan makin nempel. Hingga pada akhirnya alhamdulillah biidznillah, Danisy memutuskan berhenti menyusu di usia 27 bulan, ketika kehamilan saya menginjak usia kandungan 7 bulan. MaSyaAllah.

Fase berikutnya pun dilalui. Fase melepasnya dan membiarkan ia tumbuh dengan “bebas” benar-benar membutuhkan kekuatan yang tak sedikit. Ketika misalnya memutuskan membiarkan ia belajar makan sendiri sedari awal ia memulai MPASI (yang disebut metode BLW), hingga membiarkan ia bereksplorasi sesuka hati (tentu semua dengan pengawasan), rasanya tak mudah. Mencoba memberikan pemahaman dan menyamakan cara didik kami dengan keluarga besar jadi tantangan tersendiri dalam tumbuh kembangnya.

Fase demi fase terus dilewati. Fase tersulit adalah fase melepas. Dimulai fase menyapih, fase ia bermain di luar, hingga fase terbaru: membiarkan ia sekolah sendiri. Kelak akan tiba masanya ia pergi untuk menggapai cita-citanya, pergi untuk berkarya di tempat yang mungkin tak kita duga sebelumnya dengan pencapaian yang luar biasa, atau ketika kemudian ia memutuskan untuk menikah lalu pergi dari sisi kita dan membangun kehidupan baru bersama keluarga kecilnya. Ah, betapa menjadi orang tua itu harus memiliki gudang sabar dan ikhlas yang luas. Bahwa melepas anak memasuki fase demi fase itu benar-benar butuh hati yang ridha sehingga ia dapat melesat menjadi insan mandiri.

Semoga tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi ummat dan memiliki aqidah yang lurus dan keimanan yang kuat. Semoga tumbuh menjadi muslim yang senantiasa mencintai Allah dan Allah mencintaimu, nak.

Tumbuhlah.. Terbanglah..

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s