Pelajaran Malam

Setiap kali melakukan perjalanan di malam hari, rasanya selalu ada pelajaran seru yang dilewati. Bukan berarti perjalanan siang tak berarti, hanya saja saya seringkali melakukan perjalanan di malam hari, sedangkan siang hari dihabiskan di kegiatan “indoor”.

Jika dulu malam hari dilalui sepulang kerja atau kuliah, maka belakangan dilalui usai pulang dari rumah mama atau kegiatan bersama suami dan anak-anak. Sensasinya berbeda tentu saja, seperti halnya latar belakang peristiwa yang dilalui seharian.

Dulu ketika masih bekerja, pulang malam dilakukan saat harus lembur atau ada pekerjaan yang sedang semangat dilakukan. Menyusuri jalanan temaram dan sudah mulai sepi untuk sampai di jalur yang dilalui angkot yang akan saya naiki. Sepanjang berjalan kaki, rasanya seperti sedang membiarkan diri berbicara sendiri saja. Mengajak diri sendiri bercerita bahkan sesekali menangis melepas beban yang menumpuk. Di perjalanan saya masih bisa bertemu dengan supir angkot yang mungkin sudah lelah tapi masih harus “narik” untuk menafkahi diri dan keluarga. Saya mungkin tak selelah beliau.
Sesekali masih ada pengamen yang bertandang ke angkot yang saya naiki, ah.. entah mereka punya tempat pulang atau tidak.

Ketika melewati malam usai kuliah, sering saya melihat seorang bapak paruh baya memikul dagangannya berupa sapu dan beberapa alat rumah tangga. Yang membuat saya takjub adalah bapak itu pincang. Beliau berjalan dengan dibantu tongkat. Malam begini dengan pendapatan yang mungkin tak seberapa. Saya melihat beliau di beberapa tempat berbeda tapi masih satu jalur. Jika saya berjalan kaki sejauh itu sudah pasti sangat lelah. Apalagi bapak itu pincang. Sayangnya saya hanya mampu melihat dari kejauhan.

Malam hari saat sebagian besar orang di rumah berkumpul bersama keluarga, di luar sana masih banyak yang mencoba mengais rejeki meski sedikit, mencoba menyambung hidup meski tertatih. Meski demikian ada pula yang sedang mencoba menawarkan diri pada lelaki yang jelas bukan pasangan sah. Na’udzubillah..

Melewati malam hari yang sunyi, tak jarang saya melihat para tunawisma menggelar dus atau barang serupa sebagai alas untuk mereka tidur, beristirahat dari hiruk pikuk seharian. Bercampur baur entah masih keluarga atau hanya karena merasa senasib sepenanggungan.

Tapi dari mereka kita belajar tentang arti sabar, tawakkal dan perjuangan. Mensyukuri bahwa kita masih jauh lebih beruntung dengan semua yang kita miliki. Saat kita masih punya rumah untuk pulang meski dikejar bayar.. kontrakan. Saat kita punya keluarga yang akan menyambut kepulangan kita dengan sukacita. Saat kita masih bisa menaiki kendaraan sedang yang lain harus berpikir berkali-kali untuk memutuskan berkendara.

Bagaimanapun kita lebih beruntung dengan semua permasalahan yang ada dalam kehidupan kita. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan Engkau dustakan ๐Ÿ™‚

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s