Saya Lelah tapi Tidak Ingin Marah

Pernah ga sih merasa bete, kesel dan marah? Apalagi ketika lelah melanda, rasanya perasaan seperti itu mudah sekali hinggap..

Di tengah kelelahan saya beberapa waktu ke belakang, diguyur kejutan kemudahan dr Allah melalui tangan suami. Meski lelah itu tetap ada, tapi senyum masih bisa terkembang.

Lain halnya dengan kejadian beberapa saat yang lalu yang menjadikan saya begitu kesal. Rasanya ingin marah. Saya sedang lelah, tapi sebisa mungkin saya sedang belajar untuk tidak mudah marah. Sulit. Tapi harus belajar.

Saya yang sedang merasa begitu lelah tiba-tiba menyesalkan keikutsertaan saya dalam sebuah percakapan yang saya yakin tidak disengaja dan mungkin tidak dimaksudkan untuk hal yang negatif.

Saya yang sedang lelah hanya sedikit kesal, kenapa kekesalannya masih saja ada setelah sekian lama terjadi dan saya pun sudah meminta maaf atas kelalaian saya yang benar-benar tidak saya sengaja.

Saya yang sedang lelah pun merasa kesal akan sikap lalai orang lain yang melibatkan saya. Bertambah jengkel karena kejadian itu.

Saya lelah, tapi tak ingin marah. Maka saya hanya memohon maaf lagi jika ternyata masih ada hati yang tak ikhlas menerima kesalahan saya.

Saya lelah tapi tak ingin marah. Maka saya coba diam daripada mengeluarkan kata-kata yang saya tahu akan menyakiti orang lain.

Saya lelah tapi tak ingin marah. Maka saya pilih mundur sejenak untuk menata hati yang terluka. Semata agar bisa melanjutkan perjalanan tanpa pikiran negatif atau perasaan sakit.

Menerima rasa sakit itu tidaklah mudah. Menerima kebodohan diri juga perlu perjuangan. Maka meski lelah saya tak boleh marah apalagi jika orang yang tak bersalah turut jadi korban dari rasa lelah yang melanda.

Maka belajar untuk diam saat ingin berbicara, menahan amarah saat lelah menyerang, menahan kesal saat amarah mencekam adalah sebuah perjuangan berat yang harus ditaklukkan.

Saya tidak boleh hanya mengeluhkan keadaan. Jika memungkinkan untuk hijrah dan mengakhiri jalan, maka akhiri dan hijrah-lah. Jika tidak, maka belajarlah menerima kenyataan dan menata perasaan agar tak lagi bermusuhan dengan keadaan.

Bismillah..

Aisha Azkiya
-Tulisan Mencatatkan Kenangan-

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s