Bernostalgia dengan Sejuta Arif

Dulu, hampir setiap kali denger lagu Sejuta Arif dari EdCoustic ini sy nangis. Bayangin anak-anak pengamen di luar saya, terkadang memikirkan adik lelaki saya yang diam-diam mengamen untuk kebutuhan sekolahnya (memang semenjak resign dan menikah saya mengurangi jatah pemberian ke mamah), dan terkadang memikirkan diri sendiri yang dulu sempat menunda mimpi. Tapi itu masa lalu. Alhamdulillaah semua sudah jauh lebih baik. Meski ijazah yang adik lelaki saya pegang hanya ijazah SMK saja, tapi ia dipercaya oleh atasannya dan dapet kerja sampingan dari orang pajak.. Allah memberikan ganti posisi saya. Jika dulu semua gaji saya sodorkan ke mamah untuk keperluan kami sekeluarga, maka sekarang digantikan adik saya itu. Kami sama-sama menikmati memberikan hasil keringat kami pada kedua orang tua kami. Dari gaji saya yang hanya 300.000 per bulan (karena kerja part time. Itupun dikurangi biaya kuliah) sampai di gaji terakhir sebelum menikah yang nominalnya tidak pernah saya bayangkan sebelumnya bagi seorang dengan ijazah SMA. Maka sekarang, tugas itu beralih ke pundak adik lelaki saya. Hampir dalam setiap diskusi kami (diskusi keluarga dimana semua anggota keluarga berkumpul, jauh dari sebelum sy menikah), saya selalu menitipkan kedua orang tua pada kedua adik saya. Bahwa hidup harus “prihatin” karena kita berasal dari keluarga menengah ke bawah, kita dah sama-sama merasakan sakitnya dihina orang, dikucilkan keluarga hanya karena kita miskin. Maka kuatkanlah untuk menjaga bapak dan mamah. Jangan sampai mereka kalian sakiti. Kuatkanlah tekad untuk hidup yang lebih baik. Perlihatkanlah akhlak yang baik pada siapapun meski mereka menyakiti kita sedemikian rupa. Jaga mamah sama bapak. Cukuplah mereka dihina karena kemiskinan. Buktikanlah bahwa mereka sudah mendidik kita dengan baik. Bahwa Allah tidak pernah melihat seseorang hanya dari kekayaannya. Bahwa kalian yang berasal dari keluarga miskin tapi kalian bisa kuliah dan bisa sukses. Buktikan pada mereka yang pernah menghina dan mengucilkan kita bahwa kita tetap bisa berkarya dengan segala keterbatasan kita. Kemudian satu per satu adik saya bangkit di poin unggulnya tersendiri..

Setelah bertahun-tahun lamanya, saya kembali mendengarkan lagu ini.. Dan lagi air mata menetes.. mengenang masa lalu..

Kata-katamu tak sempat lama kan lampu merah
Cepat kau menepi menghitung kepingan rupiah
Arif tak peduli walau panas hujan menerpa
Untuk sebuah kehidupan

Anak kecil berlarian dibelantara kota
Bernyanyi dengan alat musik sangat sederhana
Arif tak peduli masa kecilnya tlah terampas
Bahkan cita-citamu hampa

Reff :
Sepuluh seratus bahkan seribu
Seratus ribu bahkan sejuta Arif menunggumu
Uluran tanganmu
Demi generasi jauh disana

Pernahkah kau pikir andai kau Arif sebenarnya
Berjuang menepis keangkuhan manusia kota
Arif tak peduli hatinya terbentur prahara
Bahkan cita-citamu hampa

Lagu/lirik : Deden Supriadi

Ah, betapa berjuang untuk sebuah mimpi itu seringkali terasa berat ketika kita menapaki tangga impian itu. Namun ketika kita sampai di tujuan, setiap lelah dan peluh di kala menapaki tanjakan tangga impian menjadi ingatan manis yang mungkin sesekali membuat kita menangis haru nan takjub telah dimampukan Allah melewatinya dan sekaligus bahagia tak terkira.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s