WM vs FTM

Begitulah status seorang teman yang hadir di newsfeed Facebook saya kemarin. Seperti menegur saya juga sih. Kurang lebih statusnya begini “WM vs FTM. Memuakkan”. Saya hanya berkata dalam hati “sepertinya teman saya ini sedang membaca atau mengalami pergolakan atau perdebatan tentang WM (Working Mom/Ibu yang Bekerja) dengan FTM (Full Time Mom/Ibu yang full di rumah atau sering kita sebut IRT). Ah, saya rasa wajar dia bilang “memuakkan”. Perdebatan soal WM dan FTM nampak tak ada habisnya seperti halnya pembahasan Sufor dan ASI. Sebenarnya sederhana saja. Kuncinya toleransi dan empati. Mencoba membayangkan jika seandainya kita ada di posisi orang lain, bagaimana perasaan kita.

Terkadang kita terlalu fokus pada diri sendiri sehingga menyepelekan orang lain. Misal, terlalu menggaungkan jadi IRT supaya bisa fokus pada anak-anak. Benarkah demikian? Benarkah WM ga bisa fokus pada anak-anak mereka? Saya rasa tidak. Saya memiliki teman-teman yang beragam. Ada yang WM ada juga yang FTM. Lalu apakah perhatian dan didikan mereka berpengaruh besar dan akhirnya timpang antara anak-anak dari seorang WM dan seorang FTM? Jawabannya TIDAK. Jika kami terlibat diskusi tentang tumbuh kembang anak, urusan rumah dan lain sebagainya, baik ibu WM dan ibu FTM bisa loh “jawab” dan keduanya luar biasa hebat dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan karena berbaur dengan kedua macam “profesi” inilah saya semakin paham bahwa WM dan FTM semuanya bisa fokus pada anak dari segala hal tapi dengan prioritas dan cara yang tentu saja tidak sama. Jangankan WM dan FTM, sesama WM ataupun sesama FTM pasti cara mereka membesarkan dan mendidik anak-anak serta mengurus keluarganya juga pasti akan berbeda karena setiap keluarga memiliki kehidupan tersendiri dengan tantangan yang juga akan berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Kuncinya ada pada pasangan suami istri yang menjalani itu semua agar bisa bersepakat tentang anak dan rumah tentu saja. Anak-anak akan mudah sekali beradaptasi jika mereka dibiasakan sejak dini dan tentu saja kompak antara suami dan istri sehingga kondisi rumah tetap terkondisikan.

Macam-macam teman mengajarkan saya untuk bertoleransi dengan tidak menganggap sepele orang lain dan tidak minder pada orang lain (ini saya masih belajar sih. Hehe). Ada teman saya yang dia WM dan suaminya kerja di rumah (catat, suaminya di rumah kerjanya). Tahukah anda apa reaksi tetangga? Ada yang paham dan ada.yang tidak sedang menganggap sang suami bekerja melainkan tukar posisi. Suami di rumah dan istri bekerja. Bayangkan jika ini terjadi tanpa kesepakatan suami istri, lama-lama bisa cekcok juga karena termakan omongan orang.
Teman saya yang lain, suami istri bekerja. Tapi masih bisa fokus pada anak-anak dan rumah tangga. Anak-anak tetap merasakan kehadiran orang tua mereka dan mengerti bahwa orang tua mereka harus bekerja. Bahkan seringkali sang anak yang mengingatkan pada kedua orang tuanya tentang pekerjaan mereka.

Ada banyak hal yang tidak dapat kita mengerti secara mendalam karena itu kehidupan pribadi orang lain yang kita hanya tahu luarnya saja. Saya sendiri sering mengaku FTM tapi saya menyadari bahwa saya tetap harus jadi WM, ya WM yang bekerja di rumah. Beberapa teman saya juga ada yang resign karena pergolakan batin. Semua keputusan kan tergantung si ibu dan tentu saja sang ayah berperan juga dalam pengambilan keputusan dengan berbagai pertimbangan. Mau jadi WM atau FTM, tugas pertama dan utama kita adalah menjadi istri dan ibu. Jika tugas itu dapat diselesaikan dengan baik, tidak masalah jika ibu kemudian mengambil tugas lain di luar itu. Jika dirasa repot, ya jadi FTM pun adalah kemuliaan, jangan minder dan jangan mencari-cari kekurangan orang lain karena kita tidak tau persis kehidupan mereka.Bayangkan jika tak ada satupun WM di dunia ini? Bagaimana jika kita butuh tenaga medis perempuan baik itu dokter, perawat atau bagian lab? Bagaimana jika kita butuh petugas pemerintahan perempuan? Sesekali kita butuh pelayan toko perempuan. Suatu saat kita akan butuh pada WM tanpa disadari atau tanpa diduga sebelumnya. Maka catatlah hal-hal seperti itu saat kita akan menuliskan atau membicarakan keburukan seorang WM.

Saya sendiri pernah jadi WM, FTM dan harus menjalankan masa kuliah setelah memiliki anak sehingga saya tau rasanya saat harus meninggalkan anak untuk bekerja, saat harus bawa anak untuk menjalankan tugas ke luar kota karena berbagai pertimbangan, menikmati masa meninggalkan anak untuk kuliah, menikmati bekerja di rumah dengan berbagai tantangannya bersama anak, dan menikmati masa jadi FTM tanpa pekerjaan sama sekali. Bagaimana rasanya? Ya seru seru aja sih. Jadi bisa berempati terhadap orang lain. Dan inilah saya sekarang, seorang ibu yang juga mengelola online shop dan masih terus belajar mengatur waktu dan jadwal. Membagi agenda kapan beresin rumah, urusin anak-anak, ngurusin olshop dan tentu juga urusin suami. Masih banyak keteter mungkin ya.. Dan biidznillah, saya ga akan bisa jalan tanpa dukungan suami, orang tua dan keluarga, dan tentu saja kedua anak lelaki saya tercinta. Anak-anak hebat yang selalu mengerti dan tidak menuntut banyak. Anak-anak yang selalu bisa kompak mendukung gerak saya dan suami ๐Ÿ™‚

Maka hentikanlah perdebatan WM dan FTM karena sesungguhnya perdebatan semacam itu menyakiti harga diri seorang perempuan sebagai istri dan ibu. Karena semua perempuan akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk diri dan keluarganya.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s