Menyusui, Hal yang Menyenangkan dan Akan Dirindukan

Semua ibu sepertinya akan sepakat bahwa masa menyusui adalah masa yang menyenangkan dengan segala tantangannya. Kenapa saya menambahkan kata “tantangan”? Karena setiap ibu menyusui pasti memiliki ujian tersendiri karena seringkali meski “hanya” menyusui pun pelaksanaannya tidaklah mudah. Ada yang lecet, ada masa digigit, ada yang bengkak PDnya, ada saat ASI seret, dan kondisi lain yang akan berbeda antara satu ibu dan lainnya. Belum lagi jika ibu menyusui yang juga beraktifitas di luar rumah semisal bekerja, sekolah atau lainnya, tantangan menyusui ditambah dengan tantangan berburu stok ASI Perah beserta berbagai ornamen yang mengikuti 😀

Tapi meski banyak tantangan, semua ibu pasti akan setuju juga bahwa masa menyusui ini kelak akan dirindukan. Entah mengingat masa perjuangannya ataupun hal seru lainnya seperti saat bertatapan mata dengan si kecil di kala menyusui, saat tangan mungilnya memegang tangan kita dengan lembut ketika menyusu dan hal indah lainnya. Begitu indah, romantis dan menyenangkan. Ibu setuju?

Saya sendiri pernah merindukan suasana menyusui. Ketika itu usia sulung saya 22 bulan, menuju sapih, dan saya ketahuan hamil lagi. Tapi masa menyusui di kala hamil terasa lebih romantis. Saat kakak menyusu dan adik di perut nendang-nendang itu rasanya tak tergantikan. Sulung saya berhenti menyusu dengan sendirinya di usia 27 bulan. Masa menyusui si sulung bukan tanpa tantangan. Di masa awal ia lahir, sulit sekali menyusuinya karena ia sulit dibangunkan yang ternyata itu karena ia tengah mengalami hyperbilirubine atau sering dikenal dengan istilah kuning. Usia 6 hari ia dirawat untuk terapi sinar. Saya cukup sedih ketika itu.. Tantangan baru pun muncul. Dari hasil tanya-tanya, terapi terbaik untuk anak hyperbilirubine ya cuma ASI+phototherapy. Karena sedih, ASI drop. Hasil perah pertama kali hanya 10ml. Teman-teman dan keluarga begitu mendukung sehingga saya mulai bangkit dan ga boleh sedih dan nangis-nangis lagi biar produksi ASI bisa melimpah lagi. Perlahan tapi pasti, hasil perah bertambah banyak. Meski demikian ternyata ga mudah juga ya jika nakes yang menangani tidak pro-ASI karena ada (oknum) perawat yang melakukan “visit” dan menegur kami para ibu agar tidak terlalu sering mengeluarkan bayi dari box terapi agar maksimal. Kalau mau nyusuin, pake sufor aja. Begitu kurang lebih kalimat yang dilontarkan dengan nada agak marah karena ketika itu seorang ibu yang sekamar dengan kami tengah mengeluarkan bayinya untuk disusui. Akhirnya ibu itu beneran kasih sufor padahal hasil perah ASInya sedari awal selalu lebih banyak dari saya. Alasannya ya selain karena (dianggap) kurang memenuhi kebutuhan sang bayi, juga karena dimarahi nakes itu. Nah loh.. Padahal saya sudah berulang kali bilang kalau ASInya pasti mencukupi, yang dibilang nakes-nya cuekin aja untuk urusan sufor.
Sayangnya kemudian keluarga itu memaksa pulang di hari ke-3, saat itu Bilirubine Total (BT) sang anak masih tinggi. BT Danisy 19,8, BT anak itu 19,3. Beda sedikit padahal. Saya sangat menyayangkan sikap nakes-nya yang selain salah memberi informasi, juga karena bersikap kasar terhadap pasien. Padahal kami membayar full bukan menggunakan surat miskin. Ah tapi sudahlah. Mungkin perawat itu sedang lelah.. Dan setiap orang tua memiliki pertimbangan masing-masing.

Alhamdulillaah di hari ke-5 kami sudah bisa pulang, BT si sulung saat itu sudah turun jadi 9,8. Alhamdulillaah..

Saat si sulung lahir, saya sedang berencana melanjutkan lagi kuliah yang tertunda selama kehamilan. Di usia 1 bulan sudah dibawa PP Bandung Jakarta untuk urusan kerjaan juga jadi sudah semakin terbiasa dengan ASI Perah. Alhamdulillaah bisa beres ASI Eksklusif, dan penuh hingga 27 bulan.

Sementara masa menyusui anak kedua hampir ga ada tantangan berarti karena saya sudah full di rumah dan tidak lagi mengalami anak harus dirawat. Lahiran anak kedua saya merasakan takjubnya IMD. Bayi yang baru lahir, diletakkan di perut dan dia perlahan seperti menendang untuk berpijak dan akhirnya sampai di payudara untuk menyusu. Hal yang tidak saya alami saat anak pertama karena saat itu semua terasa heboh ditambah sepertinya saat lahir ada tanda kegawatdaruratan pada bayi mungil itu jadi langsung dilarikan menjauh dari saya. Pas ketemu lagi, usah pake baju 😀
Kalau anak kedua hampir bisa dikatakan saya sangat atau bahkan cenderung terlalu santai. Tapi alhamdulillaah masih ASI sampe sekarang usianya 16 bulan, lulus ASI Eksklusif dan masih akan saya susui hingga 2 tahun nanti insyaallah..

Jadi yuk semangat menyusui. Karena menyusui itu normal. Sepaket dengan bayi dan kelahiran ^_^

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s