Menanamkan Cita-cita Pada Anak, Mengingatkan Kita

Harapan dan mimpi merupakan hal yang penting bagi seseorang. Harapan membuat kita terdorong untuk tetap berusaha dalam sesulit apapun keadaan, bangkit dari setiap keterpurukan. Beberapa menyebut hal tersebut sebagai cita-cita.

Maka penting untuk kita menanamkan cita-cita yang besar dan tinggi pada anak. Harapan dan mimpi yang mendorong anak untuk tetap kuat dalam keadaan yang paling lemah sekalipun.

Saat anak mengucapkan impiannya, maka biarkan saja. Tak usah membatasinya. Dukunglah dengan sepenuh hati dan penuh semangat sehingga saat mereka tengah lemah, kita bisa menggugah kembali semangatnya dengan cita-cita yang ia miliki. Yakinkan anak bahwa setiap masalah ada jalan keluar.
“Ash-Sharĥ”:5 dan 6 – Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Ajarkan anak menghadapi masalahnya. Pada dasarnya setiap anak mampu menyelesaikan sendiri masalahnya, tinggal bagaimana peran kita agar kemampuan itu semakin terasah.

Ceritakanlah kisah orang besar yang sukses dengan mimpi besarnya. Menceritakan mimpi besar ini sekaligus mengingatkan diri akan pentingnya mimpi.

Di saat yang sama, saya diingatkan tentang pentingnya mimpi seorang ibu dan menanamkan mimpi pada anak.

♥Jika suatu saat nanti kau jadi ibu.. Jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya .
Saat itu sang anak masih remaja . Usianya baru 13 tahun .
Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar.

Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.
Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain.
Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an.

Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu.
Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.
♥Jika suatu saat nanti kau jadi ibu… jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah.
Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu.

Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab.
Ia tidak lain adalah Imam Ahmad .
♥Jika suatu saat nanti kau jadi ibu… Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya .
Seperti Ummu Habibah .
Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya .
Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya : “Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu .
Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu . Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya .
Peliharalah keselamatannya,panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin!”. Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i .
♥Jika suatu saat nanti kau jadi ibu.. Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman .
Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu . “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak . “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan .
Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani .
Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.
♥Jika suatu saat nanti kau jadi ibu… Jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses .
Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu .
Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu .
Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri .
Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor .
Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia .
Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.
-Fajri FM-

Dan bacalah kisah bagaimana Rasulullah berhasil membuat para sahabat memiliki impian yang besar..

Adalah kisah tentang Abdullah bin az-Zubair, Mus’ab bin az-Zubair,
Urwah bin az-Zubair dan Abdul Malik bin Marwan ketika mereka masih remaja dan tengah berada di sisi
ka’bah. Ada perbincangan ringan nan
sejuk diantara mereka. Tak lama salah seorang di antara mereka berkata,
“Hendaklah masing-masing dari kita memohon kepada Allah apa yang hendak dia impikan.”
Maka Abdullah bin az-Zubair berkata,
“Impianku, aku ingin menguasai Hijaz dan memegang khilafah.”
Saudaranya, Mus’ab bin Zubeir berkata,
“Kalau aku, aku ingin menguasai dua Irak (Kufah dan Bashrah) sehingga tidak ada orang yang menyaingiku.”
Sedangkan Abdul Malik bin Marwan berkata, “Jika anda berdua hanya puas dengan hal itu saja, maka aku tidak akan puas kecuali menguasai dunia
semuanya dan aku ingin memegang kekhilifahan setelah Muawiyah bin Abi Sufyan.”
Sementara ‘Urwah bin az-Zubair terdiam dan tidak berbicara satu kalimat pun, maka saudara-saudaranya menoleh ke arahnya dan
berkata,
“Apa yang kamu cita-citakan wahai Urwah?”
Dia menjawab, “Mudah-mudahan Allah memberkati kalian semua terhadap apa yang kalian cita-citakan dalam urusan dunia kalian. Sedangkan aku hanya bercita-cita ingin menjadi seorang ‘alim yang ‘amil (mengamalkan ilmunya), orang-orang akan belajar Kitab Rabb, Sunnah Nabi dan hukum-hukum agama mereka kepadaku dan aku mendapatkan
keberuntungan di akhirat dengan ridla Allah dan mendapatkan surga-Nya.”

Waktu pun berlalu, sehingga datanglah masanya Abdullah bin az-Zubair dibai’at menjadi Khalifah setelah kematian Yazid bin Muawiyah (Khalifah ke dua dari khilafah Bani
Umayyah), dan dia pun menguasai kawasan Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan dan Iraq. Kemudian dia
dibunuh di sisi Ka’bah tidak jauh dari tempat dimana dia pernah bercita-cita tentang hal itu.
Dan ternyata Mus’ab bin Az-Zubair pun menguasai pemerintahan Iraq sepeninggal saudaranya, ‘Abdullah namun dia juga dibunuh saat
mempertahankan kekuasaannya tersebut.
Demikian pula, Abdul Malik bin Marwan memangku jabatan Khalifah setelah ayahnya wafat, dan di
tangannya kaum Muslim bersatu setelah pembunuhan terhadap ‘Abdullah bin az-Zubair dan saudaranya, Mus’ab di tangan pasukan-pasukannya.
Kemudian dia menjadi penguasa terbesar di dunia pada zamannya.
Lalu bagaimana dengan ‘Urwah bin Az-Zubair? Beliau menjadi Ahli Fiqh Madinah yang terkenal di zamannnya.

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s